Pengibar Bendera Bintang Kejora Surya Anta Cs Didakwa Pasal Makar
Sidang Surya Anta di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (19/12/2019). (FOTO: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Enam aktivis Papua yaitu Surya Anta, Charles Kossay, Dano Tabuni, Isay Wenda, Ambrosius Mulait dan Arina Elopere didakwa melakukan perbuatan makar. Mereka pada 28 Agustus 2019 melakukan pengibaran bendera Bintang Kejora saat unjuk rasa di depan Istana Negara. 

Keenam aktivis Papua itu dijerat dengan pasal 106 KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP atau mengenai makar.

"Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang berwenang memeriksa dan mengadili perkaranya, sebagai orang yang melakukan atau turut serta melakukan perbuatan yaitu makar, dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian wilayah negara dari yang lain," kata Jaksa Penuntut Umum, P Permana, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, seperti dilansir dari Antara, Kamis (19/12/2019).

Selain perbuatan makar, keenam aktivis itu juga didakwa pasal 110 ayat (1) KUHP mengenai pemufakatan jahat akibat dari kasus pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut.

"Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang berwenang memeriksa dan mengadili perkaranya, sebagai orang yang melakukan pemufakatan jahat dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian wilayah negara," ujar Permana.

Dilansir dari Antara, ada tiga babak persidangan yang dilakukan untuk enam orang aktivis itu, persidangan pertama dilangsungkan dengan terdakwa Arina Elopere.

Pada persidangan kedua terdakwa yang dipanggil adalah Paulus Suryanta Ginting, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, dan Isay Wenda.

Setelah itu, persidangan terakhir dilakukan untuk terdakwa Dano Anes Tabuni.

Persidangan selanjutnya akan dilakukan pada tahun depan Kamis (2/1/2020) untuk agenda pembacaan eksepsi karena keenamnya mengajukan keberatan atas dakwaan yang dibacakan.

Surya Anta dan kelima temannya ditangkap polisi karena pengibaran bendera Bintang Kejora saat unjuk rasa di depan Istana Negara Jakarta pada 28 Agustus 2019.

Keenamnya ditangkap secara terpisah pada 30 dan 31 Agustus 2019 atas tuduhan makar pada aksi 28 Agustus.