Meramal Nasib Jurnalisme di Masa Depan
Jurnalisme viral saat ini mampu mengalahkan Jurnalisme Data (Ilustrasi: Haluan.co)

Jurnalisme data sepi peminat karena terkesan membosankan dan rumit. Beda dengan jurnalisme viral yang pembacanya bisa jutaan kali lipat dalam hitungan detik.

Antara Jurnalisme Viral dan Pembaca

Di era digital, media massa (daring) lebih berjalan mengikuti arah media sosial. Meski sama-sama bertugas untuk fasilitas publikasi informasi, keduanya memiliki cara, proses, dan hasil yang berbeda. Media sosial tidak memerlukan kurasi hingga hasilnya cenderung dangkal saat digunakan menyampaikan sebuah informasi. Sedangkan media massa (arus utama) membutuhkan kurasi untuk hasil yang berbobot dan mendalam.

Namun dalam kenyataannya, media massa yang berdiri di atas kode etik jurnalistik dan memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi, terpaksa mengenyampingkan hal tersebut demi mengejar jumlah views. Tentu pelaku media yang tidak mengikuti kode etik jurnalistik akan berakibat pada penurunan kredibilitas di mata para pembaca. Dan faktanya, tak banyak pembaca yang peduli dengan kredibilitas, maka tak heran media pun turut mengabaikan.

Pembaca kini mengejar ketertarikan dan kepuasan diri. Ketika ada sebuah informasi yang viral di jagad media sosial, maka pembaca berusaha mencari dan membaca hal tersebut dari berbagai sumber dengan sekali akses. Tidak lagi terpikir, media apa yang menayangkan atau bagaimana kredibilitas media tersebut. Ketika ada tautan berita viral di jendela media sosial, pasti jemari tidak tahan untuk mengklik tautan tersebut.

Begitu pun dengan metode pencarian, pembaca cenderung akan mengikuti berita viral yang ramai diperbincangkan di dunia nyatanya maupun dunia mayanya. Dengan memasukkan beberapa kata kunci, pembaca bisa langsung mendapatkan apa yang dicari. Sekali lagi, pembaca tidak pernah memikirkan kredibilitas media yang dipilihnya. Yang terpenting adalah menjadi bagian dari hal viral tersebut.

Pembaca tak peduli, media pun tak lagi peduli. Padahal seharusnya media massa idealnya memiliki verifikasi yang terstruktur sebelum memuat apa pun seperti media massa cetak yang masih berjaya, melakukan verifikasi dan validitas informasi yang selalu dijaga oleh redaksi. Jiwa inilah yang mulai memudar dari nilai-nilai media massa yang mulai beralih ke ranah digital.

Dalam ranah online, pembaca menuntut media massa untuk cepat, mudah, terbaru, dan reaksioner. Demi mengumpulkan pundi-pund rupiah dari iklan yang datangnya dari pembaca, media massa berusaha menjawab tuntutan tersebut. Meski harus kehilangan nilai dan jiwa dari kode etik jurnalistik. Hingga akhirnya banyak yang menyimpulkan bahwa media massa seolah kehilangan batas pembeda dengan media sosial.

Views adalah segalanya, mungkin begitu cara media massa mendefinisikan dirinya sendiri. Untuk mendapatkan dan mengejar views, media sanggup melakukan apa saja, termasuk dengan memberitakan apapun yang sedang viral di media sosial. Meski tak jarang hal ini mempererat hubungan media dengan hoaks. Berbekal informasi seadanya dari media sosial, media massa dengan gagahnya membagikan informasi tersebut kepada para pembaca.

Tak heran jika pembaca di Indonesia menjadi penikmat permukaan. Mereka hanya memuja judul berita tanpa memedulikan isi. Meraba sebuah berita dari luar memancing berbagai emosi yang berakhir pada pertikaian dalam media sosial. Karena sebuah judul bombastis dan isi yang tidak berbobot telah memanjakan para pembaca untuk menyukai hal-hal receh yang tidak berkontribusi terhadap kemajuan wawasan dan pengetahuan pembaca itu sendiri.

Media telah membentuk pembaca untuk menjadi pribadi yang egois dan melankolis, bukan lagi sebagai personal yang memahami esensi sebuah berita serta mampu menyelesaikan masalah. Seperti ketika ada sebuah bencana banjir di DKI Jakarta.

Media massa malah berlomba-lomba menyajikan berita Yuni Shara yang tampil modis ketika rumahnya kebanjiran. Bukannya berita tentang minimnya infrastruktur pengantisipasi banjir atau sikap pemerintah daerah dan pusat mengenai banjir tersebut.

Berita yang memperhatikan hal remeh-temeh sama sekali tidak ada hubungannya dengan substansi permasalahan, seperti pada berita Yuni Shara ketika bencana banjir. Pembaca pun akhirnya diarahkan untuk memedulikan hal receh ketimbang persoalan penting dibalik bencana banjir tersebut. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa media massa perlahan berubah seperti media sosial yang receh dan dangkal.

Dalam jangka pendek, fenomena jurnalisme viral dianggap sebagai hiburan yang menghadirkan kepuasan. Namun dalam jangka panjang, jurnalisme viral akan membudayakan kerecehan pembaca dalam menyikapi sebuah peristiwa hingga mereka akhirnya mengabaikan sejatinya menjadi seorang manusia.

Karena jurnalisme viral diagungkan dan dinantikan oleh pembaca, akhirnya media massa pun tak memberikan edukasi yang tepat kepada para pembaca. Padahal edukasi tersebut sesungguhnya merupakan salah satu fungsi pers.

Antara Jurnalisme Data dan Pembaca

Model jurnalisme yang menggunakan data untuk menyampaikan berita atau jurnalisme data biasanya bisa dimulai dari pertanyaan yang dijawab dengan data, bisa juga dimulai dengan data yang dianalisa untuk mendapatkan cerita. Dengan jurnalisme data, pembaca dibantu untuk memahami gambar besar, pola, konteks dan tren serta juga menyediakan tafsir independen atas realitas.

Dalam jurnalisme data, pelaku media dituntut untuk hanya menyampaikan yang hanya fakta saja, kisah berbasis data (data based news stories), berita lokal (local data telling stories), analisa (explainer), dan data driven investigative reporting. Hal ini tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Karena dibutuhkan kemampuan khusus seperti research, menulis, desain dan programming.

Seperti yang kita ketahui bersama, pembaca Indonesia tidak menyukai kerumitan. Maka meski pada segi kualitas, jurnalisme data jelas lebih kredibel dibanding jurnalisme viral, pembaca tidak ingin direpotkan untuk membandingkan keduanya. Atau sekedar mengetahui perbedaan keduanya. Yang pembaca inginkan adalah kecepatan informasi dan kepuasan diri setelah mendapatkan informasi tersebut.

Proses kerja jurnalisme data yang harus melalui beberapa tahapan seperti mencari data, mengambil data, membersihkan data, menganalisa data, dan visualisasi data, membuatnya mudah untuk ditinggalkan oleh pembaca. Daya tarik jurnalisme data dan jurnalisme viral jelas berbeda bagi seorang pembaca era sekarang. Jurnalisme data dianggap terlalu kaku, prosedural, lambat, dan akurat. Padahal begitulah media massa harusnya bekerja. Kembali lagi kepada pembaca yang menyukai kehebohan, kebohongan, dan hal lain yang berbau viral.

Yang menjadi pembeda antara jurnalisme data dengan jurnalisme viral adalah bahwa jurnalisme data menjadikan data sebagai harta karun karena mengandung informasi dan cerita yang siap diungkapkan melalui penggabungan, pembobotan, dan penilaian. Hingga akhirnya siap untuk djadikan berita. Sedangkan jurnalisme viral menjadikan hal receh dan viral sebagai harta karun. Tanpa memikirkan penggabungan, pembobotan, dan penilaian.

Jurnalisme data memang memiliki kekuatan lebih dibanding jurnalisme viral.

Layaknya seorang mahasiswa yang menuliskan laporan pada matakuliah tertentu, tentu dosen akan lebih percaya apabila ada data dan angka. Begitupun yang seharusnya terjadi pada pembaca terhadap jurnalisme data. Namun faktanya, pembaca malah meninggalkan kekuatan data demi mengejar hal viral yang receh.

Pada akhirnya pembaca memahami bahwa jurnalisme data dianggap bertentangan dengan jurnalisme viral yang mengedepankan kecepatan. Secara psikologi, pembaca ingin mencerna berita secepatnya, semakin cepat semakin dipilih. Namun jurnalisme data tidak bisa menawarkan kecepatan tersebut. Karena mengolah data bukan hal yang mudah. Tipe pembaca yang selama ini dimanjakan dengan hal receh telah membentuk ideologi receh pula terhadap diri mereka masing-masing.

Pembaca penikmat media massa ingin segera mengonsumsi berita yang mereka inginkan detik itu juga. Ketika ada kejadan viral di hari senin, maka semua pembaca akan berbondong-bondong untuk melahap berita tersebut di hari itu juga. Entah benar atau tidak, entah kredibel atau tidak, pembaca akan tetap mencarinya dan membacanya. Karena begitulah media membangunnya.

Jika jurnalisme viral menguasai pembaca dibanding jurnalisme data, maka hampir bisa dipastikan bahwa jurnalisme akan mengalami satu peristiwa bernama, kiamat. Akankah seperti ini nasib jurnalisme di masa depan? Receh, dangkal, tak bernilai, dan berujung kiamat? Semoga pembaca semakin cerdas dan semoga media massa semakin berkualitas.


Penulis Misrati, mahasiswi Fakultas Tenaga Ilmu Kependidikan IAIN Jember yang lahir di Bondowoso pada 17 Juli 1997. Meski duduk di semester akhir ia masih aktif menulis di beberapa media lokal. Selain gemar mengoleksi buku, saya ia juga sangat menyukai dunia tulis menulis.