Menjadi Tua di Tengah Korona
Lansia kelompok paling rentan saat isolasi dan lockdown (Ilustrasi: Haluan.co)

Pemerintah Indonesia sementara itu, terkesan menyepelekan kasus ini. Dilihat dari berbagai pernyataan menteri-menteri yang ada. Menteri Terawan misalnya pernah membuat pernyataan meminta masyarakat enjoy aja menghadapi virus corona. 

UMBERTO Domenico Ferrari mungkin tak pernah menyangka, di hari tuanya, ia masih harus turun ke jalan memprotes pembayaran uang penisun. Italia setelah perang dunia kedua, menjadi negara yang rapuh dan getir. Negara tak mampu membayar uang pensiun, orang mesti bekerja ganda untuk bisa hidup, uang sewa naik, dan mereka yang tak mampu membayar mesti angkat kaki, tak peduli siapapun orangnya.

Film neorealis Italia karya Vittorio De Sica melahirkan polemik di Italia setelah rilis pada 1952. Film ini dianggap mencoreng muka negara yang sedang berusaha bangkit setelah perang. Giulio Andreotti propagandis Partai Kristen Demokratik Italia saat itu, menulis kritik pedas di majalah mingguan Libertà, menyebut De Sica “mencuci linen kotor di muka umum” dan membuat “wajah Italia buruk” di dunia internasional.

Hari ini gambaran krisis yang ada dalam film Umberto D bisa dilihat dari respon pemerintah saat krisis pandemi Corona terjadi. Banyak kritik yang diberikan kepada pemerintah Republik Indonesia yang dinilai lambat menangani Corona.

Semenjak muncul pada Desember 2019, kasus penularan dan kematian akibat Corona terus meningkat. Negara tetangga seperti Singapura telah mempersiapkan diri dengan baik, sehingga saat kasus pertama terjadi pada Februari 2020, mereka bisa menekan angka kematian hingga paling minimal.

Pemerintah Indonesia sementara itu, terkesan menyepelekan kasus ini. Dilihat dari berbagai pernyataan menteri-menteri yang ada. Menteri Terawan misalnya pernah membuat pernyataan meminta masyarakat enjoy aja menghadapi virus corona.

"Dari 1,4 milyar penduduk sana ya paling 2 ribuan (yang terkena virus corona). (Sebanyak) 2 ribu dari 1,4 milyar itu kan kayak apa. Karena itu pencegahannya jangan panik, jangan resah. Enjoy saja, makan yang cukup," kata Terawan di kantor Kemenhub Januari lalu.


View this post on Instagram

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengomeli para wartawan yang menggunakan masker saat menggelar konferensi pers di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, 2 Maret lalu. . Menurutnya masker baiknya digunakan oleh mereka yang sakit. Jika sehat, tidak perlu memakai masker. . Menariknya Senin (23/3) kemarin, saat mendampingi Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, Terawan memakai masker, lengkap dengan sarung tangan. Mereka menyambut kedatangan Personel TNI yang sebelumnya diterbangkan dengan pesawat Hercules TNI AU dari Shanghai. . Mungkin pak menkes berubah pikiran ~ . . Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitikcom | @teknologi_id | @row.id | @neuronchannel | @hipotesamedia . . #haluanmediagroup #haluandotco #haluan #beritahariini #beritanasional #viral #trending #heboh #coronavirus #waspadacorona #dirumahaja #haluanupdatecorona #janganpanikhadapicorona #bersatucekalcorona

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Atau pernyataan Menteri Perhubungan Budi Karya yang menyebut bahwa orang Indonesia kebal Corona karena gemar makan nasi kuning. Jelas selama beberapa bulan terakhir tidak ada persiapan atau kewaspadaan menghadapi virus ini.Hingga 27 Maret 2020 pukul 15.30 WIB perkembangan Corona di Indonesia telah mencapai 1.046 kasus. Dari jumlah kasus yang telah dikonfirmasi tersebut, 87 orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara, 46 pasien telah dinyatakan sembuh.

Sejauh ini berdasarkan riset yang ada, mereka yang berusia di atas 80 tahun dengan riwayat penyakit kronik adalah yang paling rapuh dalam menghadapi pandemi, dengan rata-rata kematian mencapai 15 persen.

Kelompok lansia perlu menjadi prioritas dalam perlindungan, perawatan, dan perhatian dalam pandemi kali ini. Mereka yang berusia di atas 80 tahun sangat bergantung pada orang lain untuk bisa bertahan hidup. Mulai dari pencegahan penularan sampai juga penanganan jika mereka positif terjangkit Corona. Sejauh ini penyakit kronik menjadi satu satunya penjelasan mengapa kelompok lansia menjadi yang paling tinggi tingkat kematiannya.

Tapi ancaman kematian karena virus Corona bukan satu-satunya yang perlu kita waspadai. Sebuah artikel di Newyorker menunjukkan bahwa kesepian saat Corona bisa menjadi pembunuh yang lain. Selama Corona terjadi banyak orang yang melakukan isolasi diri. Jika isolasi dilakukan sendiri dan terus menerus, risiko kesepian bisa membuat orang menjadi rentan.

Sebuah studi dari Florida State University College of Medicine menunjukkan bahwa kesepian yang berlangsung terus menerus ancamannya setara dengan merokok 15 batang sehari. Kondisi ini bisa membuat seseorang mengembangkan penyakit cardiovaskular, stroke, obesitas dan kematian prematur. Kesepian juga membuat seseorang berisiko 40 persen lebih tinggi mengalami demensia.

Tidak hanya penyakit dan juga berbagai ancaman kesehatan, kesepian juga membuat seseorang mengalami depresi klinis. Seseorang yang hidup sendiri atau mengalami kesepian selama dua minggu berturut-turut, berisiko mengalami gangguan depresi major. Sintomnya seperti mood yang buruk, kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang membuatnya bahagia, rasa bersalah, lemas, masalah konsentrasi, kehilangan selera makan, berat badan menurun, dan susah tidur.



View this post on Instagram

Menua merupakan periode transisional ketika seseorang mengalami perubahan tidak hanya masalah kesehatan fisik, tetapi juga dalam peran sosial dalam hidupnya. Seseorang yang pada masa tuanya kesepian dalam isolasi beresiko lebih tinggi mengalami penurunan kesehatan fisik maupun mental. . Para lansia mengalami beban ganda, sebagai pasien dan sebagai bagian dari masyarakat. Mereka yang hidup dalam keterasingan dan kesendirian berpotensi lebih tinggi mengalami depresi dan penurunan kualitas hidup. Melhat kondisi saat ini dimana banyak pasien COVID-19 adalah lansia, apa saja yang bisa kita persiapkan selama masa isolasi? . Berikut #infografis tentang ancaman apa saja yang akan datang terhadap kesehatan seseorang di lanjut usia (lansia) bila terisolasi jauh dari sosialisasi. . . Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitikcom | @teknologi_id | @row.id | @neuronchannel | @hipotesamedia . . #haluanmediagroup #haluandotco #haluan #beritahariini #beritanasional #healthy #infographic #lansia #orangtua #information #isolation

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Semua resiko itu meningkat bagi mereka yang berusia lanjut. Lansia memiliki kemungkinan 59 persen lebih tinggi mengalami penurunan kesehatan fisik dan mental jika kesepian. Tubuh mereka akan semakin rentan karena hidup sendiri dan akan memburuk jika tidak segera ditangani. Riset lain menyebutkan bahwa lansia yang kehilangan pasangannya, memiliki kemungkinan 2,6 kali lebih tinggi meninggal 30 hari setelah pasangannya. Fenomena ini disebut sebagai broken heart syndrom dan di masa pandemi seperti saat ini, risiko itu jelas sangat menakutkan.

Lansia yang tidak memiliki pasangan atau keluarga sangat rentan memiliki perasaan kesepian. Pelan-pelan peran mereka dalam masyarakat dan keluarga mengecil. Hingga pada akhirnya mereka menjadi lumpuh dan merasa tak berguna. Hal ini sangat mempengaruhi kondisi mental para lansia ketika mereka sakit.

Para lansia yang berusia di atas 80 tahun dan memiliki penyakit kronik menganggap dirinya beban. Rasa takut, cemas, dan kesepian membuat kondisi tubuh lansia semakin melemah.

Inisiatif penting memerangi kesepian di kalangan lansia banyak dilakukan di negara-negara maju seperti Kanada, Inggris, dan Jepang. Di Inggris dan Jepang angka kematian karena kesepian di kalangan lansia demikian tinggi.

Kampanye End Loneliness di Inggris berusaha memberikan kesempatan bagi lansia untuk bisa berinteraksi dengan anak-anak kecil. Kampanye ini bertujuan untuk memberikan semangat dan membangun kembali relasi sosial para lansia. Namun saat ini karena adanya Corona membatasi pertemuan fisik.

Lalu bagaimana di Indonesia saat ini? Jika Anda memiliki keluarga lansia, hal yang bisa kita lakukan adalah sering-sering berkomunikasi. Di masa pandemi, Anda tetap bisa berkomunikasi melalui teknologi, atau menjaga jarak aman. Memberikan semangat, berbagi cerita, dan memberikan perasaan bahwa mereka ada, mereka bukan beban, adalah kondisi ideal. Mencegah Corona dengan menjaga kesehatan diri dan melakukan physical distancing memang penting, tapi tak ada yang ingin sendirian di masa krisis. Apalagi orang tua.


Jika Anda susah membayangkan bagaimana kesepian mempengaruhi orang tua, film Umberto D dapat membantu - Arman Dhani

Gambaran kehidupan lansia pensiunan yang kesepian dan berusaha bertahan hidup sendiri. Belajar dari film itu dan kondisi saat ini, kita harus mulai peduli dengan orang-orang tua di sekitar kita.

Tidak ada yang ingin sendirian menghadapi krisis dan tragedi. Seorang kawan, rekan, teman, sahabat, bisa sangat berarti bagi para lansia ini. Ayo berikan rasa aman dan perasaan tenang bahwa orang tua di sekitar kita bukan beban.


Penulis: Arman Dhani


0 Komentar