MUI: Plasma Darah untuk Obat Hukumnya Suci

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ilustrasi plasma darah untuk pengobatan pasien Corona. (Foto: Halodoc)

-

AA

+

MUI: Plasma Darah untuk Obat Hukumnya Suci

Nasional | Jakarta

Selasa, 21 April 2020 16:26 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut, penggunaan plasma darah untuk pengobatan sementara pasien virus Corona (COVID-19), hukumnya tidak haram.

Mengapa ini penting:

• Plasma darah akan dijadikan obat sementara untuk pasien COVID-19 yang sudah berat. Alasannya, vaksin COVID-19 hingga kini belum ditemukan.

• Plasma darah akan diinjeksi ke tubuh pasien kritis untuk meningkatkan antibodinya.

• MUI pada 17 Oktober 2018 pernah mengeluarkan Fatwa Nomor: 45 Tahun 2018 tentang Penggunaan Plasma Darah untuk bahan obat.

"Jadi, plasma darah itu bukan darah. Yang haram itu kan darahnya. Kalau plasma darah itu bagian dari darah, itu sudah lain subtansinya, lalu karakakternya. Sehingga disimpulkan plasma darah itu bukan darah, jadi artinya tidak haram," kata Ketua Fatwa MUI Pusat Prof Hasanudin AF saat dihubungi Haluan.co, Selasa (21/4/2020).

Konteks:

PMI bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman melakukan uji coba penyembuhan COVID-19 dengan mengambil plasma darah milik pasien yang sembuh dari penyakit COVID-19.

Isi Fatwa MUI:

• Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cairan berwarna kuning, di mana sel-sel darah, nutrisi dan hormon mengapung.

• Plasma darah dipisahkan dari darah melalui suatu proses sentrifugasi (pemutaran kecepatan tinggi) sampel darah segar, dimana sel-sel darah menetap di bagian bawah karena lebih berat, sedangkan plasma darah di lapisan atas.

• Plasma merupakan unsur darah, dan bagian tersendiri dari darah yang sifat-sifatnya; warna, bau dan rasa berbeda dengan darah

• Pada dasarnya darah adalah najis, karenanya haram dipergunakan sebagai bahan obat dan produk lainnya.

• Plasma darah hukumnya suci dan boleh dimanfaatkan dengan ketentuan: hanya untuk bahan obat, tidak berasal dari darah manusia, berasal dari darah hewan halal.

"Plasma darah merupakan bagian dari darah tapi plasma darah bukan darah. Hukumnya tidak haram lagi, yang haram itu darah, darah utuh, darah itu yang haram. Sementara plasma darah hanya bagian dari darah dan bukan darah," kata Prof Hasanuddin AF.

Syarat plasma darah:

• Syarat untuk diambil plasma darah adalah pasien yang sudah sehat dengan minimal 30 hari setelah dinyatakan sembuh.

• Dalam plasma darah orang yang sembuh itu mengandung anti bodi yang diharapakan cukup tinggi bisa membantu mengeliminasi virus.

• Setelah diambil plasma darahnya, nanti di uji apakah di darahnya betul-betul ada anti bodi, kemudian tidak mengandung virus atau bakteri lain.

• Pasien yang dinyatakan sembuh dan bersedia mendonorkan plasma darahnya diambil lalu diproses.

• Setelah diuji coba, dipersilahkan pihak-pihak rumah sakit (RS) untuk membuat protokol kesehatan yang sama untuk seluruh Indonesia, lalu memberikan plasma kepada pasien COVID-19.

Menunggu Obat Corona Buatan Indonesia

Kriteria pasien:

• Plasma darah tidak untuk pencegahan dan berbeda dari vaksin. Jadi, orang sehat tidak perlu meminta disuntik plasma darah.

• Plasma darah hanya untuk orang yang memang sudah sakit berat. Bukan sakit ringan.

"Plasma itu tidak berarti bisa diberikan kepada semua orang," kata Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute, Amin Soebandrio, kepada Haluan.co.


0 Komentar