Orang-orang Bermasalah di Sekitar Jokowi, Mundurlah!

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Presiden Joko Widodo memperkenalkan Staf Khusus Presiden di Beranda Istana Negara, Jakarta. (FOTO: Kominfo)

-

AA

+

Orang-orang Bermasalah di Sekitar Jokowi, Mundurlah!

Nasional | Jakarta

Rabu, 22 April 2020 13:52 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Mundurnya CEO Ruangguru, Adamas Belva Syah Devara, dari jabatannya sebagai Staf Khusus Presiden dianggap menjadi preseden yang baik dalam tata kelola pemerintah yang bersih dan transparan.

Sikap Adamas Belva ini harus menjadi contoh bukan hanya bagi rekannya di stafsus yang bermasalah, tetapi juga bagi pejabat di lingkungan Presiden Joko Widodo yang tidak becus menjalankan tugasnya untuk melayani rakyat. Terlebih, malah memupuk keuntungan pribadi dan kelompok.

Para stafsus bermasalah selain Belva di antaranya seperti Andi Taufan yang konflik kepentingan dengan perusahaannya dan Gracia Billy Mambrasar yang keseloa lidah setelah menyebut stafaus setingkat dengan menteri.

Mengapa ini penting: Mundurnya Adamas Belva adalah sikap yang berani dan patut diapresiasi. Karena siapapun yang salah dan membuat kesalahan terkait memanfaatkan jabatan memang sudah selayaknya mundur.

"Walaupun dia mundur. Dia tetap untung besar karena proyek kursus online Kartu Prakerja masih dia garap," kata pengamat politik Universitas Al-Azhar Jakarta, Ujang Komarudin, kepada Haluan.co, Rabu (22/4/2020).

Konteks: Adamas Belva mengundurkan diri sebagai Staf Khusus Presiden per 15 April lalu. Surat pengunduran dirinya juga sudah diterima Presiden Jokowi. Adamas Belva sejak sepekan terakhir ini memang menjadi sorotan media terkait perusahaan startup miliknya, Ruangguru, yang mendapat proyek dari Program Kartu Prakerja.

Stafsus bermasalah lainnya perlu menyusul: Pengunduran diri Belva perlu diikuti oleh Stafsus lain yang bermasalah, salah satunya Andi Taufan Garuda Putra. Andi Taufan juga disebut-sebut memiliki konflik kepentingan dengan perusahaannya, Amartha.

"Jadi kita tunggu pengunduran diri saudara Andi Taufan. Jika tidak, maka namanya akan selalu tercoreng dalam pandangan rakyat Indonesia. Mundur adalah langkah baik dan merupakan perbuatan seorang kesatria," kata Ujang.

Belva harus tarik Ruangguru dari proyek Kartu Prakerja: Pengunduran diri Belva, juga mestinya diikuti dengan menarik perusahaannya, Ruangguru untuk dari proyek pemerintah. Pasalnya, proyek Program Kartu Prakerja itu didapatkan Ruangguru ketika ketika Belva menjabat sebagai Stafsus Presiden.

Stafsus dibubarkan saja bila tak bermanfaat: Staf khusus milenial dianggap hanya aksesori Istana saja karena tidak ada gebrakan dan manfaatnya bagi publik. Bahkan mereka cenderung memanfaatkan jabatannya untuk membesarkan perusahaannya. Bila memang tidak bermanfaat, maka Stafsus Presiden lebih baik dibubarkan.

"Jika Staf Khusus Milenial itu tak dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat, maka layak untuk dibubarkan," tegas Ujang.

Tugas Stafsus Presiden:

• Berdasrkan Prepres 17 Tahun 12, Staf Khusus Presiden melaksanakan tugas tertentu yang diberikan oleh presiden di luar tugas-tugas yang sudah dicakup dalam susunan organisasi kementerian dan instansi pemerintah lainnya.

• Staf Khusus Presiden secara administratif bertanggung jawab kepada Sekretaris Kabinet. Dalam pelaksanaan tugasnya dikoordinasikan oleh Koordinator Staf Khusus Presiden, yang diangkat oleh Presiden dari salah satu Staf Khusus Presiden.

• Dalam penugasan sesuai bidang, masing-masing Staf Khusus Presiden bertanggung jawab kepada Presiden. Staf Khusus Presiden dalam melaksanakan tugasnya wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi yang baik dengan instansi pemerintah.

• Stafsus ini terikat pada sumpah jabatan, karena itu mereka terikat etika penyelenggaraan negara yang harus dijunjung tinggi. Dengan kewenangan yang dimiliki, tidak diperkenankan mereka melaksanakan tugas untuk memperkaya diri sendiri, kelompok apalagi korporasi dan orang lain.

"Bila mana mereka melanggar hal tersebut, siapapun orangnya, dan apa saja tugasnya, sudah sepatutnya mereka mengundurkan diri," kata pengamat hukum tata negara dari Universitas Lampung (Unila), Dr. Yusdiyanto, kepada Haluan.co.

Tidak matang dan berbahaya bagi kerja Presiden Jokowi:

• Kehadiran Stafsus Presiden diharapkan pada awalnya dapat membawa pembaharuan, namun justru mereka tidak matang dan cenderung tidak mewarnai.

• Lebih parahnya, mereka terjebak pada konflik kepentingan terhadap kebijakan yang diambil. Hal ini justru sangat berbahaya bagi kerja-kerja yang dilakukan oleh Presiden Jokowi.

"Saya kira ini jadi warning bagi stafsus lainnya," ujar Yusdianto.

Staf Khusus Milenial dan Konflik Kepentingan

Masalah Kartu Prakerja belum selesai:

• Permasalahan terkait Kartu Prakerja tidak serta merta tuntas dengan mundurnya Adamas Belva. Pertama, masih perlu dilakukan penyidikan terkait MoU mitra pelaksana Kartu Prakerja yang dilakukan sebelum peraturan teknis dikeluarkan pemerintah.

• Kedua, Kartu Prakerja tidak menjawab persoalan krisis yang dihadapi, bahwa korban PHK lebih membutuhkan bantuan berupa cash transfer atau BLT dibandingkan dengan pelatihan online.

• Ketiga, dibandingkan memberikan pelatihan online, lebih baik pemerintah memberikan subsidi internet selama 3-5 bulan kepada seluruh rakyat Indonesia sehingga masyarakat bisa mengakses konten pelatihan serupa di Youtube dan platform gratis lainnya.

"Saya berharap Staf Khusus Milenial lainnya yang memiliki konflik kepentingan antara bisnis dan jabatan publik untuk mengikuti jejak Belva, yakni memilih salah satunya tetap menjadi Stafsus atau profesional melanjutkan bisnis startupnya," kata ekonom Indef, Bhima Yudhistira.

Penulis: Tio Pirnando


0 Komentar