Ojol VS Debt Collector di Jogja: Bertumbuhnya Sebuah Dominasi Populis
Komunitas pengedara ojek daring atau OJOL kini menjelma jadi satu kekuatan massa yang hakiki. (Ilustrasi: Haluan)

Komunitas Ojol nampaknya bukan sekadar kelompok sesama mitra kerja. Namun lebih dari itu, mereka mewujud sebagai kekuatan massa yang besar dan cukup solid.

HUJAN senantiasa datang selepas tengah hari di Jogja Utara, sebuah titik yang lebih tepat disebut Sleman. Dan nampaknya, Kamis dan Jumat pertama di bulan Maret kurang begitu sendu bagi mendung yang kian runtuh di langit Jogja.

Tak jauh dari kampus UPN Veteran Yogyakarta, sedikit ke utara nampak sekumpulan pria berjaket hijau mengerumuni sebuah ruko. Tepatnya di Casa Grande, tak jauh pula dari markas Polda DIY di Jalan Pajajaran, atau lebih dikenal sebelumnya dengan sebutan Ringroad Utara. Ya, Kamis lalu, konflik antara ratusan pengedara ojek online dengan debt collector mulai memanas.

Jogja tak senantiasa berhati nyaman seperti kebanyakan slogan yang kita dengar. Persoalan Klithih atau premanisme jalanan, hingga kasus pertikaian antara Ojol dengan Debt Collector nampaknya menambah pelik permasalahan di Jogja.

Romantisme Jogja hanya di Malioboro dan beberapa titik lain yang sesungguhnya biasa-biasa saja. Tapi lebih daripada itu, Jogja punya segudang masalah yang entah, tak begitu popular.

Salah satunya adalah keresahan masyarakat menyoal debt collector liar yang kerap merampas motor leasing secara sepihak tanpa melalui pengadilan. Hal ini terjadi di beberapa tempat, namun titik paling sering adalah di kawasan Selokan Mataram menuju daerah Babarsari. Sebuah daerah dengan sebutan tenar “Babarsari Gotham City”.

Keberadaan ojek online di Jogja sendiri bukan tanpa penolakan. Hal ini masih saya ingat ketika masa awal perkuliahan dahulu, perselisihan antara Ojol dengan ojek pangkalan, khususnya yang mangkal di stasiun, amat runcing. Penolakan terhadap para driver Ojol yang kerap mangkal di pengkolan-pengkolan kampung pun pernah terjadi di beberapa tempat, khususnya di dekat kampus.

Hal ini tentu menuntut solidaritas bagi para driver Ojol untuk saling mengeratkan relasi untuk bertahan dari segala penolakan. Sebab di sisi lain, keberadaan Ojol membantu mobilitas dan usaha bagi masyarakat pada umumnya. Apalagi, di kota dengan ribuan mahasiswa rantau seperti Jogja, ketidak cakapan soal geografis mendapatkan solusinya, yaitu Ojol itu sendiri

Lambat laun, perkembangan Ojol di Jogja pun meningkat pesat. Dan tak butuh waktu lama untuk menyatukan solidaritas para driver Ojol sebagai kesatuan dan kekuatan macam ormas. Hingga, dalam waktu singkat, para driver Ojol telah bisa menentukan nasibnya sendiri.

Begitu berat perjuangan yang mereka alami pada mulanya. Ditolak dan dilarang di berbagai titik dengan berbagai alas an. Hingga saat ini, mereka memiliki kesatuan yang cukup cakap untuk sekadar melakukan unjuk rasa menuntut hak, hingga mempertahankan harga diri.

Soal mempertahankan diri adalah urusan solidaritas, urusan satu orang driver Ojol seolah menjadi urusan setiap individu yang ada di dalamnya. Dan sayangnya, persoalan ini dihadapkan dengan para debt collector.

Mulanya, konflik antara Ojol dengan Debt Collector (DC) di Jogja ini terjadi saat seorang driver terlibat penarikan motor leasing. Seperti pada umumnya debt collector di seputaran Selokan Mataram, perampasan motor terjadi di jalanan, dan tak jarang menimbulkan cekcok.

Nah, di sinilah lantas kejadian bermula. Hingga terjadi pemukulan terhadap driver Ojol yang merupakan debitur motor di salah satu lembaga leasing. Para DC tersebut merupakan kaki tangan lembaga leasing yang memang bertugas menarik motor kreditan, namun dengan cara sepihak.

Padahal, menurut Putusan MK Nomor 18/PUU-XVII/2019 yang menguji Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia menjelaskan bahwa penerima hak fidusia tidak boleh melakukan eksekusi sendiri melainkan harus mengajukan permohonan pelaksanaan eksekusi kepada pengadilan negeri.

Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan sebuah benda di mana hak kepemilikannya masih dalam kekuasaan pemilik benda tersebut. Dalam hal ini, benda yang dimaksud dapat ditarik jika kredit macet dan sudah dilakukan peringatan hingga prosedur pengadilan. Dan jika dalam waktu tertentu pihak debitur tak mengembalikan barang atau benda tersebut maka pemilik hak fidusia baru dapat melakukan penarikan secara langsung.

Nah, persoalannya adalah tidak adanya kejelasan persoalan perundang-undangan ini pada kasus pemukulan terhadap pengemudi Ojol ini. Kasus ini pun menimbulkan konflik berkepanjangan. Bentrokan pertama terjadi saat kumpulan pengendara Ojol mendatangi kantor lembaga leasing dan mendorong-dorong pagar.

Aksi ini kemudian dibalas pada hari selanjutnya ketika pihak kantor leasing menyatroni kantor Grab di pertokoan Casa Grande, Ringroad Utara. Aksi ini kemudian berujung lempar batu di tengah jalan raya. Pihak Polda DIY sudah menengahi pertikaian jilid satu ini menjelang sore hari. Namun naas, pertikaian kembali terjadi di Babarsari Gotham City menjelang petang.

Bagi masyarakat Babarsari Gotham City, pertikaian macam ini bisa jadi sudah hal biasa. Sebab, hamper tiap tahun selalu saja ada konflik antar kelompok di kawasan itu. Tahun 2019 lalu, konflik serupa terjadi antara mahasiswa Maluku dan Papua. Kawasan ini sendiri mendapat julukan Gotham City oleh karena kehidupan malam yang cukup semarak.

Mulai dari karaoke hingga klub malam ada di kawasan ini. Berikut pula hotel dan apartemen mahasiswa yang megah di sepanjang jalannya. Kawasan yang dekat dengan jajaran kampus swasta ini pun dihuni berbagai kalangan khususnya mahasiswa rantau dari Indonesia Timur.

Hal yang membuat konflik Ojol dengan DC ini menjadi pelik adalah karena adanya sentimen kedaerahan. Sebabnya, kebanyakan dari para DC tersebut berasal dari satu daerah di Indonesia Timur. Hal ini kemudian membuat isu semakin meruncing, meski sudah diadakan mediasi oleh pihak kepolisian. Sayangnya, kerusuhan tetap terjadi di Babarsari.

Sah, Tarif Ojol Naik Mulai Bulan Ini

Keresahan masyarakat mengenai adanya debt collector yang menarik barang kreditan secara liar di jalan memang sudah lama diresahkan masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari pelbagai laporan warga di kanal Info Cegatan Jogja yang menjadi wadah sambat masyarakat Jogja. Dan apesnya, tindakan meresahkan itu akhirnya menemukan lawan yang salah, yaitu Ojol.

Berkembangnya Ojol sebagai satu kekuatan massa benar-benar menunjukkan tajinya ketika terjadi masalah ini. Dari sini, kita bisa melihat bahwa ada potensi massa yang cukup solid antarpengendara Ojol di Indonesia. Setidaknya, mereka berangkat dari keterikatan sosial dan komunitas yang sama. Berangkat dari penolakan pada awal-awal berkembangnya Ojol, hingga sekarang hampir serupa Ormas.

Komunitas Ojol nampaknya bukan sekadar kelompok sesama mitra kerja. Namun lebih dari itu, mereka mewujud sebagai kekuatan massa yang besar dan cukup solid.

Kasus Ojol versus debt collector menjadi bukti bahwa di lain waktu mungkin kesatuan pengendara Ojol bisa serupa ormas. Sebuah dominasi populis yang berbasis pada masyarakat dan kalangan menengah ke bawah.

Begitulah, Ojol yang hadir dari segala penolakan dan perundungan oleh para ojek pangkalan, kini beralih memiliki kuasa atas nama solidaritas. Manunggaling Kawula Honda!