Menilik Sejarah UGM, Universitas Pertama yang Didirikan Pemerintah RI
Kampus UGM di Bulaksumur, Yogyakarta. (FOTO: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Hari ini pada 70 tahun silam, tepatnya 19 Desember 1949, Universitas Gajah Mada (UGM) yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didirikan. UGM adalah universitas pertama yang didirikan pemerintah Republik Indonesia setelah Indonesia merdeka.

UGM menjadi kampus yang lahir dari kancah perjuangan revolusi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Saat UGM didirikan, Belanda sedang berusaha untuk menguasai Indonesia lagi setelah kekalahan Jepang. Belanda saat itu melakukan berbagai upaya untuk menguasai Indonesia usai Netherlands Indies Civil Administrasion (NICA) mendarat di Jakarta bersama dengan kapal sekutunya.

Belanda berusaha merongrong kemerdekaan Indonesia melalui perjanjian dan agresi militer. Selama kurun waktu tahun 1940 hingga 1949, terjadi dua kali agresi militer, yakni tahun 1947 dan 1948, dan beberapa kali penandatanganan perjanjian mulai dari Perjanjian Linggarjati hingga Konferensi Meja Bundar.

Dilansir dari laman resmi ugm.ac.id, UGM yang didirikan pada awal kemerdekaan itu didaulat sebagai Balai Nasional Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan bagi penyelenggaraan pendidikan tinggi nasional.

Berdiri dengan nama Universitas Negeri Gadjah Mada, perguruan tinggi ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah tinggi yang telah lebih dulu didirikan, di antaranya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, Sekolah Tinggi Teknik, dan Akademi Ilmu Politik yang terletak di Yogyakarta.

Selain itu juga ada Balai Pendidikan Ahli Hukum di Solo, serta Perguruan Tinggi Kedokteran Bagian Praklinis di Klaten, yang disahkan dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949 tentang Peraturan Penggabungan Perguruan Tinggi menjadi Universiteit.

Meski Peraturan Pemerintah yang menjadi pijakan berdirinya UGM tertanggal 16 Desember 1949, tanggal 19 Desember menjadi tanggal yang diperingati sebagai hari ulang tahun UGM karena lekat dengan peristiwa bersejarah bagi Bangsa Indonesia.

Nama Gadjah Mada juga memiliki makna tersendiri, mengandung semangat serta teladan Mahapatih Gadjah Mada yang berhasil mempersatukan nusantara.

Teladan ini diterjemahkan ke dalam rumusan jati diri UGM sebagai universitas nasional, universitas perjuangan, universitas Pancasila, universitas kerakyatan dan universitas pusat kebudayaan.

Pada awal pendiriannya, UGM memiliki 6 fakultas, yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Sastra dan Filsafat, Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan. Kegiatan perkuliahan masa itu dilakukan di Sitinggil dan Pagelaran, dengan memanfaatkan ruangan-ruangan kamar dan fasilitas di lingkungan Kraton Yogyakarta.

Baru pada tahun 1951, pembangunan fisik kampus Bulaksumur dimulai, dan memasuki dekade 1960-an UGM sudah memiliki berbagai fasilitas seperti rumah sakit, pemancar radio, serta sarana lain yang mendukung proses pembelajaran bagi mahasiswa juga untuk melayani kepentingan masyarakat.

Kini, UGM memiliki 18 fakultas, satu sekolah pascasarjana, serta satu sekolah vokasi dengan puluhan program studi.

Pada 2017 lalu, UGM dinobatkan sebagai universitas nomor satu di Indonesia oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Kampus Bulaksumur itu berhasil mengalahkan Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Indonesia (UI).

Selain beragam prestasi yang telah diraih, UGM juga sudah banyak menghasilkan alumni yang menjadi tokoh penting di negeri ini, mulai dari sastrawan, gubernur, menteri hingga presiden.

Sejumlah alumni UGM di antaranya yakni Presiden Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menkopolhukam Mahfud MD.

Selain itu juga ada sejumlah sastrawan kondang Indonesia yang merupakan alumni UGM, di antaranya WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya dan sederet nama-nama penting lainnya di Indonesia.