Menunggu Obat Corona Buatan Indonesia

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kementerian Kominfo menggelar rapid test COVID-19 untuk para jurnalis. (FOTO: Haluan.co/Fajar AM).

-

AA

+

Menunggu Obat Corona Buatan Indonesia

Health | Jakarta

Selasa, 21 April 2020 13:10 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Lembaga Biomolekuler Eijkman bekerja sama untuk melakukan uji coba penyembuhan COVID-19 dengan mengambil plasma darah milik pasien yang sudah sembuh dari penyakit akibat virus SARS-CoV-2 tersebut. 

Plasma dari darah pasien COVID-19 yang telah sembuh selama 30 hari ini nantinya akan diinjeksi ke tubuh pasien kritis untuk meningkatkan antibodinya sehingga bisa sembuh dari virus tersebut.

Ketua umum PMI, Jusuf Kalla, berharap, dari hasil penelitian lembaga ini dalam satu atau dua bulan ke depan dihasilkan obat sementara dan ke depannya ditemukan vaksin antivirus corona.

Selain Indonesia, sejumlah negara lain juga tengah berlomba-lomba untuk menemukan obat dan vaksin yang ampuh untuk menangkal COVID-19. Namun, sampai sejauh ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan langsung COVID-19.

Sejumlah universitas dan lembaga riset baik di Inggris, Australia, Jepang, China, Jerman dan Amerika baru sebatas penelitian laboratorium dan mendekati uji klinis kepada manusia.

Mengapa ini penting: Pemanfaatan plasma konvalesen mantan penderita COVID-19 ini digadang-gadang bisa menjadi solusi penyembuhan pasien positif COVID-19 di saat belum ditemukannya obat maupun vaksin virus corona.

"Di dalam plasma darah orang yang sembuh itu mengandung antibodi yang diharapakan cukup tinggi, sehingga bisa membantu mengeliminasi virus (di tubuh pasien COVID-19)," kata Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute, Amin Soebandrio, kepada Haluan.co, Selasa (21/4/2020).

Konteks: Lembaga Biomolekuler Eijkman dan PMI telah menandatangani MoU untuk melakukan uji coba penyembuhan pasien positif corona dengan mengambil plasma darah milik pasien yang sudah sembuh dari penyakit akibat virus SARS-CoV-2 tersebut.

Kriteria plasma darah:

• PMI dan Eijkman akan mengumpulkan para mantan pasien COVID-19 yang memenuhi syarat untuk diambil plasma darahnya. Syaratnya adalah sehat dengan minimal sudah 30 hari setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19.

• Kemudian darah yang diambil itu diuji apakah memang betul-betul ada antibodinya, kemudian tidak mengandung virus atau bakteri lain.

• Selanjutnya memastikan kesediaan mantan pasien COVID-19 untuk diambil plasma darahnya setelah dianggap memenuhi kriteria.

"Jadi kita PMI itu lebih cenderung untuk memastikan hulunya itu aman. Artinya dari donornya, plasmanya yang diambil itu dipastikan aman, kemudian nanti teman-teman yang di rumah sakit tinggal membuat protokolnya yang sama untuk seluruh Indonesia, tujuannya itu," ujar Amin.

Hanya untuk pengobatan, bukan pencegahan:

• Plasma darah yang dilakukan ini hanya untuk pengobatan pasien COVID-19, bukan untuk pencegahan seperti vaksin. Artinya, orang dalam keadaan sehat tidak boleh menggunakan metode ini.

• Kategori sakitnya juga tidak hanya yang ringan-ringan saja, tapi yang cenderung berat diutamakan karena jumlahnya yang masih terbatas.

Produksi terbatas:

• Pasien yang sembuh dari COVID-19 saat ini baru sekitar 600 orang. Nantinya, kemungkinan hanya 10 persen yang layak digunakan untuk plasma darah, atau sekitar 50 orang.

• Plasma darah dari satu orang, bisa untuk mengobati 2-3 orang tergantung dari kadarnya. Dengan begitu, maksimal yang bisa diobati hanya sekitar 100-150 orang, padahal yang sakit ribuan orang.

"Plasma darah ini hanya untuk pasien yang sudah diseleksi yang memang membutuhkan dan juga sesuai dengan plasma yang sudah tersedia, tidak sembarangan aja, plasma itu tidak berarti bisa diberikan kepada semua orang," ungkap Amin.

Satu bulan ke depan sudah tersedia: Pengobatan dengan plasma darah masih butuh waktu untuk pengujian. Namun, pengobatan ini diperkirakan sudah siap dalam waktu satu bulan ke depan.

Ketika Perang Mengancam AS, Negara Turun Tangan

KSAD Jenderal Andika Perkasa beri izin RSPAD:

• RSPAD Gatot Subroto meminta izin kepada KSAD Andika untuk uji coba pemanfaatan plasma konvalesen dari mantan penderita COVID-19 yang bekerja sama dengan LBM Eijkman dan Biofarma Bandung.

• Sebelum usulan uji coba disampaikan ke KSAD, RSPAD Gatot Soebroto lebih dulu menyelesaikan protokol penelitian, termasuk etika penelitian, sesuai dengan standar yang berlaku yang telah disahkan oleh Komisi Etik RSPAD Gatot Soebroto.

• RSPAD Gatot Soebroto menyampaikan permohonan izin dan persetujuan dari KSAD untuk melanjutkan penelitian tersebut dengan mengambil beberapa sampel dari pasien-pasien yang pernah terpapar COVID-19.

• Pada prinsipnya, Jenderal Andika mendukung penelitian tersebut agar Indonesia bisa menemukan solusi dalam menghadapi pandemi COVID-19. Namun, Andika ingin fokus pada keselamatan relawan yang menjadi bahan eksperimen penelitian.

"Saya keras lo untuk itu. Bila perlu persetujuan keluarga, lakukan. Jangan main gampang. Ini menyangkut kredibilitas dokter RSPAD, kredibilitas RSPAD sendiri, juga kredibilitas Angkatan Darat," kata Andika.

Penulis: Tio Pirnando


0 Komentar