Peran Amerika Serikat Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Presiden AS, J.F. Kennedy dan Presiden Indonesia, Ir Soekarno (Foto: Life)

-

AA

+

Peran Amerika Serikat Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Hipotesa | Jakarta

Sabtu, 04 April 2020 13:59 WIB


Amerika Serikat memutuskan memihak pada pemerintahan baru Indonesia dan memaksa Belanda mengakhiri upaya untuk menghentikan kemerdekaan Indonesia.

ROBERT J. McMahon, sejarawan dari Ohio State University mengungkapkan bahwa Amerika Serikat memainkan peran penting dalam tahap akhir penyelesaian konflik Indonesia-Belanda pada tahun 1949.

Belanda telah melanggar perjanjian internasional dengan melancarkan aksi militer terhadap rakyat Indonesia (Agresi militer II). Peristiwa tersebut memicu kemarahan di Kongres Amerika Serikat, hingga akhirnya pemerintah Amerika Serikat berencana untuk memutus semua bantuan ekonomi kepada Belanda dan menekan Belanda untuk segera mengadakan perundingan dengan Indonesia dan menyerahkan kemerdekaan.

Robert J. McMahon mengungkapkan dalam diskusi "The Role of the US in Securing Indonesian Independence" yang bertempat di @america, Jakarta, Kamis, 21 Februari 2019 bahwa tuntutan ekonomi Amerika Serikat kepada Belanda memfasilitasi jalan menuju kemerdekaan penuh Indonesia. Ketika itu Belanda sangat tergantung pada bantuan ekonomi dari Amerika Serikat sehingga tidak punya pilihan lain selain tunduk pada tuntutan Washington.

Langkah tersebut dinilai kontroversial karena sejak awal konflik terjadi, Amerika Serikat telah mencoba untuk bersikap netral, namun cenderung mendukung pihak Belanda. Namun, ada kekhawatiran dari Amerika Serikat khawatir mengenai perebutan kekuasaan dan pertempuran berkepanjangan di Indonesia, karena diprediksi akan berdampak pada kemunduran produktivitas ekonomi wilayah dan dunia.

Amerika Serikat pada akhirnya menganggap Belanda sebagai ancaman signifikan dalam stabilitas dan ketertiban di Indonesia serta di Asia Pasifik. Maka dari itu, Amerika Serikat mengambil langkah yang tidak biasa, memberi tekanan pada sekutu dan berpihak pada rezim nasional Indonesia yang relatif belum dikenal.

Singkat cerita, pada akhirnya Amerika Serikat memutuskan memihak pada pemerintahan baru Indonesia dan memaksa Belanda mengakhiri upaya untuk menghentikan kemerdekaan Indonesia.

Sebelum membenarkan pernyataan Robert J. McMahon tersebut, sebaiknya untuk mengulas kembali Konferensi Meja Bundar (KMB) Den Haag, sebagai penyelesaian akhir konflik Indonesia-Belanda.

Dikutip dari buku Nationalism and Revolution in Indonesia (1952) karya George McTurnan Kahin, menyebutkan bahwa Amerika Serikat sangat berharap bahwa Konferensi Meja Bundar (KMB) Den Haag akan menghasilkan penyelesaian yang tuntas atas konflik Indonesia-Belanda.

Pada kebijakan yang sebelumnya, pemerintahan Amerika Serikat cenderung memihak Belanda. Namun, pada akhirnya mulai tampak bersedia mendukung suatu penyelesaian yang akan memuaskan rakyat Indonesia. Amerika Serikat berniat untuk ikut serta menyelesaikan perseteruan konflik Indonesia-Belanda dengan cara mengakui kemerdekaan Indonesia dan membiarkan Republik Indonesia menata masa depannya sendiri sebagai negara baru.

Dalam kaitannya dengan soal kehadiran Amerika Serikat dalam KMB, Pejabat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Dean G. Acheson menetapkan sebuah pedoman yang mengatur bahwa perhatian utama Amerika Serikat adalah membantu memastikan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menghalangi terlaksananya negosiasi yang cepat untuk peralihan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia.

Akan tetapi, selama konferensi berlangsung, perwakilan Amerika, Merle Cochran melangkah lebih jauh dari pedoman dengan maksud melindungi posisi Belanda. Tindakan tersebut menjadi sangat tampak ketika konferensi tersebut nyaris menemui jalan buntu di tiga soal penting (pengalihan tanggung jawab hutang kolonial, bentuk Uni Indonesia-Belanda, dan status Irian Barat).

Ketika kedua belah pihak yang bersengketa hampir mencapai jalan buntu terkait masalah tersebut, Cochran mengajukan sebuah rumusan Irian Barat akan tetap berada di bawah wewenang Belanda, tetapi dalam kurun waktu satu tahun setelah peralihan kekuasaan, akan diadakan perundingan lagi untuk menentukan status final wilayah tersebut Irian Barat.

Pada Tanggal 28 Desember 1949, Bung Karno yang telah terpilih sebagai presiden RIS sebelumnya meninggalkan Yogyakarta dan kembali dengan penuh kemenangan ke Jakarta. H. Merle Cochran diangkat menjadi Duta Besar pertama Amerika untuk RIS setelah pengakuan Amerika Serikat terhadap kemerdekaan Indonesia.

Namun, janji Amerika Serikat untuk memberikan suntikan ekonomi (utang) yang besar kepada Indonesia hanyalah isapan jempol. Hanya sedikit bantuan keuangan Amerika Serikat untuk Indonesia. Selain itu, Indonesia juga benar-benar mengalami ekonomi politik yang hancur lebur pasca pengakuan kedaulatan.

Rasa dipecundangi yang dialami Indonesia menyebabkan rusaknya hubungan dengan Amerika Serikat. Bahkan, perkembangan politik dalam negeri itu mendorong pemerintahan Amerika Serikat melancarkan kebijakan agresif-subversif terhadap Republik Indonesia.

Jadi, meskipun ada sumbangsih dari Amerika serikat dalam upaya Kemerdekaan Republik Indonesia, tapi bukan tekanan Amerika Serikat yang menyebabkan Indonesia merdeka. Sebaliknya, upaya yang sangat luar biasa dari rakyat Indonesia sendirilah yang berhasil membebaskan Indonesia dari kekuasaan penjajah


0 Komentar