Menyingkir dari Jogja di Malam Tahun Baru Sebuah Pilihan yang Tepat

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Yogyakarta bukan hanya Malioboro, masih banyak pilihan lain. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Menyingkir dari Jogja di Malam Tahun Baru Sebuah Pilihan yang Tepat

Overview | Jakarta

Selasa, 31 Desember 2019 15:42 WIB


Asal tahu saja, dari segi luas, Kota Jogja sangat kecil dibandingkan Bandung, atau bahkan Surabaya. Sehingga, jika libur akhir tahun tiba, jalanan Kota Jogja yang sempit makin riweuh dengan hadirnya bus pariwisata, dan mobil-mobil pelat luar kota yang seringkali kebingungan karena terjebak jalan satu arah. Hal ini umumnya bermula saat malam Natal hingga puncaknya pada Malam Tahun Baru. 

“Bajigoor, aku kagak bisa bali omah nih!”, ujar kawan saya semasa kuliah yang tinggal di kawasan Pajeksan, selatan Malioboro.

Hari itu, akhir tahun 2016. Kami sama-sama bergelut mengejar sidang skripsi. Kampus UGM yang berada di utara kota memang cukup lengang di akhir tahun, karena banyak mahasiswa pulang kampung selepas ujian akhir semester.

Tapi beda cerita bagi mahasiswa tingkat akhir yang harus mengejar wisuda Februari. Dengan kata lain, maksimal sidang adalah Januari. Namun sialnya, akhir tahun di Jogja adalah keruwetan jalan raya dan naiknya harga makanan kaki lima di pinggiran jalan.

Bahkan, saya dan kawan saya pernah ditanya oleh seorang penjual susu murni, ”Mas wisatawan atau asli sini?".

Padahal, sudah jelas tampilan kami waktu itu jauh dari kata “wisata”. Alih-alih berwisata di akhir tahun, kami justru seringkali lupa mandi karena bergelut di depan laptop meringkus beban skripsi. Lantas, kami tahu bahwa penjual susu murni tersebut hendak memastikan latar belakang pembelinya untuk mengambil “untung lebih” di libur akhir tahun. Sial, sudah tak bisa berlibur, hampir saja kami dipukul dengan harga wisatawan.

Kawan saya, sebut saja Marwoto, kebetulan tinggal di daerah Pajeksan. Kawasan pertokoan tua di salah satu gang dekat Malioboro. Dan tentu, jalur satu-satunya masuk ke gang rumahnya adalah melalui jalan Malioboro. Sayangnya, jalan ikonik itu hanya satu arah, demikian pula jalan Bhayangkara di sebelah selatan. Sehingga, tak ada kata lain selain mengumpat karena kawan saya sudah hampir tiga hari tak pulang sejak libur Natal.

Ya, dia ikut ngekos di kamar saya, di bilangan Bulaksumur. Tentu, secara langsung dia tak berganti pakaian dalam. Ah, betapa nistanya Marwoto kala itu.

Asal tahu saja, dari segi luas, Kota Jogja sangat kecil dibandingkan Bandung, atau bahkan Surabaya. Sehingga, jika libur akhir tahun tiba, jalanan Kota Jogja yang sempit makin riweuh dengan hadirnya bus pariwisata, dan mobil-mobil pelat luar kota yang seringkali kebingungan karena terjebak jalan satu arah. Hal ini umumnya bermula saat malam Natal hingga puncaknya pada Malam Tahun Baru.

Tujuan utamanya? Tentu, Malioboro. Saya bahkan tak habis pikir, sebenarnya apa yang mereka cari di Malioboro yang super sumpek di musim liburan itu. Atau di Tugu Jogja yang sampai-sampai harus diberi pagar karena terlampau sering dipanjat atau diduduki. Letaknya yang berada di perempatan besar membuat pengunjung Tugu Jogja seringkali berada pada level “kebal tabrak”. Sebab, ya sudah tentu berfoto-foto tanpa melihat ramainya lalu lintas.

Lebar jalanan kota yang tak sebegitu besar juga membuat penumpukan kendaraan dari segala arah menuju Malioboro kerap mengular. Dan tentu, biasnya sampai pada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Malioboro. Di kampung-kampung yang tenggelam oleh ingar-bingar Malioboro. Seperti kawan saya, Marwoto, yang malam itu memperhatikan kepadatan lalu lintas melalui rumahnya melalui aplikasi Google Maps.

“Asu, warna jalannya merah semua!” umpatnya saat itu. Bahkan aplikasi penunjuk jalan itu tak mampu memberikan masukan alternatif jalan pulang bagi Marwoto di malam tahun baru.

Memang, Jogja identik dengan berwisata. Mulai dari rombongan studi tur sekolah dasar hingga acara liburan kantor. Khususnya, di masa-masa khusus seperti libur akhir tahun. Tapi, apakah iya para wisatawan ini tidak sumpek jika setiap tahun berjubel dalam ruwetnya Malioboro. Apalagi, akhir tahun juga identik dengan hujan. Bisa dibayangkan jika kerumunan orang dihajar hujan dalam keriuhan. Bisa dipastikan, liburan Anda ambyar dan masuk angin.

Padahal ya bosque, Jogja itu tidak hanya Malioboro. Dan Jogja itu tidak hanya di situ-situ saja seperti trayek studi tur. Di luar kota Jogja, masih ada Sleman, Kulon Progo, Bantul, dan The Mighty Gunung Kidul.

Jika Anda ingin menikmati akhir tahun yang tenang dan syahdu dekat area persawahan dan lembah Merapi, Anda bisa menuju Sleman. Banyak Desa Wisata di sana, dan tentu desa-desa wisata itu dilengkapi dengan homestay yang dijamin tak seriuh kawasan hotel-hotel melati di Sosrowijayan dekat Malioboro.

Atau, jika Anda ingin menikmati matahari terbit di Kebun Buah Mangunan, Anda bisa menuju Bantul. Banyak desa wisata pula di sana. Banyak arena liburan alam seperti arung jeram dan tentu lebih dekat menuju trayek studi tur plus menikmati senja di Parangtritis.

Ditambah lagi, wisata kuliner Bantul seperti Sate Klathak, Sego Godhog, Mangut Lele, dan lain sebagainya dapat menjadi katarsis keruwetan Malioboro. Bahkan, konon harga makanan di kawasan Malioboro adalah setinggi-tingginya harga makanan di seantero Jogja. Gak mashoook blas!

Sedikit jauh dari pusat kota, tapi dekat dari arah Jakarta atau Bandung, Anda bisa menuju Kulon Progo. Beserta wisata alamnya yang amboi. Sebut saja Waduk Sermo, atau Kecamatan Girimulyo dengan ratusan air terjun dan wisata air alaminya. Kuliner Kulon Progo juga sedikit berbeda dengan Jogja yang Gudeg lagi Gudeg lagi itu. Masa iya, tidak bosan, sejak SD hingga jadi budak korporat wisatanya ke Malioboro, lalu ke Wijilan beli gudeg. Macam FTV aja kao ini….

Dan tak ketinggalan, untuk mengurai kemacetan di Malioboro, para wisatawan harusnya tercerahkan dengan keindahan pantai-pantai Gunung Kidul. Bedanya dengan Parangtritis adalah semua pantai di kabupaten itu justru berpasir putih. Beberapa di antaranya memiliki laguna.

Dan tentu, Gunung Kidul tak se-ndeso yang anda pikirkan. Sebab di sana juga banyak terdapat homestay atau hotel tepi pantai seperti di Indrayanti. Dan, jangan lupa kuliner Gunung Kidul yang justru bercita rasa pedas. Sebuah anomali memang, tapi layak untuk dicoba. Sebut saja Nasi Merah dan Sayur Lombok Ijo dan wedangan syahdu di Kota Wonosari, ibukota Gunung Kidul. Dan asalah tahu saja, Bakmi Jawa itu lahir dan besar di kabupaten ini.

Nah, dikarenakan Jogja itu tak hanya sebesar Malioboro, Keraton, Alun-alun Kidul, dan Tugu Jogja. Maka sudah layak dan sepantasnya para sobat plesir bisa mengunjungi kawasan lain. Tentu dengan tujuan pemerataan pariwisata.

Dan yang lebih penting adalah agar mahasiswa-mahasiswa kejar tayang yang tinggal di kawasan wisata bisa pulang ke rumah. Tak seperti kawan saya Marwoto, yang justru meninggalkan Jogja setelah lulus. Sebab katanya,”Aku bosan tahun baruan di Jogja. Tidak ada yang baru, adanya cuma macet!”.

Jadi, sejak tahun itu saya dan beberapa kawan seringkali menghabiskan tahun baru di tempat terpencil di luar Jawa. Baik karena berlibur atau karena tuntutan tugas sebagai budak korporat.

Bagi sobat-sobat mahasiswa Jogja yang masih terjebak di burjo-burjo atau angkringan di malam tahun baru, pesan saya cuma satu. Skripsinya cepat diselesaikan. Keburu Jogja tambah ramai dan Anda tak bisa pulang.


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja


0 Komentar