Para Kartini Indonesia Sedang Bersitungkin Melawan Wabah Corona
Ilustrasi perawat Indonesia. (Foto: Ist)

JAKARTA, HALUAN.CO - Hari ini, tanggal 21 April bangsa Indonesia, khususnya kaum perempuan memperingati Hari Kartini.

Peringatan tahun ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang begitu semarak. Hampir setiap sekolah, bahkan hingga ke tingkat RT ikut merayakannya.

Mengapa demikian: Tahun ini sungguh jauh berbeda karena bangsa ini sedang perang menghadap wabah virus corona atau COVID-19.

Banyak para Kartini Indonesia saat ini sedang bersitungkin menangani pasien COVID-19, baik dokter maupun perawat. Mereka adalah pahlawan bangsa ini dalam menghadapi wabah yang telah menyerang lebih 6 ribu orang di Indonesia.

Dari data yang dirilis Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), mayoritas perawat yang meninggal adalah perempuan. Dari 16 orang perawat yang meninggal akibat COVID-19, 11 orang di antaranya adalah perempuan.

Apa katanya: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa turut memaknai peringatan Hari Kartini 2020.

Peran seorang perempuan selama masa darurat COVID-19 ini benar-benar sangat diuji di semua lini dan bidang kehidupan.

Terutama di bidang kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam penanggulangan COVID-19. Mereka telah mengorbankan jiwanya dalam menghadapi wabah virus dari Kota Wuhan, China itu.

"Jadi tahun ini bukan lagi berbicara tentang kesetaraan, tapi signifikansi peran dan tanggung jawab yang diemban para perempuan tersebut," Khofifah, Selasa (21/4/2020).

Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Erlina Burhan Dalam konferensi pers tentang 'Peran Para Kartini di saat Pandemi COVID-19' yang disiarkan di YouTube BNPB, Selasa (21/4/2020) berbicara soal dirinya yang harus berbagi peran sebagai tenaga medis, khususnya saat pandemi Corona dengan perannya sebagai ibu.

Dia harus berkorban. Kurang memiliki waktu untuk anak-anaknya pada saat pandem corona ini. Waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah sakit meski saat ini DKI Jakarta berstatus pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Saya ini dokter, tapi juga ibu rumah tangga. Saya tidak punya waktu untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah," ujarnya.

Dia berharap para ibu ikut berperan serta selama PSBB ini dengan menciptakan suasana rumah yang nyaman, sekaligus terus menjaga keluarganya, khususnya anak-anak, dari penyebaran virus corona.

Siapa itu Raden Ajeng Kartini:

• Dia adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang bangsawan dan bupati Jepara, lahir anggal 21 April 1879.

• Di masa kecil, sempat diperbolehkan untuk bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Namun, ketika usianya menginjak 12 tahun, dia harus tinggal di rumah karena dipingit. Kendati terkurung di rumah, hal ini tidak menyurutkan semangat belajarnya.

• Dengan menguasai bahasa Belanda dia mulai belajar sendiri dan menulis surat pada teman-temannya dari Belanda. Dari sinilah, Kartini tertarik pada topik emansipasi perempuan. Kartini ingin memajukan perempuan pribumi setelah melihat kemajuan berpikir para perempuan Eropa.

• Kartini sendiri menikah pada usia 24 tahun setelah dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

• Meski dijodohkan, suami Kartini memahami keinginannya untuk memajukan kaum perempuan. Kartini juga didukung untuk mendirikan sekolah khusus perempuan. Sayangnya, R.A. Kartini meninggal dunia beberapa hari selepas melahirkan anak pertamanya di usia 25 tahun.

Kegiatan Hari Kartini: Meski di tengah wabah corona, sejumlah kegiatan masih tetap berlangsung. Kegiatannya pun disesuaikan dengan kondisi saat ini. Polwan di sejumlah daerah mengisi kegiatan Hari Kartini ini dengan membagikan sembako.

Warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Perempuan Klas IIA Denpasar, memproduksi sekaligus menyumbangkan 500 masker kepada panti asuhan, pasar dan pengguna jalan di wilayah Denpasar selama pandemi COVID-19.

“Kondisi seperti ini mereka tetap berkarya membuat masker dan hasilnya sudah dibagikan ke warga binaan di sini. Ada yang dibagikan ke pengendara yang tidak pakai masker, dan panti asuhan berserta kue buatan mereka sendiri juga sudah dibagikan,” kata Kalapas Perempuan Klas IIA Denpasar, Lili, usai dikonfirmasi di Denpasar, Selasa (21/4/2020).

Polwan Polres Mojokerto menggunakan busana Srikandi Majapahit membagikan 1.020 paket sembako kepada warga terdampak birus vorona, Selasa (21/4/2020).

"Hari Kartini mengandung makna bahwa perempuan mempunyai kesetaraan dengan laki-laki dan memiliki kontribusi yang luar biasa khususnya di institusi kepolisian," Kapolres Mojokerto, AKBP Feby Hutagalung.

Di Surabaya para para wanita awak bus mengenakan busana kebaya, Selasa (21/4/2020). Para wanita berkebaya ini menghiasi lima armada Surabaya Bus di jalur Purabaya-Jembatan Merah atau biasa disebut jalur Utara dan Selatan.

Kepala Unit Suroboyo Bus, Sugeng S mengatakan sosok Kartini ditonjolkan di dalam Suroboyo Bus, walaupun di tengah pandemi virus corona saat ini dan mereka harus menggunakan masker.

“Jika Kartini dahulu harus bertahan di masa kolonial, Kartini saat ini harus tetap eksis saat pandemi COVID-19 melanda dunia,” kata Sugeng.

Forum Fungsional Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Forsi) LHK Sulsel dalam memperingati Hari Kartini turut meringankan para terdampak virus corona melakukan aksi sosial berupa pembagian sembako, Selasa 21 April 2020.

Sudah 480 WNI Positif COVID-19 di Luar Negeri dan 22 Meninggal

Peringatan Hari Kartini di tengah pandemi COVID-19 diperingati dengan cara yang unik. Sejumlah warga melakukan penyemprotan disinfektan di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, dengan menggunakan kebaya.

"Peringatan Hari Kartini jadi kita adakan penyemprotan disinfektan di rumah-rumah warga sekaligus merayakan Hari Kartini, meski di tengah wabah Corona, Kartini harus tetap jalan. Hanya kan kita harus bermasker dan jaga jarak. Saatnya perempuan bangkit untuk melawan Covid-19," kata salah satu warga bernama Diana, Selasa 21 April 2020.


0 Komentar