Paskah dan Tradisi yang Turut Menyertainya
Paskah dan tradisi lokal saling memengaruhi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. (Ilustrasi: Haluan.co)

Tradisi-tradisi inkulturasi Paskah ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa perkembangan agama tak bisa lepas dari budaya. Dan sebaliknya saling memengaruhi satu sama lain. 

SEBAGAI hari besar keagamaan, Paskah tak lepas dari proses akulturasi budaya di wilayah tempatan. Paskah sendiri kemudian lebih dikenal sebagai hari raya umat Kristiani di seluruh dunia.

Meski, pada mulanya umat Yahudi terlebih dulu memakai Pesakh sebagai hari raya untuk merayakan kebebasan bangsa mereka dari perbudakan Mesir oleh Musa. Pesakh pun tak berdiri sendiri, sebab secara historis masih ada kaitannya dengan perayaan orang-orang Gnostik yang menyembah Kain, putra Adam.

Pada zaman Yesus sendiri, hari raya Pesakh atau Paskah Yahudi dijalankan dengan khidmat. Seminggu perayaan ini sering disebut dengan Hari Raya Roti Tak Beragi. Yesus dan kedua belas muridnya juga menjalankan perayaan Paskah Yahudi dengan makan bersama sebelum wafatnya di kayu salib.

Apa yang dilakukan Yesus dan para murid ini kelak populer dengan sebutan perjamuan malam terakhir. Leonardo da Vinci kemudian mengabadikan kejadian ini dengan lukisannya yang terkenal, The Last Supper pada abad pertengahan.

Selepas jemaat Kristen mulai terbentuk pertama-tama di Antiokhia, Paskah kemudian diadopsi umat Kristen sebagai perayaan kebangkitan Yesus dan penebusan dosa. Saling singgung antara Paskah Yahudi dan Paskah Kristen kemudian ditengahi sejak Konsili Nikea pada tahun 325 Masehi.

Sejak saat itu, Paskah Kristen terpisah dari penanggalan Yahudi, pun secara mandiri menjadi tradisi yang mengakar pada Kekaisaran Romawi. Konstantin I adalah pempimpin Romawi yang memiliki andil besar dalam terselenggaranya Konsili Nikea Pertama ini.

Lantas, tradisi Paskah kian berkembang dari tiap-tiap negara. Kita mengenal telur dan kelinci paskah sebagai bagian dari tradisi ini dunia Barat.

Di Amerika, dua tradisi ini populer setelah kelompok imigran dari Jerman datang di Pennsylvania, AS pada tahun 1700-an. Laman History menuliskan bahwa tradisi bernama Osterhase atau Oschter Haws. Tradisi ini kerap dikenal pada kalangan anak-anak dengan yang khas dengan kegiatan sarang telur untuk meletakan telur berwarna.

Setelah menyebar di seluruh AS, kemudian muncul aktor lain dalam tradisi ini yaitu peran kelinci paskah sebagai ‘pembawa kado’ bagi anak-anak yang telah menghias telur paskah. Kelinci paskah ini dikenal laiknya Sinterklas saat Natal. Bedanya, kelinci paskah seringkali didongengkan hadir saat pagi menjelang hari Paskah.

Sedangkan kegiatan menghias telur paskah sendiri muncul lebih dulu setidaknya pada abad ke-13 di Amerika Serikat. Tradisi kelinci dan telur paskah ini kemudian menjadi hal yang terpisahkan bagi umat Kristiani di beberapa benua. Kelinci melambangkan kelahiran dan telur melambangkan kebangkitan. Konon, kelinci identik dengan fertilitas tinggi sehingga disimbolkan sebagai kelahiran abadi.

Via Dolorosa: Jalan Sengsara Menuju Paskah

Di Indonesia sendiri, perayaan Paskah juga mengalami akulturasi. Prosesi Jalan Salib yang dilaksanakan pada Jumat Agung seringkali disesuaikan dengan kultur masyarakat setempat. Beberapa gereja Katolik di Magelang dan Jogja misalnya, menyisipkan drama penyaliban Yesus dalam bahasa dan busana Jawa. Meski secara tata ibadah masih terikat dengan gereja Katolik Roma.

Di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, Paskah identik dengan tradisi Semana Santa. Kata Semana dalam bahasa Portugis berarti minggu atau pekan. Sedangkan Santa berarti suci. Perayaan ini dilakukan selama sepekan dari Minggu Palma hingga Minggu Paskah.

Mulyati dalam tulisannya berjudul “Semana Santa, Tradisi Paskah Umat Katolik di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur mengatakan bahwa Semana Santa merupakan inkulturasi dari pengaruh Portugis yang membawa agama Katolik ke daerah itu. Setidaknya ada delapan suku bangsa di Flores Timur yang hingga saat ini berperan aktif dalam prosesi Semana Santa ini.

Semana Santa dimulai pada Minggu Palma dengan simbolisasi patung Bunda Maria yang disebut Tuan Ma. Dalam prosesi ini, warga Larantuka mempercayai bahwa patung Tuan Ma memiliki tuah mujizat dan kesembuhan.

Ziarah terhadap Tuan Ma pun didatangi berbagai kalangan dari pulau-pulau di NTT. Perarakan patung ini dilakukan dari Kapel Tuan Ma ke Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. Mirip seperti gerebeg agung di Keraton Yogyakarta, masyarakat akan tumpah ruah di jalanan demi memandang patung Tuan Ma yang berusia lebih dari lima abad itu. Sedangkan patung Yesus dikenal sebagai Tuan Ana.

Kedua patung hasil inkulturasi ini kemudian diarak mengelilingi Kota Larantuka dengan delapan perhentian sesuai jumlah suku yang ada di kota itu. Suku-suku bangsa itu meliputi Mulawato, Sarotari, Hurint Balela, Kapten Jentera, Riberu, Sau, Amaleken Lewonama, dan keluarga raja di Kuce.

Perarakan ini berpusat pada perhentian Amaleken Lewonama yang menjadi pusat dari prosesi Jumat Agung. Tradisi perarakan Tuan Ma dan Tuan Ana di Larantuka ini kemudian menjadi ciri khas Paskah di Flores. Dan salah satu yang amat dikenal dari Indonesia.

Tradisi-tradisi inkulturasi Paskah ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa perkembangan agama tak bisa lepas dari budaya. Dan sebaliknya saling memengaruhi satu sama lain.

Bahkan siapa sangka jika Paskah yang mulanya diperingati sebagai perayaan terbebasnya leluhur bangsa Yahudi oleh Musa menjadi tradisi lokal nan riuh di Larantuka, Flores Timur dalam iman Kristiani yang kental. Atau dirayakan dalam bahasa Jawa di gereja-gereja Katolik di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Tak cuma itu, tokoh-tokoh seperti Yesus dan Bunda Maria pun seolah dipoles sedemikian rupa sehingga relevan dengan budaya setempat. Unsur penamaan, penggambaran, dan tentu simbolis dari tokoh-tokoh ini juga mengalami akulturasi dengan penambahan identitas setempat.

Hal itu nampak selaras dengan semarak sambutan Paskah yang senantiasa disampaikan Paus di balkon Basilika Santo Petrus Vatikan setiap tahunnya. Urbi et Orbi, untuk kota dan dunia, begitu tajuk sambutan Paskah rutin dalam berbagai bahasa yang disampaikan Paus kepada ribuan umatnya di Lapangan Basilika Santo Petrus.

Meski tahun ini, acara rutin yang identik dengan Paskah itu nampak tak mungkin dilakukan. Mengingat wabah pandemi begitu merjalela di Italia dan tentunya berdampak pada Vatikan yang terletak di dalam kota Roma. Namun jauh dari sana, tradisi Paskah seakan mengembangkan bentuknya secara mandiri. Seturut dengan tradisi di mana Paskah dirayakan.


0 Komentar