Menyorot Kelalaian Terawan

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Menyoroti Kelalaian Terawan (Ilustrasi: Total Politik)

Menkes Terawan adalah sosok yang turut bertanggung jawab atas jumlah korban tersebut karena kelalaiannya.

JUMLAH korban positif corona terus bertambah. Tercatat, ada sejumlah 790 kasus positif Covid-19 per Rabu, 25 Maret 2020. Sebanyak 58 orang meninggal dunia, sedangkan 31 orang dinyatakan sembuh.

Hanya sejak awal Maret kasus positif corona merebak di Depok pertama kalinya, keberadaan penyebaran penyakit itu telah mampu menelan ratusan korban. Belum sampai sebulan, setidaknya sudah ada 700 orang terjangkit corona. Itu pun yang tercatat resmi.

Padahal, kasus corona pertama kali mulai merebak sejak 31 Desember 2019. Baru selanjutnya, kasus infeksi penyakit tersebut mewabah setidaknya ke 160 negara hingga dikatakan sebagai pandemi. Kurang lebih, setidaknya ada waktu dua bulan sejak Maret untuk mempersiapkan penanganan wabah tersebut.

Jika selama dua bulan itu telah disiapkan penanganan wabah yang baik, seharusnya kejadian corona tidak separah seperti sekarang ini. Kini, pemerintah maupun rakyat sama-sama panik menghadapi wabah ini.

Adalah tugas menteri kesehatan dalam mengurus dan menjaga kesehatan rakyat. Akan tetapi, hal itu ternyata hanya sia-sia adanya. Pemerintah Indonesia justru tidak siap dengan keberadaan wabah corona yang ternyata begitu cepat menjangkit masyarakat dunia itu.

Terawan Agus Putranto yang menjabat selaku menteri kesehatan justru terkesan meremehkan corona. Sebelum ada kasus corona di Depok, Ia meminta masyarakat tak perlu panik dan meyakini bahwa pihaknya telah siap menghadapi corona.

“Kalau ada (corona) ya kita sudah siap semua, antisipasinya, apa yang mau dikerjakan, tahu siapa berbuat apa dan apa yang mau dilakukan, itu yang sangat penting,” tegas Terawan pada Minggu (26/1/2020), dalam lansiran Tirto.

Tatkala ada dua kasus corona di Depok, Terawan juga tidak mampu memberikan jaminan keamanan untuk masyarakat. Menurutnya, tak perlu ada karantina besar-besaran untuk Kota Depok dan sekitarnya.

“Masa seluruh Indonesia harus ditutup? Ya enggak lah siapa yang mau nutup,” katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2020).

Tampaknya, Terawan berdalih tak ingin membuat panik publik, tetapi justru terkesan mengabaikan penyakit tersebut. Ia menyebutkan corona bisa sembuh dengan sendirinya.

Hal itu mungkin benar lantaran tubuh manusia memiliki antibodi. Tetapi, pernyataan tersebut sepertinya tak pantas dilontarkan seorang menteri kesehatan.

Ketika virus corona mulai memakan ratusan korban di Jakarta dan sekitarnya, semua mulai panik. Para tenaga medis seperti dokter dan perawat ternyata justru kekurangan alat pelindung diri, seperti baju hazmat, sarung tangan, dan masker N95, ketika memeriksa pasien yang terjangkit corona.

Saking tak ada alat, sebagian dari tenaga medis justru menggunakan jas hujan dan baju bedah karena minimnya peralatan dan perlengkapan medis. Alhasil, setidaknya per 24 Maret 2020, ada 23 tenaga medis yang tertular virus corona. Bahkan, lima dokter yang menangani wabah meninggal karena terjangkit corona.

Sementara itu, masyarakat juga panik dengan alat pelindung kesehatan untuk dirinya. Masker begitu langka di pasaran. Dan jika pun ada, harganya membumbung tinggi. Sebagian dari mereka juga banyak tak menggunakan masker lantaran enggan dan sulit membeli masker yang mahal itu.

Lockdown Covid-19 akan Lebih Baik

Terawan tak mampu mengantisipasi permasalahan-permasalahan tersebut. Ia gagal mendiagnosa kejadian-kejadian tak terduga akibat corona yang berujung pada malapetaka.

Masyarakat pun merespon sepak terjang menteri kesehatan itu dengan persepsi buruk. Netizen di dunia maya menginginkan menteri kesehatan itu mundur dengan tagar #CopotMenkesTerawan pada 17 Maret 2020.

“Nah gitu dong pak kalau bodoh tuh ditunjukin bakat terpendam, biar rakyat tau kalau kau itu bodoh #CopotMenkesTerawan,” cuit @Diashaikall pada 17 Maret 2020.

“Kebodohan yang cukup mewakili kebodohan akut rezim demokrasi #CopotMenkesTerawan,” cuit @yusufef81763486 pada 17 Maret 2020.

Editorial Koran Tempo pada 24 Maret 2020 pun juga mengkritik langkah Terawan yang terkesan ceroboh.

Karena kelalaiannya lah, persoalan menuntaskan penanganan wabah corona semakin sulit. Ribuan korban, dan entah berapa korban lagi, terjangkit virus ini setiap harinya. Tempo menekankan pentingnya profesionalitas yang seharusnya dimiliki menteri kesehatan. Sayangnya, Terawan tak memiliki itu.

“Terawan sepantasnya mundur dari jabatannya. Jika tidak, Presiden Jokowi yang harus memecatnya,” begitulah tulis editorial Koran Tempo.

Bagaimanapun juga, wabah corona harus ditangani dengan sigap dan tangkas. Presiden, wakil presiden, dan para menteri harus terus bertanggung jawab atas segala upayanya menangani wabah virus corona. Begitu pula Terawan, pria berkacamata itu harus berani mempertanggungjawabkan segala kelalaian yang telah dia lakukan. (AK)


0 Komentar