Musuh Kita Bukan Virus, Tapi Orang-orang Bebal
Ngeyel adalah budaya kita, warga Indonesia (Ilustrasi: Haluan.co)

Kita perlu sadari bahwa penanganan kasus pandemi Covid-19 di negara ini belumlah pada tahap “tepat”. Dan maka dari itu, sebagai masyarakat dunia ketiga, kita perlu membantu penanganan dari akar rumput.

KAMPANYE social distancing atau pembatasan sosial nampaknya tak begitu dipahami masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Sebab, dalam seminggu terakhir kita justru dihadapkan pada kenyataan bahwa pelarangan kegiatan dengan konsentrasi massa justru tak dihiraukan oleh beberapa pihak.

Pertama, hal ini terjadi saat adanya Ijtima Dunia Zona Asia Jamaah Tabligh di Gowa, Sulawesi Selatan pada 19 Maret 2020. Di mana ribuan orang dari berbagai negara dan daerah berkumpul dalam acara keagamaan itu. Meski sudah dibatalkan, namun ratusan orang sudah telanjur tiba di Gowa.

Padahal, acara serupa menyebabkan pelonjakan kasus positif Covid-19 di Malaysia pada 27 Februari di Selangor. Diperkirakan 16.000 orang menghadiri acara itu, meskipun dalam kondisi pandemi dunia. Malahan, pernyataan-pernyataan absurd seperti “None of us have a fear of Corona”, alias “Kami tidak takut dengan Corona”. Hal ini lantas menisbikan bahaya pandemi dan penyebarannya dengan dalih agama.

Bahkan, kasus pada Itjima Dunia Zona Asia yang digelar di Gowa juga sempat ada pelontaran kalimat serupa. Seolah mereka menantang virus itu sendiri. Dan tentu, dengan membawa nama Tuhan sebagai tameng dari kebebalan sikap mereka dalam salah tanggap terhadap pandemi ini.

Cukup disayangkan, bahkan salah satu panitia kegiatan itu sempat berujar pada media internasional macam Reuters bahwa mereka lebih takut pada Tuhan, daripada dengan potensi penyebaran virus pandemi ini.

Salah satu situs Malaysia yang melakukan olah data penyebaran Covid-19 di negara itu menggambarkan bahwa kegiatan Itjima Jamaah Tabligh yang berlangsung di Selangor akhir Februari lalu menjadi embrio terjadinya wabah. Hal ini dapat dilihat pada penjelasan dalam grafik berikut.

Bagian tengah dengan banyak titik merah adalah kegiatan konsentrasi massa keagamaan itu dan kemudian ditarik garis mengikuti proses terjadinya penularan. Titik-titik merah dalam grafik itu bergerak sporadis setelah kegiatan itu, dan ini yang memicu terjadinya lonjakan besar di Malaysia.

Pada 21 Maret saja, Malaysia mencatatkan lonjakan 153 kasus positif Covid-19 baru yang 90 orang di antaranya terkait dengan kegiatan Jamaah Tabligh tadi.

Kedua, kasus konsentrasi massa keagamaan lain terjadi di Ruteng, NTT. Saat itu, tengah dilaksanakan prosesi pentahbisan Mgr. Siprianus Hormat, Pr. sebagai Uskup Ruteng. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2020 di Gereja Katedral Ruteng. Hampir bersamaan dengan kegiatan Itjima Jamaah Tabligh di Gowa.

Acara pentahbisan uskup dalam tradisi Katolik umumnya sudah direncanakan jauh-jauh hari dengan tata cara dan undangan umat yang cukup kompleks. Dan nampaknya, hal ini yang kemudian menjadi alasan betapa beratnya kegiatan ini untuk ditunda. Bahkan, imbauan BNPB dalam hal ini juga nampaknya tak begitu berhasil.

Selain itu, acara pentahbisan seorang uskup sebagai pimpinan umat Katolik di suatu wilayah keuskupan juga dihadiri sejumlah uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia. Beberapa pihak mencatat 36 uskup dari seluruh keuskupan di Indonesia. Ditambah, Kardinal Mgr. Ignatius Suharyo sebagai penahbis yang memegang tampuk tertinggi hierarki gereja Katolik di Indonesia.

Hal ini lantas menimbulkan perdebatan dari berbagai pihak, sebab sehari kemudian pihak Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengeluarkan surat keputusan untuk mediadakan misa harian dan mingguan selama lima belas hari, terhitung sejak 20 Maret 2020. Hal itu disampaikan dengan anjuran umat Katolik dapat mengikuti misa harian dan mingguan secara daring.

Kasus kebebalan ketiga adalah adanya kesan tak acuh dari beberapa pihak yang tetap mengadakan kegiatan Salat Jumat pada 20 Maret 2020 lalu. Di mana saat itu, Masjid Istiqlal justru tetap mengadakan salat dzuhur berjamaah. Meski dengan dalih telah memberi jarak antarsaf dan umat, tapi tetap saja hal itu adalah kegiatan pengumpulan orang banyak. Ditambah lagi kasus perusakan baliho pemberitahuan di Masjid Raya Bandung dengan teriakan-teriakan yang seolah menantang pemerintah setempat atas pelarangan salat Jumat.

Meski sudah meminta maaf, namun hal ini bisa menjadi gambaran betapa ngeyel dan bebalnya masyarakat Indonesia dalam memahami kasus pandemi global Covid-19 ini. Hmmm, saya jadi tahu kenapa Kim Jong Un menembaki warganya di Korea Utara….

Bebalnya masyarakat kita amat nampak pada masa krisis seperti ini. Setelah adanya penimbunan masker, cairan pembersih tangan, hingga yang terakhir adalah obat malaria chloriquine, kita jadi tahu sifat asli masyarakat kita. Apalagi kalau bukan ngeyel to the max.

Belum lagi, masa sebelum Ramadhan begini tak jarang beberapa orang kerap melaksanakan acara pernikahan. Mengundang orang banyak. Membangun tenda semenjana di gang-gang kampung, hingga di gedung-gedung tertutup. Ini masih soal acara kawinan, belum nanti saat Ramadhan tiba. Meski beralasan sudah melakukan antisipasi soal higienitas lokasi acara kawinan berlangsung, tapi tetap saja kegiatan itu kan memicu konsentrasi massa dalam satu tempat. Tolong dong woi dipikir risikonya anjirrrr!

Social Distancing: Memutus Mata Rantai Penularan Pandemi

Kita perlu sadari bahwa penanganan kasus pandemi Covid-19 di negara ini belumlah pada tahap “tepat”. Dan maka dari itu, sebagai masyarakat dunia ketiga, kita perlu membantu penanganan dari akar rumput. Jika tak bisa memberi donasi bagi para pekerja medis, maka alangkah baiknya jika kita menjaga diri dan sesama dengan menaati anjuran social distancing. Percuma dong, kalau masyarakat memaki dan mengumpati pemerintah karena terkesan lelet dalam penanganan Covid-19 ini, tapi di sisi lain kita juga tak preventif secara mandiri.

Belum lagi, negeri ini masih dihantui dengan adanya tradisi-tradisi semasa dan selepas bulan Ramadhan seperti berburu takjil, buka bersama dan sebagainya. Ditambah ketika nanti masuk libur Lebaran, bisa dibayangkan kebiasaan mobilitas tinggi dalam rangka pulang kampung di negeri ini. Akan amat masif efeknya terhadap penyebaran virus ke berbagai daerah. Untuk itulah, sebelum sampai pada titik masa itu, kita perlu saling bersinergi dan mengurangi kebebalan.

Jika ada anjuran untuk tidak berkumpul di tempat ibadah, maka taatilah. Toh ibadah bisa dilakukan secara individu dalam hubungan mendalam antara seseorang dengan Tuhannya. Jika ada anjuran untuk mengantre dalam jarak lebih satu meter, maka taatilah. Tidak perlu berebut. Tradisi rebutan ini sangat purba sekali bagi kehidupan masyarakat di negara yang katanya berkembang ini. Dan juga, tolong tahan lah acara kawinan anak anda. Logikanya adalah, modal kawinan bisa dicari atau ditangguhkan dulu, tapi urusan kesehatan dan nyawa itu mau anda kredit di mana?

Nah, di tengah kegelisahan kita bersama, sudah saatnya kita lupakan sejenak perbedaan pandang politik. Hal ini juga tambah membuat keruh proses penanganan pandemi. Di saat-saat seperti ini, sinergisitas antarpihak amat diperlukan.

Donasi untuk mendukung para pekerja medis dalam kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) juga amat diperlukan di tengah keterbatasan. Jika para anggota dewan yang terhormat belum nampak memberi sepeser pun bagi hal ini, maka sudah saatnya rakyat bersatu padu dalam swadaya. Membangun donasi dari kanal-kanal daring.

Berhenti bebal! Mari bersinergi!