Menikmati Sunrise di Bukit Sikunir
Menikmati sunrise yang tertutup awan di Bukit Sikunir, Dieng. (Foto: Haluan.co)

WONOSOBO, HALUAN.CO - Bukit Sikunir menjadi tujuan utama wisatawan yang ingin menikmati pemandangan sunrise (matahari terbit) di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.

Untuk mencapai puncak Bukit Sikunir, membutuhkan perjuangan yang cukup berat. Semua kendaraan hanya sampai bi bibir bukit dan selanjutnya harus berjalan kaki kurang lebih 800 meter menaiki tangga dari batu yang cukup menanjak lebih.

Kelelahan untuk mendaki puncak Bukit Sikunir tentu akan terobati jika pemandangan sunrise tampak terlihat dengan sempurna.

Namun tak jarang pula membuahkan kekecawaan karena sunrise yang mau dilihat tertutup awan.

Seperti pada Senin (23/12/2019) pagi, ribuan orang yang memadati puncak Bukit Sikunir harus menelan kekecewaan, karena pemandangan sunrise tidak muncul dengan sempurna karena tertutup awan.


Bukit Sikunir adalah salah satu titik lokasi untuk bisa melihat sunrise di dataran tinggi Dieng. Bukit ini berada pada ketinggian 2.263 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Satu-satu akses jalan untuk menuju Bukit Sikunir ini hanya melewati Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Wonosobo.

Desa Sembungan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Bahkan orang lebih banyak menyebut Desa Sikunir karena lokasinya berada di kaki Bukit Sikunir.

Bagi rombongan besar dengan menggunakan kendaraan bus besar yang ingin menikmati sunrise di Bukit Sikunir tidak bisa bisa langsung ke lokasi.

Mereka harus transit di Wonosobo dan selanjutnya menggunakan bus kecil karena jalan yang membelah Desa Sembungan menuju Bibir Bukit Sikunir lebih kurang 4 meter.

"Mereka yang menggunakan bus besar harus transit di Wonosobo dan ke sini mereka menggunakan bus kecil. Jarak tempunya lebih kurang 25 km," jelas seorang warga Desa Sembungan kepada Haluan.co.

Bagi penggunakan mobil pribadi bisa langsung ke kaki Bukit Sikunir. Areal parkir kendaraan kecil tersedia cukup luas.


Dampak Ekonomi

Banyaknya wisatawan yang ingin menikmati sunrise di Bukit Sikunir ini, tentu saja membawa dampak ekonomi bagi Desa Sembungan dan masyarakat setempat.

Setiap wisatawan dipungut retribusi Rp10 ribu. Pemungutan retribusi itu dilakukan ketika memasuki Desa Sembungan.

Karcis retribusi itu dikeluarkan pihak Perhutani tapi hasilnya dibagi buat petugas dan kas desa.

"Kalau karcis retribusi di keluarkan Perhutani, tapi hasilnya dibagi-bagi. Ada buat Perhutani, kas desa dan petugas retribusi. Semua petugas warga sini," kata warga Desa Sembungan itu.

Kemudian dalam penerimaan kas Desa Sembungan yang dipajang juga menyebutkan bahwa salah satunya penerimaan dari parkir kendaraan.

Keberadaan Bukit Sikunir juga juga berdampak ekonomi langung bagi warga desa setempat.

Bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi, bisa menginap di homestay milik masyarakat desa tersebut.

"Semua homestay miliki warga di sini, gak ada milik orang luar. Kalau hari libur selalu penuh. Kalau nginap di sini untuk hari libur harus dipesan jauh-jauh hari," jelas warga desa Sembungan itu.

Bukan itu saja, warga Desa Sembungan juga menyediakan jasa ojek sepeda motor bagi wisatawan. Uang jasanya pun relatif murah. Jika penumpang satu orang dikenakan biaya Rp10 ribu dan dua penumpang Rp15 ribu.

Bagi wisatawan yang nginap di homestay tidak perlu repot-repot menggunakan kendaraan. Cukup menggunakan ojek motor yang sudah hilir mudik sejak dinihari.

Turun dari Bukit Sikunir setelah menikmati sunrise, di kaki bukit itu sudah tersedia warung kopi milik warga setempat dengan menyajikan kuliner khas dari kentang. Karena Desa Sembungan terkenal sebagai daerah penghasil kentang.

Bagi anda yang berwisata ke Dieng, tentu bukan saja menikmat sunrise dan pemandangan alam yang indah, tapi juda destinasi wisata lainnya, seperti sejumlah telaga dan candi.