Pakar UGM Sebut Masa Pandemi Akan Memanjang Jika Warga Masih Mudik

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Situasi Stasiun Pasar Senen, Jakarta, yang sepi imbas COVID-19. (FOTO: Haluan.co/Fajar AM)

-

AA

+

Pakar UGM Sebut Masa Pandemi Akan Memanjang Jika Warga Masih Mudik

Nasional | Jakarta

Selasa, 28 April 2020 09:04 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Pandemi COVID-19 di Indonesia diprediksi akan mereda di akhir Juli 2020 dengan perkiraan proyeksi total penderita positif Covid-19 di angka 31 ribuan kasus. Hal tersebut dikatakan Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dedi Rosadi dan tim setelah membuat pemodelan probabilistik. 

Mengapa ini penting: Banyaknya orang yang nekad mudik membuat masa pandemi COVID-19 bisa makin panjang. Menurut data Kementerian Perhubungan sudah hampir 1 juta orang mudik saat pandemi COVID-19.

Bentuk pemodelan: Prof. Dedi Rosadi bersama pakar lainnya yaitu Heribertus Joko, alumnus FMIPA UGM, dan Fidelis I Diponegoro, alumnus PPRA Lemhanas membuat permodelan probabilistik dengan dasar data nyata atau probabilistik data-driven model (PDDM), dengan asumsi waktu puncak tunggal.

Hasil pemodelan: Mengacu data publikasi pemerintah hingga 23 April 2020 diperkirakan waktu puncak pandemi terjadi pada Mei 2020 dan pandemi akan mereda di akhir Juli 2020.

Sebelumnya, Dedi dan tim telah merilis prediksi sementara akhir pandemi terjadi pada akhir Mei 2020 dengan total penderita positif COVID-19 mencapai 6.174 kasus. Prediksi menggunakan model PPDM tersebut bersifat sementara dan diperbaharui berkala sesuai data yang ada untuk prediksi jangka panjang.

Catatan: Akurasi model dengan parameterisasi dan hasil simulasi prediksi seperti di atas masih perlu dievaluasi dalam setidaknya 2 minggu kedepan. Hal itu dilakukan untuk melihat apakah terjadi tren penurunan yang konsisten atau justru menjadi tren naik. Namun, akurasi prediksi akan semakin baik jika puncak pandemi telah terlewati.

"Hasil prediksi yang diberikan di atas baru memotret data nasional sebagai satu entitas dan melakukan sejumlah simplifikasi," kata Dedi.

Pengembangan faktor pemodelan:

• Pemodelan ini belum menggambarkan potensi penyebaran virus karena faktor kondisi geografis Indonesia berupa negara kepulauan.

• Belum memodelkan efek pengaruh pengendalian dari pemerintah seperti Pengaturan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun secara umum, harus dipahami bahwa kesesuaian realitas masa depan dengan hasil simulasi model matematis (termasuk model PDDM) bergantung kepada banyak faktor yang kompleks.

WHO: Pandemi COVID-19 Masih Jauh dari Kata Selesai

Yang perlu dicermati:

• Kondisi dan usaha yang efektif untuk memutus rantai penularan penyakit khususnya di provinsi-provinsi zona merah.

• Tumbuhnya klaster baru perlu dicegah agar wabah tidak semakin lama.

• Memaksimalkan usaha-usaha untuk melindungi diri melalui social dan physical distancing, memakai masker, cuci tangan dengan sabun dan gaya hidup sehat lainnya.

Penulis: Rina


0 Komentar