PBNU Ingin Pemilihan Presiden Lewat MPR Lagi
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj bertemu Ketua MPR Bambang Soesatyo. (FOTO: Kompas.com)

JAKARTA, HALUAN.CO - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, mengatakan, pihaknya mengusulkan agar pemilihan presiden kembali melalui MPR RI.

Ia menyampaikan hal itu usai melakukan pertemuan dengan pimpinan MPR di kantor PBNU, Jakarta, Rabu (27/11/2019)

"Tentang pemilihan presiden kembali MPR, itu keputusan Munas NU di Kempek, Cirebon, 2012," kata Said.

Said mengatakan, hasil Munas yang digelar pada masa pemerintahan Presiden Susilo Yudhoyono itu diikuti para ulama besar NU, Salah satunya Rais Aam Syuriah PBNU sejak 1999 hingga 2014, Kiai Sahal Mahfudz.

"Munas ada dua ya, ada Munas kiai-kiai secara nasional. Kami Tanfidziyahnya, namanya Konferensi Besar. Di NU ya itu, Munas dan Konbes. Jadi itu suara kiai-kiai, bukan suara Tanfidziyah," ujar Said.

Di tempat yang sama, Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, mengungkapkan hal serupa yang disampaikan Said.

"Tadi disampaikan para kiai yang hadir, pengurus PBNU menyayangkan MPR mereduksi diri menjadi lembaga negara," ujarnya.

Bamsoet, sapaan akrabnya, mengatakan, PBNU ingin ketatanegaraan menjadi lebih rapi. Pasalnya, selama ini tidak ada lembaga tertinggi yang membuat terjadinya kerancuan dalam ketatanegaraan Indonesia.

"Kami pada hari ini juga mendapatkan masukan dari hasil Musyawarah Nasional (Munas) PBNU sendiri pada September 2012 di Pondok Pesantren Kempek Cirebon," ungkap dia

Bamsoet mengungkapkan, PBNU merasa pemilihan presiden dan wakil presiden lebih tinggi kemaslahatannya dikembalikan ke MPR ketimbang secara langsung.

"Itu berdasarkan hasil Munas di Pondok Pesantren Kempek di Cirebon tahun 2012," paparnya.