Pengananan Flu Burung dan SARS di Indonesia, Wabah Sebelum Corona

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Penanganan Flu Burung & Sars Di Indonesia

-

AA

+

Pengananan Flu Burung dan SARS di Indonesia, Wabah Sebelum Corona

Sejarah | Jakarta

Senin, 13 April 2020 11:02 WIB


Dua wabah sebelum corona, flu burung dan SARS, pernah berhasil ditangani pemerintah pada masanya.

Sebelum virus corona mewabah di Indonesia, ada juga virus dari luar negeri yang juga turut mampir melanda, yakni virus flu burung dan SARS. Bagaimana penanganannya kala itu?

Flu Burung

Menurut Buku Sejarah Pemberantasan Penyakit di Indonesia, virus avian atau flu burung juga merupakan virus influenza tipe A yang bersifat menular. Penyakit ini menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekreta burung dan unggas yang menderita flu burung.

Penularan dari unggas ke manusia dapat terjadi jika manusia telah menghirup udara yang mengandung virus flu burung. Cara lainnya adalah kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi virus flu burung.

Meskipun begitu, belum ada bukti yang menyatakan bahwa virus ini dapat menular dari manusia ke manusia dan menular melalui makanan.

Gejala flu burung pada manusia kurang lebih sama dengan Covid-19. Penyakit ini diawali dari gejala awal berupa demam dengan suhu di atas 38 derajat, lalu batuk dan nyeri tenggorokan, radang saluran pernapasan atas, pneumonia, infeksi mata, dan nyeri otot.

Sedangkan, masa inkubasi virusnya berkisar 2 hingga 10 hari setelah terpapar. Namun, sebagian besar menunjukkan gejalanya terjadi setelah 3-5 hari terpapar virus. Pengobatannya dilakukan dengan oksigenasi bila terjadi sesak napas; hidrasi dengan pemberian cairaan parenteral (infus); pemberian obat antivirus oseltamivir 75 mg dosis tunggal sema 7 hari; dan pemberian amantadine saat awal terjadi infeksi.

Berdasarkan laporan Pedoman Penanggulangan Flu Burung terbitan Kementerian Kesehatan, penyakit flu burung pertama kali di Cina pada 1997, tepatnya Hongkong, dengan jumlah 18 kasus dan 6 meninggal. Tahun 2003, virus ini menyebar ke berbagai belahan dunia, antara lain Vietnam, Thailand, Kamboja, Turki, iran, Mesir, dan Azerbaijan, dan termasuk Indonesia.

Di Indonesia sendiri, secara akumulatif, jumlah penderita flu burung dari Juni 2005 hingga September 2017 sebanyak 200 orang dan 168 orang meninggal. Dalam mengatasi penyakit tersebut, Departemen Kesehatan (Depkes) melakukan beberapa tindakan.

Seperti, melakukan investigasi pada pekerja, dan penjamah produk ayam di beberapa daerah flu burung pada ayam di Indonesia. Tujuannya, untuk mengetahui infeksi flu burung pada manusia.

Depkes juga melakukan monitoring terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan orang yang diduga terkena flu burung, hingga terlewati masa inkubasinya, yakni 14 hari. Sebanyak 44 rumah sakit di seluruh Indonesia disiapkan untuk ruang observasi terhadap pasien yang dicurigai mengidap flu burung.

Kemudian, Depkes juga memberlakukan kesiapsiagaan di daerah yang beresiko saat itu, seperti provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten dengan mendirikan posko flu burung.

Upaya komunikasi juga dibangun. Pemerintah membangun komunikasi dengan pemerintah provinsi untuk meningkatkan kewaspadaan akan flu burung. Upaya penyuluhan kesehatan masyarakat juga dilakukan dengan membangun jejaring kerja dengan berbagai pihak guna mengedukasi terhadap masyarakat, agar tetap waspada dan tidak panik. Setelah kejadian tahun 2007, angka flu burung semakin menurun.

SARS

Selain flu burung, pemerintah juga pernah menangani virus Severe Acute Respiratory Syndrome atau disingkat SARS. Virus ini juga pertama kali ditemukan di Provinsi Guangdong, Cina, pada November 2002. World Health Organization (WHO) menyebut penyakit itu sebagai atypical pneumonia atau radang paru atipik.

Pada 2003, barulah WHO memastikan atypical pneumonia itu sebagai SARS. Direktur Jenderal WHO sempat menyatakan bahwa SARS adalah ancaman global. Pertimbangannya, SARS merupakan penyakit baru yang belum dikenal penyebabnya dan menyebar secara cepat melalui alat angkut antarnegara. Parahnya, tenaga kesehatan di rumah sakit luar biasa rentan terhadap SARS.

Wabah ini mendorong berbagai pakar kesehatan di dunia untuk bekerja sama menemukan penyebab SARS dan memahami cara penularan SARS. Hasilnya, pada 16 April 2003, ternyata penyebab SARS adalah virus corona atau corona virus—yang kini mengalami modifikasi menjadi Covid-19.

Jurus Mengatasi Krisis Ekonomi saat Corona

Di Indonesia, pada 17 Maret hingga 10 April 2003, sejumlah 24 orang dicurigai mengidap penyakit SARS. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1 orang terjangkit SARS, 8 dalam tahap observasi, dan sisanya negatif.

Depkes mencoba untuk menanggulangi SARS sejak awal pandemi terjadi. Tujuannya, mencegah terjadinya kesakitan dan kematian, lalu mencegah terjadinya penularan SARS di Indonesia.

Strategi yang dijalankan adalah mengupayakan public awareness melalui advokasi dan sosialisasi, pemantauan atau surveilans kasus secara epidemiologi. Kemudian, Depkes juga memperbaharui informasi rumah sakit, penyiapan rumah sakit, baik sarana maupun prasarana, dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas.

Ada pun upaya surveilans epidemiologi SARS di Indonesia yang dilakukan Depkes mencakup pemeriksaan penumpang di bandara pada saat kedatangan dan keberangkatan; pemeriksaan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang datang dari daerah terjangkit SARS, surveilans SARS di rumah sakit dan sarana kesehatan, surveilans SARS dan pneumonia di masyarakat, serta investigasi dan pelacakan kontak. Pemerintah menunjangnya dengan memasok 20 thermo scanner dan sejumlah thermo digital yang ditempatkan di bandara dan beberapa pelabuhan laut. (AK)


0 Komentar