Ngeri-ngeri Sedap! Utang Indonesia Capai Rp4.814,31 Triliun

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Peneliti Indef Bhima Yudhistira (Foto: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Ngeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan yang dipopulerkan almarhum politisi Sutan Bhatoegana untuk menggambarkan rumitnya permasalahan. Termasuk soal utang Indonesia yang sudah menggunung.

Seperti disitat dari DWIndonesia, negeri yang dipimpin Jokowi ini hingga November 2019 sudah mengoleksi utang Rp4.814,31 triliun atau lebih tinggi dari posisi bulan sebelumnya yang mencapai Rp 4.756,13 triliun.

Dengan jumlah utang pemerintah yang mencapai Rp 4.814,31 triliun, maka rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 30,03 persen atau naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 29,87 persen.

Peneliti dari Indef Bhima Yudhistira seperti dilansir dari detickom mengatakan, peningkatan jumlah utang pemerintah perlu diwaspadai karena memberikan dampak bagi perekonomian Indonesia. Bhima mengatakan peningkatan jumlah utang dikarenakan pemerintah tidak bisa mengendalikan.

"Perlu menjadi kewaspadaan karena kenaikan nominal utang juga berkorelasi dengan kenaikan beban pembayaran bunga," kata peneliti dari Indef, Bhima.

Bhima menjelaskan peningkatan jumlah utang pemerintah akan berdampak pada pembayaran bunga utang ke depannya. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan sampai akhir November tahun ini pembayaran bunga utang mencapai Rp 267,63 triliun atau 97,01 persen dari target.

"Makin gemuk utangnya, tahun depan beban belanja bunga utangnya makin besar. Ini kurang sehat bagi fiskal dan ekonomi," jelas dia.

Menurut Bhima, penerbitan utang oleh pemerintah juga akan memberikan risiko pada sektor perbankan, salah satunya mengetatkan likuiditas.

"Penerbitan utang di pasar berisiko merebut likuiditas bank. Ujungnya bank makin ketat likuiditasnya. Jadi dampaknya merembet kemana-mana, karena pemerintah tidak bisa kendalikan utang," ungkap dia.


0 Komentar