Pekerja Seni di Tengah Pandemi

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Pekerja seni adalah salah satu kelompok pekerja yang amat terdampak di tengah pandemi karena tak memiliki penghasilan tetap tiap bulannya. (Ilustrasi: Haluan.co)

Pekerja seni sendiri tidak hanya melulu soal seorang artis atau penampil, tetapi juga mereka yang bekerja di balik layar. Sehingga dibatalkannya pagelaran seni maupun pameran seni tentu langsung berdampak pada seluruh pihak yang memproduksi seni itu sendiri. 

MICHAEL Heggett, seorang penata lampu memaparkan pada The Guardian bahwa hidupnya berubah sejak 16 Maret 2020. Dalam tiga hari, seluruh agenda kerjanya sebagai penata lampu lenyap seketika. Ia kehilangan tur dunia duo musisi Inggris, Pet Shop Boys dan juga Olimpiade Tokyo yang rencananya berjalan tahun ini.

Sebagai penata lampu bagi penampilan duo legenda dance-pop Neil Tennant dan Chris Lowe dan pagelaran akbar Olimpiade Tokyo itu, setidaknya Heggett kehilangan pendapatan kotor sekitar enam puluh ribu poundsterling. Dan secara langsung, ia kehilangan sembilan bulan kerja hingga November 2020.

Seperti Heggett, pekerja seni umumnya memang bekerja dari pentas ke pentas. Dari pertunjukan ke pertunjukan. Sehingga pendapatan mereka tergantung apa yang mereka kerjakan. Dengan kata lain, mereka tak punya penghasilan tetap tiap bulannya.

Pandemi secara tiba-tiba menghancurkan bisnis dan kebutuhan hidup para pekerja seni. Bahkan di negara tempat Heggett tinggal, Inggris, pandemi melumpuhkan semua sektor hiburan. Tak terkecuali pertandingan sepak bola, yang menjadi salah satu kegiatan tenar di Inggris. Di mana di belakang layar suatu pertandingan sepak bola juga terdapat banyak pihak penyokong, di antaranya adalah pekerja seni seperti Heggett.


Pekerja seni sendiri tidak hanya melulu soal seorang artis atau penampil, tetapi juga mereka yang bekerja di balik layar. Sehingga dibatalkannya pagelaran seni maupun pameran seni tentu langsung berdampak pada seluruh pihak yang memproduksi seni itu sendiri.

Di Amerika Serikat, Nellie Killian, seorang pemrogram film di Brooklyn, New York bersama tiga koleganya menginisiasi adanya penggalangan dana daring bagi para pekerja seni di negara bagian itu. Dikutip dari New York Times, Killian menyatakan bahwa para pekerja seni ini umumnya adalah pekerja yang dibayar per jam. Sehingga harapan penghasilan hidup mereka akan tumbang ketika pusat-pusat kesenian seperti bioskop, gedung teater, dan lainnya tak beroperasi. Killian sendiri menggalang dana bagi para pekerja teater yang tentu tak memiliki penghasilan selama tak ada pertunjukan.

Solidaritas macam ini mulai tumbuh di AS sejak pusat kebudayaan utama negara itu di beberapa negara kota seperti New York, Washington, San Francisco, Boston, Chicago, dan Seattle mengalami tamparan keras akibat pandemi. Banyak pertunjukan dan eksibisi seni dibatalkan atau ditunda akibat merebaknya pandemi di seluruh AS. Mengingat kini negara itu menjadi negara dengan jumlah kasus dan jumlah kematian tertinggi di dunia.

Di tanah air kita, para pekerja seni juga terdampak. Baik mereka yang berada pada pertunjukan seni arus utama, maupun seniman tradisi.

Sutak Wardhiono atau Eyang Sutak, seorang seniman ludruk asal Malang, Jawa Timur memaparkan bahwa pandemi ini memang tamparan keras bagi seniman. Namun dirinya juga berpikir bahwa seniman tak boleh hanya mengeluh saja dalam menghadapinya. Sutak mengajak para rekan-rekan senimannya untuk berkontemplasi dan tidak kehabisan akal, sehingga tak hanya menikmati panggung saja. Ia mengajak seniman-seniman tradisi untuk membaca situasi untuk kemudian diadaptasi menjadi suatu karya.

Seniman tradisi lainnya yang terdampak adalah dalang kondang dari Yogyakarta, Ki Seno Nugroho. Jadwal pementasan wayang kulit oleh Ki Seno Nugroho di bulan Maret dan April terpaksa batal atau ditunda karena pandemi. Padahal, di bulan April, jadwal dalang yang hampir tak pernah libur ini sangat padat. Setidaknya, ada 22 hari pagelaran wayang kulit Ki Seno Nugroho di bulan April yang terdampak pandemi.

Pagelaran itu tak hanya terjadwal untuk pementasan di Jogja dan sekitarnya saja, namun juga beberapa di Jawa Barat, Jawa Timur, Magelang dan Palembang. Dalang muda dengan penggemar fanatik yang menamakan diri mereka PWKS itu pun nampaknya amat terpukul oleh kondisi ini.

Tentu saja, apa yang dialami Ki Seno Nugroho sebagai seorang seniman tradisi juga dialami dalang wayang kulit lainnya. Tak hanya itu, dibatalkannya pagelaran wayang kulit berarti juga menutup penghasilan para pengrawit, sinden, penata lampu, dan profesi lain yang turut serta di dalamnya.

Seniman-seniman memiliki keterbatasan tertentu dalam menggunakan ruang maya sebagai panggung daring mereka. Sebab beberapa pertunjukan tradisi memerlukan lebih dari dua orang penampil. Seperti wayang kulit dengan dalang, puluhan pemain karawitan, dan jajaran sindennya. Juga ludruk dan ketoprak yang juga tak bisa dilakukan seorang diri.

Berbeda dengan musisi-musisi tradisional dengan subjek penampil kurang dari lima orang, mereka bisa tetap melakukan pertunjukan lewat kanal-kanal daring. Bahkan, Didi Kempot beserta jajaran pemusiknya sempat melakukan konser amal yang menghasilkan donasi sebesar 5,3 miliar rupiah beberapa waktu lalu di Kompas TV.

Beberapa konser amal juga dilakukan oleh musisi-musisi melalui kanal YouTube, InstagramTV, atau Zoom. Namun bagi pekerja seni tradisional, beberapa hal semacam ini tak selalu mudah untuk dilakukan. Sebagai perbandingan, gamelan Jawa dan Sunda setidaknya membutuhkan sedikitnya tujuh orang untuk dapat dibunyikan secara utuh, itu pun dengan minimalisasi pada beberapa instrumen serupa.

Belum pula para musisi yang pekerjaannya tergantung pada acara-acara temporal seperti perkawinan. Genre musik seperti keroncong adalah salah satu yang kerap tampil untuk acara perkawinan semacam itu. Dan kita tahu sendiri bahwa kegiatan pesta perkawinan di masa pandemi amat dilarang. Sama halnya dengan musisi-musisi reguler yang menunaikan pentas dari kafe ke kafe. Pandemi secara langsung mengurangi kepadatan kafe dan ruang-ruang tongkrongan yang biasa menjadi panggung bagi para musisi semacam itu.


Musuh Kita Bukan Virus, Tapi Orang-orang Bebal

Di masa krisis, pekerja seni laiknya hidup di tengah ironi. Di mana mereka umumnya bekerja untuk membangun penghiburan bagi insan-insan yang tertekan. Namun di sisi lain, mereka juga nampak tak dapat berbuat banyak. Bahkan, bantuan dari pemerintah yang berupa insentif tunai pun rasanya tak banyak mengubah keadaan.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Menteri Parekraf mencanangkan bantuan yang menyasar seratus ribu pegiat parekraf yang terdampak pandemi. Kemenparekraf setidaknya telah menyiapkan relokasi anggaran sebesar 250 miliar rupiah kepada pelaku parekraf. Selain itu, Kemendikbud juga telah membuat dua skema untuk membantu perekonomian para pekerja seni yang terdampak pandemi.

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan bahwa skema pertama yang akan mendapat bantuan adalah pekerja seni dengan penghasilan rerata di bawah 10 juta rupiah per bulan, tidak punya pekerjaan selain berkesenian, sudah berkeluarga, dan belum mendapat bantuak seperti Program Keluarga Harapan dan Bansos.Untuk skema pertama ini Kemendikbud berencana untuk mengintegrasikan data pekerja seni dalam Program Keluarga Harapan yang dilaksanakan Kementerian Sosial.

Sedangkan skema kedua adalah untuk pekerja seni dengan penghasilan rerata di bawah 10 juta per bulan, belum berkeluarga, dan belum mendapatkan bansos atau terdaftar dalam program Kartu Pra Kerja. Tentu pendaftaran ini dilakukan dengan seleksi cukup ketat mencakup data diri dan bukti karya dari para pekerja seni. Pendaftaran ini sendiri dibuka secara daring. Padahal, tak semua pekerja seni, terutama pekerja seni tradisi tidak memiliki akses teknologi komunikasi yang cukup dan cakap.

Apa yang dirasakan pekerja seni ini mungkin nampak tak setenar keluhan para pengemudi ojek daring atau pekerja di sektor swasta lain. Namun faktanya, pekerja seni dengan penghasilan tak tentu memang besar jumlahnya di Indonesia.

Kemendikbud sendiri sudah mencatat setidaknya ada 11.873 orang pendaftar skema pertama, dan 9.122 orang pendaftar skema untuk skema kedua yang dicanangkan pemerintah tersebut. Angka ini tentu masih jauh dari ketercakupan seluruh pekerja seni yang terdampak pandemi di Indonesia. Belum lagi para pekerja di balik layar sebagai penata lampu, penata suara, penata panggung, dan lainnya yang tidak memiliki bukti karya seperti persyaratan Kemendikbud.

Sosok-sosok pekerja seni di luar penampil ini yang kemudian terlupa di belakang barisan. Sama halnya para pekera seni tradisi yang tak mampu mengakses informasi bantuan. Dan tentu, sektor seni dan hiburan ini jauh justru nampak jauh dari ingar-bingar lolongan barisan pekerja yang meminta bantuan pemerintah. Beda halnya seperti komunitas pengemudi ojek daring dan pekerja di sektor swasta, para pekerja seni nampaknya kurang diperhitungkan dalam lema ‘pekerja’ itu sendiri.


0 Komentar