Menkop Harap Warung Tradisional Tak Tergilas oleh Ritel Modern
Menkop Teten Masduki dalam acara Gebyar 10.000 Warung. (Foto: Dok. Kemenkop)

JAKARTA, HALUAN.CO - Warung-warung tradisional didorong untuk tetap survive, eksis dan tidak tergilas oleh bisnis ritel modern yang kian menjamur. Bila perlu, warung tradisional diharapkan bisa naik kelas dengan memanfaatkan teknologi.

Hal itu disampaikan Menkop dan UKM Teten Masduki saat meresmikan Gebyar 10.000 Warung yang diinisiasi komunitas Sahabat Ekonomi Rakyat (SAHARA) dan Induk Koperasi Wanita Indonesia (INKOWAPI).

"Warung sebagai pengerak ekonomi di lapisan bawah masyarakat, tumbuh dengan pesat. Data BPS menunjukkan kini ada 3,5 juta warung dibanding 2015 yang masih 1.868.217 warung," kata Teten dalam keterangannya, Senin (16/12/2019).

"Ini bisa terjadi karena ketika sektor formal tak mampu menyerap tenaga kerja, maka membuka warung menjadi salah satu pilihan paling mudah," sambungnya.

Menurut Teten, banyak warung tradisional yang tutup karena tak mampu bersaing dengan bersaing dengan ritel modern. Disamping itu juga banyak keterbatasan.

Padahal, kata Teten, warung sebenarnya punya banyak keunggulan, misalnya bisa buka 24 jam, atau bisa menjual produk UMKM di sekitar warung.

"Kelebihan-kelebihan ini yang harus dijadikan unsur pembeda sehingga warung tersebut bisa survive," imbuhnya.

Bagi Teten, tantangan eksistensi warung tradisional tidak hanya aspek modernisasi saja, namun juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memasuki era revolusi industri 4.0 dimana warung tradisional juga perlu menerapkan digitalisasi.

"Jika tantangan-tantangan ini bisa dilewati maka warung-warung tradisional ini bisa berkembang dan naik kelas, misalnya tenaga kerjanya bertambah atau omsetnya naik," ucap dia.

Bagaimanapun, warung tradisional tidak bisa berkutat di lapisan paling bawah saja atau di level mikro. Pasalnya, hal ini bisa membahayakan, karena usaha mikro akan makin bertumpuk di level paling bawah, dan struktur ekonomi menjadi tidak sehat.

"Harus ada warung- warung tradisional yang naik kelas dan mengisi level usaha kecil maupun menengah," tegasnya.

Selain itu, lanjut Teten, di tengah ekonomi lesu yang prediksi bakal berlangsung hingga tahun depan, penguatan jejaring ekonomi masyarakat menjadi penting. Terutama dalam menjamin daya beli masyarakat dan tenaga kerja, salah satunya dari keberadaan warung.

"Warung-warung yang ada saat ini, bisa menjadi jaringan distribusi pangan dari Bulog misalnya, sehingga efektif dalam menjaga inflasi bahan pokok," kata Teten.

Teten memastikan, pemerintah akan mengantisipasi masalah pembiayaan yang selama ini menjadi kendala UMKM.

"Selama ini yang menjadi problem utama adalah pembiayaan, dan pemerintah sudah menyiapkan skim pembiayaan di tiap level. Misalnya warung di level mikro sudah banyak disediakan pembiayaan mikro seperti Mekaar dan UlaaM, dari Permodalan Nasional Madani (PNM), lalu dari PIP (Pusat Investasi Pemerintah) ada pembiayaan Ultra Mikro (UMi). Selain itu juga ada KUR 2020 dengan bunga 6 persen dan plafon terendah tanpa agunan Rp 50 juta. Juga ada BLU yang sebanyak total Rp 30 triliun di beberapa Kementerian, termasuk di kami ada LPDB akan membantu pembiayaan bagi usaha mikro termasuk warung," sebutnya.

Selain pembiayaan, Kementerian akan mencoba membantu lewat aplikasi. "Saat ini juga sudah banyak perusahaan e-commerce yang punya ide aplikasi yang memungkinkan warung punya suplai bahan dr pabrik sehingga dari segi harga bisa bersaing. Karena banyak warung mati lantaran tak bisa bersaing dengan ritel modern, baik dari sisi kenyamaan, barang dijual dan harga," tukasnya.