Menuju 100 Tahun Pemantauan Gunung Berapi, Ini Sejarahnya
Kantor PVMBG di Bandung (Foto: Kumparan)

JAKARTA, HALUAN.CO - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memasuki usia 100 tahun alias seabad. Perjalananya yang cukup panjang dan mengandung nilai sejarah.

Dalam catatan Kementerian ESDM, tahun 2020 ini merupakan tahun yang bersejarah bagi PVMBG). Nanti, pada tanggal 16 September 2020 kegiatan pemantauan yang dilakukan PVMBG akan tepat memasuki usia satu abad.

"Tahun 2020 ini, kegiatan pemantauan gunung api Indonesia akan memasuki usia 100 tahun, suatu jangka waktu yang cukup lama untuk pengembangan suatu sistem," ujar Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar di Bandung, baru-baru ini.

Rudy melanjutkan, sejak awal pembentukan Dinas Penjagaan Gunungapi pada 16 September 1920 hingga saat ini, telah terjadi beberapa kali perubahan nama institusi.

"Namun demikian, visi dan misi dari institusi ini tetap sama, yaitu menjadi institusi yang utama dan terpercaya di bidang mitigasi bencana letusan gunung api, gerakan tanah, gempa bumi dan tsunami untuk menyelamatkan jiwa dan harta benda serta memberikan rasa aman kepada masyarakat," paparnya.

Sejarah pemantauan gunungapi berakar pada terjadinya erupsi G. Kelud pada 20 Mei 1919. Ini adalah erupsi terdahsyat pada abad 20 yang menelan korban hingga 5.160 jiwa. Belajar dari dampak erupsi tersebut, maka pada 16 September 1920 didirikan The Vulkaan Bewakings Dients (Dinas Penjagaan Gunungapi) di bawah Dients Van Het Mijnwezen. Lembaga itulah yang kita kenal sekarang sebagai Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

"Seratus tahun adalah perjalanan panjang penuh berbagai pengalaman yang bisa kita ambil pelajaran, renungkan bahkan dirayakan bersama," tutur Rudy.

Sebagaimana diketahui, dalam perjalanannya, The Vulkaan Bewakings Dients pada tahun 1922 diresmikan menjadi Volcanologische Onderzoek (VO), yang kemudian pada tahun 1939 dikenal sebagai Volcanological Survey.

Dalam kurun waktu tahun 1920-1941, Volcanologische Onderzoek membangun sejumlah pos penjagaan gunung api, yaitu Pos Gunung Krakatau di Pulau Panjang, Pos Gunung Tangkuban Perahu, Pos Gunung Papandayan, Pos Kawah Kamojang, Pos Gunung Merapi (Babadan, Krinjing, Plawangan, Ngepos), Pos Gunung Kelud, Pos Gunung Semeru, serta Pos Kawah Ijen. Selama pendudukan Jepang, kegiatan penjagaan gunungapi ditangani oleh Kazan Chosabu.

Setelah Indonesia merdeka, dibentuk Dinas Gunung Berapi (DGB) di bawah Jawatan Pertambangan. Tahun 1966 diubah menjadi Urusan Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi. Pada tahun 1976berubah lagi menjadi Sub Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan.

Pada tahun 1978 dibentuk Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi. Tahun 1992 dibentuk Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral.

Pada tahun 2001, urusan gunungapi, gerakan tanah, gempabumi, tsunami, erosi dan sedimentasi ditangani oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Setelah bergabung dengan Badan Geologi, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi berubah nama institusinya menjadi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Bukan saja dikenal mempuni didalam negeri, di dunia internasional, PVMBG yang dikenal dengan sebutan Volcanology Survey Indonesia (VSI) ini mendapatkan penghargaan kinerja yang tinggi dalam Pemantauan dan Manajemen Krisis Gunung Api dari organisasi vulkanologi terbesar dunia, yakni International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth's Interior (IAVCEI).

Penghargaan yang diterima PVMBG ini menjadi catatan sejarah penting karena menjadi institusi vulkanologi pertama di dunia yang menerima penghargaan IAVCEI Volcano Surveillance and Crisis Management Award 2018, penghargaan diberikan oleh Presiden IAVCEI Don Dingwell di Napoli, Italia, 7 September 2018.