Menolak Lupa! Museum HAM Munir Mulai Dibangun di Kota Batu
Aktivis HAM Munir Said Thalib. (FOTO: Wikipedia)

MALANG, HALUAN.CO - Sosok Munir Said Thalib tak pernah berhenti dikenang oleh keluarga, kerabat, dan orang-orang yang mengaguminya. Semangat menolak lupa terhadap aktivis hak asasi manusia (HAM) itu seakan terus bergelora, terutama di kota asalnya, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. 

Semangat itu diwujudkan mulai dari membuat patung Munir, jalan Munir dan berbagai hal untuk mengingat perjuangannya.

Hari ini, Minggu (8/12/2019), tepat di hari ulang tahun kelahirannya, pembangunan Museum HAM Munir mulai dilakukan di Kota Batu Malang. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menganggarkan dana Rp10 miliar untuk pembangunan tersebut.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan, langkah untuk membangun Museum HAM Munir merupakan bentuk dari komitmen bersama dalam membangun kebersamaan, serta melindungi dan menjaga HAM masyarakat Indonesia.

"Hal tersebut merupakan prinsip universal kemanusiaan yang harus terus kita diseminasikan," kata Khofifah dilansir dari Antara, Minggu (8/12/2019).

Museum HAM Munir dibangun di lahan dengan luas 2.200 meter persegi dan berada di atas tanah milik Pemerintah Kota Batu. Pembangungan tersebut, membutuhkan biaya kurang lebih Rp10 miliar, dan bersumber dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Adapun desain museum sendiri dirancang oleh Achmad Tardiyana, yang merupakan pemenang sayembara desain arsitektur Museum HAM Munir.

Secara arsitektural, rancangan museum tersebut memiliki kesederhanaan dan kelugasan geometris, namun dengan perlakuan permukaan dan material yang mengkontraskan kesan berat gelap dan kesan ringan terang.

Kesan berat gelap ditampilkan pada bagian bawah bangunan yang menampung galeri pelanggaran HAM. Sementara kesan ringan terang ditampilkan pada bagian bangunan yang menampung ruang kontemplasi bagi perjuangan penegakan HAM.

Tampilan kesan ringan terang pada bagian bangunan tersebut, diharapkan bisa mengajak pengguna museum untuk tetap mengingat para pejuang HAM, dan sekaligus juga tetap memiliki harapan-harapan baik dalam usaha penegakan HAM.

Menolak lupa kasus Munir

Munir Said Thalib adalah seorang aktivis HAM Indonesia yang lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965. Ia meninggal dalam usia 38 tahun di Jakarta saat berada di dalam pesawat jurusan Amsterdam, pada 7 September 2004.

Jabatan terakhir Cak Munir, begitu sapaan akrabnya, adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Saat menjabat Dewan Kontras, namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu.

Saat itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus.

Dalam kasus pembunuhan Munir, seorang pilot pesawat Garuda Indonesia kala itu, Pollycarpus Budihari Priyanto, dinyatakan bersalah karena menaruh zat arsenik di makanan Munir.

Kemudian pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Purwoprandjono, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir. Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya.

Namun, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini sangat kontroversial dan kasusnya kemudian ditinjau ulang.