Menteri Wishnutama Terus Berkoordinasi untuk Turunkan Harga Tiket Pesawat
Menpar Wishnutama (Foto: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Wishnutama mengakui mahalnya harga tiket pesawat berpengaruh terhadap kurang bergairahnya sektor pariwisata di tahun 2019. Penurunan jumlah penumpang berdasarkan catatan PT Angkasa Pura II secara keseluruhan mencapai 18,85 persen.

Karena itu, tahun 2020 pemerintah berupaya menurunkan harga tiket pesawat untuk mendorong pariwisata yang kurang bergairah tersebut. Meskipun bukan perkara mudah karena masalah harga tiket pesawat yang tinggi sangat kompleks.

Karena itu, ia mengaku terus berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan Budi Karya dan Menteri BUMN Erick Thohir untuk mengkaji masalah tingginya harga tiket pesawat.

“Bukan kerja yang sederhana. Karena kompleks, ada pengaruh harga avtur, leasing dan lainnya. Jadi kita harus lihat secara komprehensif bagaimana cara menekan harga tiket agar komprehensif,” jelas Wishnutama seperti dilansir dari tempo.co, Kamis (26/12/2019).

Menurut Wishnutama saat open house di kediaman Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Rabu (25/12/2019), untuk meningkatkan kembali kunjungan wisata tersebut, selain mengunggulkan lima destinasi super prioritas yang sedang dibangun, pemerintah juga akan terus mendorong pariwisata lainnya. Pada saat bersamaan, pemerintah terus membangun infrastruktur, ekosistem ekonomi kreatif dan banyak hal lainnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan bahwa telah ada komitmen dari sejumlah maskapai berbiaya rendah atau LCC untuk menurunkan harga tiket pesawat di hari-hari tertentu hingga Februari 2020. Secara khusus, harga tiket LCC untuk rute penerbangan domestik angkutan niaga berjadwal akan turun 30 persen di hari Senin hingga Kamis setiap pekan.

Seperti diketahui, pada awal 2019, seluruh maskapai penerbangan menaikkan harga tiket secara signifikan. Maskapai-maskapai itu beralasan, kenaikan tarif dilakukan untuk menyeimbangkan harga pokok produksi atau HPP, khususnya harga bahan bakar avtur.


Penulis: Melda Riani