Pantas! China Klaim Natuna Bagian dari Wilayahnya, karena Memiliki Potensi Luar Biasa
Kapal nelayan berbendera China tengah melakukan pencurian ikan (illegal fishing) di Laut Natuna Utara (Foto: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Indonesia saat ini tengah bersitegang dengan China, karena kapal China Coast Guard ke dalam teritori laut Indonesia tanpa izin mengawal nelayan mereka untuk mencuri ikan di Perairan Laut Natuna. Indonesia pun menyatakan tidak terima apa yang dilakukan China adalah pelanggaran, dan mengerahkan beberapa kapal tempur dan siap melaksakan Operasi Siaga Tempur melawan China apabila situasi memburuk.

Terbaru, tiga kapal berbendara Vietnam dan beberapa kapal China terpantau sedang melakukan aktivitas di laut Natuna. Maraknya aktivitas kapal asing di perairan yang berbatasan dengan berbagai negara ini pun membuat pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk membentengi wilayah itu.

Di antaranya adalah penenggelaman kapal asing yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Laut Natuna yang sering menjadi tujuan utama para pencuri kapal asing ini membuat publik bertanya-tanya soal potensi yang terkandung di Perairan Natuna tersebut. Namun, pencurian kembali marak setelah ada pergantian Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ke Edhy Prabowo.

Ternyata laut Natuna menyimpan beragam potensi hasil laut, mulaui dari cumi-cumi, lobster, kepiting, hingga rajungan, berbagai macam ikan, serta minyak dan gas bumi melimpah terbesar di dunia.

Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan Aryo Hanggono mengungkapkan bahwa cumi-cumi menjadi komoditas laut dengan potensi hasil paling banyak. Setidaknya ada 23.499 ton potensi cumi-cumi per tahun di Natuna.

"Natuna ya, di sana ada cumi-cumi, lobster, kepiting, hingga rajungan. Di datanya itu, potensi per tahunnya lobster ada 1.421 ton, kepiting, 2.318 ton, rajungan 9.711 ton," papar Aryo, Sabtu (4/1/2020).

"Cumi-cumi paling banyak nih, dia ada 23.499 ton per tahun," ungkapnya.

Melihat potensi lautnya, tak heran apabila banyak kapal asing yang masuk ke Natuna untuk mengambil kekayaannya. Aryo pun mengakuinya, memang Laut Natuna sering menjadi sasaran kapal asing masuk, khususnya kapal nelayan asing.

Alasannya, karena wilayah Natuna strategis, selain itu nelayan lokal juga jarang yang melaut di Natuna. Puluhan ribu kapal dari Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga China disebut Aryo sering bolak-balik ke Natuna.

"Karena memang ada kedekatan geografis. Jadi Malaysia, Thailand, Vietnam, dan China maunya turun dikit dapat lah Natuna. Karena dekat dan banyak kekayaannya, puluhan ribu kapal itu. Mereka ini mau cari ikan tapi nggak mau jauh-jauh," ungkap Aryo.

"Selain itu, kapal ikan kita di sana nggak banyak, yang ada juga kecil-kecil," katanya.

Selain itu, Laut Natuna termasuk dalam wilayah pengelolaan perikanan Indonesia (WPP-RI) 711 yang meliputi Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut China Selatan.

WPP-RI 711 memiliki potensi tangkapan mencapai 1,003 juta ton per tahun dan menjadikannya sebagai potensi tertinggi nomor tiga dari 11 WPP di Indonesia.

Dua WPP yang memiliki potensi lebih besar adalah Laut Arafura (WPP-RI 718) dan Laut Jawa (WPP-RI 712). Sementara itu, khusus untuk Laut Natuna, potensi sumber daya ikan tersimpan di dalamnya adalah sebesar 504.212,85 ton per tahun atau sekitar 50 persen dari potensi WPP 711.

Hal itu didasarkan atas studi indentifikasi potensi sumber daya kelautan dan perikanan Provinsi Kepulauan Riau yang dilakukan oleh KKP pada tahun 2011.

Meski memiliki jumlah besar, jumlah tangkapan yang diperbolehkan adalah 80 persen dari potensi lestari atau sekitar 403.370 ton per tahun.

Komoditas perikanan tangkap potensial di wilayah ini terbagai dalam dua kategori, yaitu ikan pelagis dan ikan demersal. Untuk jenis ikan pelagis, potensi yang dimiliki oleh Laut Natuna mencapai 327.976 ton per tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebesar 262.380 ton per tahun. Jenis ikan demersal juga memiliki potensi yang tak kalah besar.

Potensi ikan demersal mencapai 159.700 ton per tahun. Lokasi penangkapan itu di antaranya adalah sekitar Pulau Bunguran, Natuna Besar, Pesisir Pulau Natuna, Midai, Pulau Serasan, Tambelan, dan Laut Cina Selatan.

Lokasi penangkapan kapal besar umumnya adalah yang berada di luar lokasi 4 mill laut yang berada di wilayah Laut Natuna.

Disamping itu, Natuna juga tal hanya kaya akan keragaman hayati laut, Natuna juga dikenal menyimpan kandungan gas alam. Volume yang dimilikinya sekitar dari lebih 90 triliun kaki kubik dan termasuk yang terbesar di Asia Pasifik.

Jokowi dan Prabowo Diminta Jangan Lembek soal Kedaulatan Perairan

Hal ini menjadikan wilayah laut tersebut banyak dilirik oleh negara-negara sekitar, tak terkecuali China. Sehingga China membuat Nine Dash-Line (sembilan garis putus-putus) atau garis batas imajiner yang memasukan Natuna bagian dari wilayah China dan mengklaim wilayah ZEE Indonesia.

Produksi gas dan minyak di Natuna telah dimulai sejak 1986 dengan kapasitas gas 490,3 juta standar kaki kubik per hari serta 25.113 barrel minyak dan kondensat per hari.

Saat ini, ada 16 wilayah kerja migas di Natuna, yang terdiri atas enam wilayah kerja eksploitasi dan sisanya wilayah kerja eksplorasi.

Ada empat wilayah kerja yang sejauh ini sudah berproduksi, yaitu wilayah kerja Blok B Laut Natuna Selatan oleh Conoco Phillips Inc, Blok A Laut Natuna oleh Premier Oil Natuna Sea BV, Blok Kakap oleh Star Energy, serta Blok Udang oleh Pertamina EP dan Pertalahan Arnebatara.