Pandemi Corona, Pimpinan Level Tertinggi Harus Sering Tampil dan Berbicara untuk Tenangkan Publik

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Mantan Wakil Ketua DPR RI Periode 2014-2019, Fahri Hamzah (Foto: Istimewa)

-

AA

+

Pandemi Corona, Pimpinan Level Tertinggi Harus Sering Tampil dan Berbicara untuk Tenangkan Publik

Nasional | Jakarta

Senin, 30 Maret 2020 15:47 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Mantan Wakil Ketua DPR RI Periode 2014-2019, Fahri Hamzah mengatakan, ditengah-tengah mewabahnya virus corona atau Covid-19 di Indonesia, pejabat level tertinggi harus sering-sering tampil dan bicara untuk menenangkan rakyatnya. Covid-19 adalah musuh besar, untuk itu jangan pion-pion alias bawah yang tampil.

"Ini saat muncul. Hari-hari ini percakapan publik perlu arah dan ketenangan. Jangan nampak bingung dan ragu, karena tidak ada pejabat yang bisa mewakili kepemimpinan inti," kata Fahri Hamzah melalui keterangan tertulisnya, Senin (30/3/2020).

Ditambahkan bahwa publik itu punya daya tahan moril, salah satu sumbernya adalah keyakinan pemimpin. Sebab jika pemimpin nampak lemah, seluruh rakyat akan merasa lemah.

"Sebaliknya, jika pemimpin nampak kuat dan mampu menggerakkan bangsa, bersatu kita teguh. Ini saat pemimpin tampil mengajak rakyat bersama," imbuh Fahri.

Apalagi, menurut Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia itu, Negara telah memiliki seluruh perangkat untuk bertahan, yang tinggal digunakan. Negara Indonesia adalah negara pancasila yang memiliki perangkat budaya untuk melawan.

Jokowi Tetapkan Pembatasan Sosial Skala Besar dan Darurat Sipil

"Kecemasan adalah bukti bahwa kita punya ruang tidak paham atas situasi, dan bahkan keadaan kita sendiri. Kecemasan lebih berbahaya dari corona. Maka tugas utama pemimpin adalah mengajak rakyat melawan rasa cemas," ujarnya.

Tugas pemimpin, masih menurut Fahri adalah mempersempit ruang misteri dalam ruang publik. Bila perlu, Negara kali ini harus 'memaksa' media melakukan pendidikan yang baik bagi publik, seperti penggunaan frekwensi dan kebebasan di ruang media harus digunakan untuk selamatkan keadaan.

"Bukan untuk siaran-siaran konyol yang tidak sensitif dengan keadaan ini khususnya buat tv non berita. Itulah, arti edukasi publik," pungkas


0 Komentar