Perhimpunan Dokter NU: Puasa Bisa Tingkatkan Imunitas Hadapi Corona
Warga berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk meningkatkan imunitas dalam menghadapi pandemi COVID-19. (FOTO: Haluan.co/Fajar AM).

JAKARTA, HALUAN.CO - Berpuasa bulan Ramadan di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 membuat segelintir orang khawatir terkait daya tahan tubuh atau imunitas. Mereka khawatir berpuasa nantinya bisa melemahkan sistem imun sehingga berdampak pada mudahnya terpapar COVID-19. 

Namun, anggapan itu justru keliru. Malah, banyak pendapat yang menyebutkan bahwa berpuasa justru memberikan pengaruh baik bagi tubuh, salah satunya sistem imun.

Mengapa ini penting: Umat Islam menjalankan bulan Ramadan tahun ini di tengah pandemi COVID-19. Mereka tentunya akan lebih tenang dan semangat menjalankan puasa itu bila ternyata ibadah wajib tersebut juga bisa meningkatkan sistem imun. Hal itu berguna untuk menghadapi virus corona.

Konteks: Imunitas tubuh sangat dibutuhkan di tengah pandemi COVID-19 saat ini. Sejumlah kalangan sebelumnya khawatir bahwa imunitas orang yang berpuasa bisa turun sehingga membuatnya rentan terpapar COVID-19.

Apa fungsi imun:

• Imunitas atau kekebalan tubuh merupakan sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh pathogen serta sel tumor.

• Fungsi dari sistem imun adalah melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit, menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing seperti bakteri, parasit, jamur, virus yang masuk ke dalam tubuh.

"Sistem imun juga menghilangkan jaringan atau sel yang mati atau rusak untuk perbaikan jaringan, serta mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal," kata Ketua Bidang Seksi Humas, Pusat Data, dan Informasi pada Pimpinan Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU), dr Heri Munajib, seperti dilansir dari NU Online, Sabtu (25/4/2020).

Manfaat berpuasa dari sisi kedokteran:

• Sejumlah jurnal telah mengungkapkan bagaimana hubungan antara puasa dengan kekebalan tubuh atau sistem imun. Salah satunya jurnal oleh Haitham A Jahrami dkk terbitan tahun 2020, yang menyebutkan bahwa RDIF menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan, tetapi kecil.

• Heterogenitas dalam temuan mungkin mencerminkan variabel perilaku diet dan gaya hidup yang dipraktikkan selama Ramadan, bersama dengan variasi dalam durasi waktu puasa dan berbagai kondisi iklim dan geografis di sekitar orang yang berpuasa berbeda negara.

"Jurnal lainnya, oleh Huda M Al Hourani dkk terbitan tahun 2009 mengungkapkan bahwa Puasa Ramadan adalah metode nonfarmakologis yang sehat untuk meningkatkan profil lipid," ujar dr Heri.

Akibatnya: Lipid atau lemak di dalam tubuh yang profilnya membaik akan mendorong kolesterol baik. Artinya, kolesterol jahat akan turun. Pada beberapa kasus stroke dan jantung, terjadi karena tingginya kolesterol jahat.

Mencegah badai sitokin pada pasien COVID-19: Dilansir dari jurnal An unorthodox approach to handle SARS-CoV-2: Breaking the virus spikes oleh Alaa Shaheen terbitan tahun 2020 menyatakan bahwa reaksi basa Schiff muncul untuk memisahkan lonjakan SARS-CoV-2. Badan keton, terutama asetoasetat, dapat memberikan kekebalan terhadap SARS-CoV-2.

"Puasa dan konsumsi diet ketogenik dapat menjadi prasyarat tubuh untuk mengurangi keparahan badai sitokin jika infeksi berikutnya terjadi," ungkap Heri.

Kita Perlu Tatanan Dunia Baru

Berpuasa dapat memperbaiki jaringan sel:

• Ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, R Dwi Budiningsari, menyebut, berpuasa yang benar dapat memperbaiki jaringan-jaringan sel yang rusak. Dengan berpuasa selama 30 hari bisa merangsang produksi sel-sel darah putih baru.

• Hal itu yang kemudian mampu mendasari regenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh.

• Kondisi dengan sistem kekebalan yang telah diregenerasi akan semakin memperkuat tubuh dalam menangkal berbagai infeksi bakteri maupun virus dan penyakit lainnya.


0 Komentar