Parasite: Meretas Batas Film-film Berbahasa Asing di Ajang Academy Awards
Film Parasite menjadi film Asia dan berbahasa non-Inggris pertama yang meraih Oscar's Best Picture tahun 2020 (Foto: CGV)

Bagi Anda yang mungkin masih sangsi terhadap film Korea, atau menganggap “Ah pasti isinya cuma jatuh cinta, ketawa-ketawa, nangis gitu-gitu aja”, bisa jadi Parasite menjadi alasan kuat untuk Anda mencoba menonton film Korea yang satu ini. Tentu saja, ini bukan film drama seri yang berisi karakter-karakter tampan dan cantik. Parasite membawa perspektif kita melampaui itu. 

“Hah, apa? Film Korea? Dramanya pasti parah tuh?”, begitu ujar saya pada seorang kawan yang kala itu mengajak saja menonton Parasite. Film yang meraih Best Picture Oscar Academy Awards 2020.

YA, bagi para penikmat film yang kerap menganggap film Korea hanya terbatas pada drama picisan, Parasite hampir terlewat, atau malah sengaja dilewatkan begitu saja. Tentu hal ini juga berdampak pada saya yang memang bukan penggemar drama Korea, atau kerap disebut drakor.

Sentimen bahwa film berbahasa asing (non-Inggris) yang tidak akan memenangkan Oscar pun sempat mencuat. Hal ini dikarenakan banyak hal, terutama keengganan masyarakat Amerika Serikat yang tidak suka dengan keberadaan subtitle pada sebuah film. Hal itu lantas membuat kesan bahwa film-film berbahasa asing tidak menarik di pasar AS.

Namun, beberapa kalangan justru tak setuju dengan film-film Hollywood yang dipaksakan harus berbahasa Inggris. Meski latar kejadian dalam film tersebut berada di daerah yang tak berbahasa Inggris. Ketidaksesuaian bahasa dan latar justru menghilangkan esensi dari sebuah film. Begitu beberapa pihak mengkritik hal ini sebagai langkah untuk memanjakan penonton di satu negara saja, yaitu AS.

Lihat saja, beberapa film legendaris macam Schindler’s List (1993) berlatar di Polandia dan Jerman pada masa perang dunia kedua, dan anehnya semua orang berbahasa Inggris. Bagaimana fakta ini kemudian dipertanggungjawabkan? Kita tak tahu, namun Parasite adalah salah satu film yang mampu mendobrak hal ini.

Sebelumnya pada tahun lalu kita mendapatkan film Roma yang memenangi kategori Best Foreign Language Film of the Year dan juga menang pada beberapa kategori lainnya. Roma menjadi salah satu film berbahasa non-Inggris yang merajai nominasi Oscar edisi 2019.

Kesuksesan Roma memberi karpet merah bagi Parasite setahun kemudian untuk menjadi film berbahasa non-Inggris dan film Asia pertama yang memperoleh Oscar’s Best Picture. Dan tentu, menjadi anomali bagi kedigdayaan Hollywood yang meletakkan beberapa film-film kualitas wahid dalam daftar nominasi Best Picture tahun ini. Parasite mengalahkan delapan nominator lainnya, termasuk film 1917 yang memiliki sinematografi luar biasa dengan teknik single shoot-nya.

Terlepas dari anggapan miring terhadap film berbahasa non-Inggris yang tentu dibubuhi subtitle, film garapan Bong Joon-ho tetap menjadi fenomena sinema.

Bagi anda yang mungkin masih sangsi terhadap film Korea, atau menganggap “Ah pasti isinya cuma jatuh cinta, ketawa-ketawa, nangis gitu-gitu aja”, bisa jadi Parasite menjadi alasan kuat untuk anda mencoba menonton film Korea yang satu ini. Tentu saja, ini bukan film drama seri yang berisi karakter-karakter tampan dan cantik. Parasite membawa perspektif kita melampaui itu.

Pertama, film ini pada dasarnya merupakan film satir tentang bagaimana kesenjangan sosial menumbuhkan rasa “benci” antar kelas. Kisah sebuah keluarga proletar ini kemudian menjadi basis cerita Parasite. Mereka melakukan penipuan cerdik dengan ‘menguasai’ sebuah rumah besar milik sebuah keluarga kaya.

Pelan tapi pasti, satu per satu dari anggota keluarga miskin itu bekerja di rumah besar itu tanpa si empunya rumah tahu bahwa para pembantunya merupaka satu keluarga. Hingga penipuan dan kecerdikan keluarga ini usai dengan sebuah adegan thriller yang menjungkirbalikkan emosi penonton.

Sebab, sepanjang film penyajian berbasis komedi menjadi jalan utama bagi penonton mengetahui pengembangan masing-masing karakter dalam film tersebut. Eh tahunya, ada darah, ada baku hantam dan kriminalitas di bagian akhir film. Sadis dan psikopat adalah dua kata bagi sebuah film yang masih berani menaruh komedi di saat yang sama dengan tindakan pembunuhan.

Sepanjang film ini pada mulanya dibumbui banyak komedi dan hal-hal yang mengocok perut. Tanpa disadari, plot twist terjadi saat keluarga ini menemukan konflik ganda. Penipuan mereka terhadap sebuah keluarga kaya raya terendus oleh pasangan miskin yang dahulu bekerja di rumah besar itu.

Dan dari sini, klimaks pertikaian mulai membuat penonton tercengang. Saya kira, bagian-bagian ini yang membuat Parasite menjadi layak diganjar Best Picture.

Penggunaan latar sederhana namun kuat menjadi hal lain yang juga patut diacungi jempol. Satu tempat kumuh tempat keluarga miskin tinggal dan sebuah rumah besar milik semua cerita dalam film ini mengalir. Pergolakan antara baik dan buruk pun menjadi hal yang lantas menjadi impresi bagi penonton film ini.

Sebab, entah batas mana yang bisa dipakai untuk menilai ‘perilaku’ tokoh-tokoh dalam film ini. Kita hampir tak punya waktu dan alasan untuk menempatkan mana sosok protagonis dan antagonis dalam film. Kita hanya terpaku dalam cerita yang mengalir dan bermuara pada sebuah klimaks nan dramatis. Tak ada keajaiban dan ending yang sesuai dengan harapan kita dalam film ini. Hanya realita, dan tentu realita ini pula yang kemudian menjadi bahan tertawaan.

Gila memang, menonton film thriller namun penuh dengan tawa. Ya, tapi ketidakwajaran itu adalah hasil dari betapa khusyuknya Parasite membawa penontonnya masuk dalam alur cerita mereka. Well said, Parasite bisa jadi membuka jalan bagi film-film Asia lain untuk berani beradu kualitas dengan film-film Hollywood.