Oh, PSSI: Regulasi Membingungkan Prestasi Makin Pilu

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
PSSI selalu bikin regulasi yang merugikan klub dan pemain (Ilustrasi: Selasar)

Tercatat setiap tahunnya regulasi juga mengalami perubahan yang tak jelas. Alhasil, inkonsistensi jadi satu-satunya kesan penulis untuk federasi yang (katanya) menaungi sepak bola tanah air tersebut.

SABTU, 29 Februari 2020, PSSI menetapkan hari baik ini untuk menghelat laga perdana kompetisi Liga 1. Antusias penikmat si kulit bundar pun tak terbendung menanti kick-off tahta tertinggi di tanah air tersebut. Namun tetap saja, bukan PSSI rasanya jika tidak ada kontroversi.

Pada 2017 telah mengukir kisah, PSSI menerapkan regulasi mewajibkan tim yang berlaga untuk menurunkan 3 orang pemain U-23 dalam starting line-up. Tujuannya untuk memberikan kesempatan pemain muda menunjukkan kemampuan mereka, katanya.

Penerapan regulasi pun seolah berbuah manis pada Piala Presiden 2017. Hasilnya, Luis Milla selaku pelatih timnas kala itu melirik beberapa pemain muda untuk memperkuat timnas dalam laga uji coba melawan Myanmar. Nama-nama seperti Hanif Sjahbandi, Bagas Adi, Febri Haryadi, dan Arsyad tidak luput dari pandangan sang pelatih.

Selain berbuah manis, asam pahit bahkan sepet tak terelakan kala penerapan regulasi tersebut. Mengapa sepet? Tidak sedikit pemain muda yang dimainkan oleh tim sekadar untuk formalitas. Para talenta muda dalam hitungan menit saja menginjakkan kaki di lapangan hijau dan (pasti) berujung pada pergantian pemain.

Rasa tidak nyaman dan berujung pada stres ringan menjadi dampak psikologis pemain atas pola tersebut. Praktiknya, pemain akan memilih berlatih dengan tidak sungguh-sungguh. Lebih jauh, dampak buruk akan dirasakan oleh pemain muda kita, baik mental maupun skill.

Setelah 3 tahun berjalan, PSSI akhirnya menghapuskan regulasi terkait mewajibkan pemain U-23 sebagai starting line-up. Dalihnya ketidakefektifan merundungi regulasi tersebut. Kenapa baru sadar coyy?

Tercatat setiap tahunnya regulasi juga mengalami perubahan yang tak jelas. Alhasil, inkonsistensi jadi satu-satunya kesan penulis untuk federasi yang (katanya) menaungi sepak bola tanah air tersebut.

Sebagai alternatif, PSSI akan merancang kompetisi khusus yang melibatkan pemain U-23. Kompetisi ini mungkin serupa dengan Liga 1 yang telah bergulir untuk pemain U-19 sejak 2 tahun lalu. Pertanyaan penulis, jika Liga 1 U-23 jadi terlaksana, pemain yang berlaga di Liga 1 U-19 lalu siapa? Bingung sudah.

Kontroversi regulasi tak berhenti di pemain muda, pemain senior pun juga memprihatinkan. Liga 1 memberikan batas maksimal 2 orang bagi pemain berusia lebih dari 35 tahun per klubnya. Alih-alih meningkatkan prestasi, banyak pemain yang mampu berlaga hingga usia tersebut pun terganjal regulasi.

Nama-nama bintang lapangan seperti Christian Gonzales (41 tahun) selaku top scorer kompetisi Piala Presiden 2017, M. Ridwan (36 tahun), Ponaryo Astaman (37 tahun) dan masih banyak lagi dapat terusik oleh regulasi ini. Sedangkan kualitas mereka sudah tidak perlu ditanyakan lagi meskipun telah memasuki usia senja bagi takaran pemain.

Kompetisi Liga 2 lebih mengerikan lagi, masing-masing klub hanya boleh mengontrak lima pemain dengan usia di atas 25 tahun. Di kancah internasional pun usia 27-28 tahun umumnya menjadi momen pemain dalam menyongsong puncak karier. Angka ini sering disebut sebagai usia emas.

Jadi, sayang seribu sayang, puncak karier di usia emas hanyalah mimpi di siang bolong. Tujuan regulasi ini bolehlah bermuara pada “kebaikan”, karena regenerasi menjadi kunci. Namun, jumlah pemain senior (usianya) perlu diperhitungkan. Mengurangi kesempatan mereka bermain bukanlah solusi terbaik.

Kehadiran pemain senior di suatu klub adalah “kunci” dalam membentuk karakter pemain muda. Hemat penulis, pengalaman dan kedewasaan pemain senior tidak dapat dibeli di toko melainkan harus berpadu dalam harmoni permainan. Oleh karena itu, transfer knowledge akan terganggu karena regulasi (gak cetho) seperti ini.

Contoh yang sangat disayangkan oleh penulis hadir dari Mat Halil (36 tahun) pemain Persebaya Surabaya. Klub kesayangan Bondo Nekat (bonek) tersebut harus kembali kehilangan pemain seniornya pasca sanksi tidak diperbolehkan mengikuti liga resmi oleh PSSI.

Ya, hal pilu muncul karena Mat Halil memilih gantung sepatu di usianya yang masih sangat memungkinkan untuk berlaga. Lagi-lagi ulah PSSI, regulasi pembatasan usia pemain bagi setiap klub menjadi dalangnya.

Tercatat, Mat Halil hanya diberi kesempatan bermain di kompetisi Dirgantara Cup 2017. Kompetisi pun berakhir manis dengan keberhasilan Persebaya Surabaya mengangkat trofi juara kala itu. Setelah itu, uji coba melawan PSIS Semarang menjadi laga pamungkas bagi legenda hidup Bajul Ijo tersebut.


Peristiwa yang menimpa Mat Halil hanyalah satu dari sekian contoh pengalaman serupa yang dialami oleh pemain bola di tanah air. Regulasi yang diterapkan seolah tidak mempertimbangkan nasib pemain senior. Karier pun harus mereka relakan.

Dari beberapa kasus tersebut, semoga sang regulator segera sadar. Karena hanya kerugianlah yang dirasakan oleh sebagian besar pemain, klub, kompetisi, dan bermuara pada penurunan prestasi timnas. Namun mungkin ada (sedikit) yang diuntungkan. Wallahu a’lam bisshowab.


Penulis: Tim Selasar Network


0 Komentar