Perihal Kartini dan Terang yang Terbit Darinya

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kartini tak hanya menulis surat-surat berisi kritik dan cita-cita saja, tetapi ia juga menulis untuk keilmuan

-

AA

+

Perihal Kartini dan Terang yang Terbit Darinya

Overview | Jakarta

Selasa, 21 April 2020 13:30 WIB


Tulisan Kartini tentang bagaimana Suku Koja yang merupakan keturunan Arab itu menjalankan ritus perkawinan menjadi bukti bahwa amat sial jika tradisi patriarki mencoba membendung kuatnya semangat pemberontakan dari sosok Kartini ini.

Gerakan perempuan di Indonesia tentu tak bisa lepas dari sosok R.A. Kartini dan buku kumpulan surat-suratnya yang terkenal, Door Duisternis tot Licht. Kumpulan surat Kartini kepada para sahabatnya ini kemudian dibukukan oleh Jacques Henrij Abendanon, suami salah satu sahabat pena Kartini, yaitu Rosa Manuela Abendanon-Mandri. Jacques Abendanon sendiri merupakan Menteri Hindia Belanda untuk urusan Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan yang menjabat sejak 1900 hingga 1905.

Setahun setelah Kartini wafat, Jacques Abendanon usai menjabat menteri dan mulai mengumpulkan tulisan-tulisan Kartini. Tak hanya yang dikirimkan kepada istrinya tetapi juga surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat lainnya.

Jacques hadir sebagai salah satu aktor penting dalam proses pengejahwantahan Politik Etis dari Negeri Belanda kepada Hindia-Belanda sebagai negara koloninya. Dorongan kaum etis di Belanda yang dipelopori oleh C. Th. Van Deventer dan Pieter Brooshooft membuat Ratu Wilhelmina menegaskan perlunya politik balas budi terhadap Hindia Belanda pada tahun 1901.

Politik Etis sendiri berpatokan pada tiga hal yaitu Irigasi, Imigrasi, dan Edukasi. Jacques Abendanon kemudian ambil bagian untuk urusan edukasi. Di mana dalam hal ini tulisan-tulisan Kartini juga menyorot perihal edukasi, khususnya pendidikan kaum perempuan.

Salah satu tulisan Kartini yang abadi di dunia antropologi adalah yang berjudul Het Huwelijk Bij De Kodja's. Artikel tersebut diterbitkan oleh Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië pada tahun 1899 dalam volume kelima puluh jurnal tersebut dan menempati halaman 695-702. Tulisan tentang upacara perkawinan Suku Koja di Jepara itu ditulis dengan nama ayah Kartini, A.A. Sosro Ningrat.

Tulisan Kartini ini menjadi salah satu hal penting yang muncul di era tersebut. Sebab perempuan menulis adalah hal yang masih dianggap tabu. Setidaknya pada tatanan norma di sekitar kehidupan Kartini sendiri. Namun, tulisan Kartini tentang bagaimana Suku Koja yang merupakan keturunan Arab itu menjalanakn ritus perkawinan menjadi bukti bahwa amat sial jika tradisi patriarki mencoba membendung kuatnya semangat pemberontakan dari sosok Kartini ini.

Dalam tulisan itu, Kartini menjelaskan secara terperinci bagaimana seorang perempuan Koja dirias sedemikian rupa pada malam sebelum perkawinannya. Hiasan-hiasan pada jemari kaki menggunakan tumbukan daun pacar dan inai dilakukan sebagai bagian dari tradisi Brinei. Kartini juga menjelaskan bagaimana pola hiasan dekoratif dalam acara pernikahan Suku Koja.

Ia bercerita bahwa dekorasi diterapkan pada kamar terbesar di rumah keluarga pengantin dengan apa yang disebut Kwade, semacam tahta bagi pengantin. Kemudian tatanan di sekitarnya berisi dengan tanah halus dari pohon pacar berikut pula tujuh mangkuk dengan parfum berbeda.

Mangkuk-mangkuk tersebut diisi dengan tanah halus tadi dan ditambahkan tepung beras, atau dalam istilah Kartini pada tulisan itu disebut Glepoong Lawar. Kemudian, ditambahkan loloer atau lulur dan minyak wangi bagi pengantin perempuan dan beras kuning. Ini dipakai untuk bahan gosok pemercantik kulit.

Gaun pengantin pada malam tradisi Brinei ini memakai warna merah dan terbuat dari kain katun. Begitu pula dengan tambahan kain Tjaool Poetih, sebuah kain berharga dari Saudi, tempat leluhur Suku Koja. Kartini juga memerinci bagaimana perhiasan yang dipakai pengantin adalah permata dan kalung koral merah menutupi leher. Begitu pula dengan bunga-bunga rambut yang dipakai.

Begitu pula ia menjelaskan tentang bagaimana seorang pengantin Suku Koja harus memenuhi larangan keluar kamar selama tiga hari. Dan kemudian diikuti upacara mandi-mandi. Pada saat acara pelaminan sendiri ia menggambarkan upacara yang disebut Adjuran, di mana kedua mempelai saling suap bola-bola nasi kuning. Setelah itu dilanjutkan dengan satu acara besar yang disebut Slametan atau makanan kurban. Acara slametan ini diadakan hingga malam esoknya, bahkan ketika pasangan pengantin telah pindah ke rumah pengantin.

Gambaran yang dibuat Kartini dalam artikel ilmiahnya ini jarang mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Bahkan mungkin para antropolog sendiri. Salah satu penyebabnya adalah karena Kartini tak menulis namanya secara langsung, melainkan menulis nama ayahnya untuk alasan keamanan. Begitu pula ketika ia dan kedua adiknya, Kardinah dan Roekmini yang memakai nama pena Tiga Saudara. Nama pena ini diketahui dipakai dalam tulisan-tulisan mereka di majalah De Echo, terbitan Yogyakarta dan De Locomotief, terbitan Semarang.

Perihal tulisan-tulisan kritisnya di pelbagai media massa ini kemudian menempatkan Kartini sebagai sosok kritis yang kerap mengangkat isu-isu sosial di sekitarnya. Hal ini yang kemudian membuatnya dianggap sebagai tolok ukur perjuangan perempuan di Indonesia. Sebab ia menulis. Tak hanya itu, ia dan kedua adiknya juga hadir di tengah gulana kaum perempuan yang kala itu dianggap sebagai kanca wingking pada masyarakat Jawa. Dengan kata lain, perempuan diartikan sebagai teman yang berdiri di belakang pria, dalam hal ini diartikan pria akan menjadi kepala keluarga.

Kartini membedah semua tatanan kolot yang masih lekat di masa itu. Ia tak hanya menulis surat tetapi juga jurnal ilmiah, majalah, dan kerajinan. Salah satu tulisan Kartini soal kerajinan adalah De Batikkunst in Ned lndie en haar Geschiedenis (Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya), terbit pada 1900 oleh H. Kleinman & Co.

Semangat Kartini tidak hanya tertuang dalam menyoal pendidikan bagi perempuan bumiputra, lebih dari itu ia seolah terbang melampaui apa yang bisa dilakukan perempuan Jawa di zamannya. Meski di akhir hayatnya ia pun harus merelakan diri untuk menikah di tahun 1903 oleh pinangan Bupati Rembang, seorang duda bernama Adipati Djojodiningrat.

Setahun setelahnya, tak lama sesudah melahirkan anaknya, Kartini wafat. Ia meninggalkan cita-cita tak sampainya untuk mendapat sertifikat guru di Batavia. Sekaligus ia meninggalkan putra satu-satunya, Soesalit Djojoadhiningrat.

Namun selepasnya, Kartini menjadi salah satu inspirasi berjalannya politik etis di Indonesia. Setidaknya, Jacques Abendanon memiliki alasan yang kuat untuk menerbitkan kumpulan surat Kartini dengan cita-cita menumbuhkan semangat perempuan bumiputra. Di tangan Jacques pula sekolah OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) berdiri untuk melahirkan para pejabat pemerintahan di masa itu. Begitu pula sekolah-sekolah untuk kaum priyayi dan para kawula juga mulai berdiri di awal abad itu.

Melalui buku Habis Gelap Terbitlah Terang, kita dapat bertemu pemikiran-pemikiran Kartini yang penuh pemberontakan. Tapi di tulisan-tulisannya yang lain, ia secara praktikal menjangkau pemberontakan dengan caranya sendiri. Melihat sekitarnya untuk diperkenalkan ke khalayak luas di luar negerinya sendiri.

Terlepas dari Kartini sendiri, nama-nama perempuan bumiputra kemudian hadir di berbagai penjuru nusantara dengan semangat yang sama. Yaitu pergerakan, edukasi dan persamaan hak bagi kaum perempuan.

Di antara nama-nama itu tersebut pula sosok Maria Walanda Maramis, dengan perjuangannya untuk perempuan dalam berpolitik di Minahasa. Ada pula Dewi Sartika, dengan tindakan praktikalnya mendirikan Sekolah Kautaman Istri bagi kaum perempuan bumiputra. Begitu pula dengan kedua adik Kartini. Kardinah kemudian juga menulis buku tentang kerajinan batik dan membangun Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranowo serta sebuah rumah sakit di Tegal.

Sedangkan Roekmini pernah aktif di Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht, sebuah organisasi perjuangan hak-hak perempuan yang didirikan di Belanda. Roekmini kelak mendirikan cabang dari organisasi itu di Kudus dengan nama Mardi Kamoeljan dan juga kemudian ia aktif di Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1948.

Tentu, menyoal perjuangan hak perempuan bumiputra di era sebelum kemerdekaan tak melulu tentang Kartini saja. Namun dari warisan tulisan-tulisannya dan korespondensinya dengan orang-orang Eropa pada masa itu, perhatian terhadap perempuan bumiputra muncul ke permukaan.

Begitu pula ia menjadi inspirasi bagi pergerakan perempuan yang bertumbuh di masa setelahnya. Kartini melawan dengan menulis, dan ia menjelma keabadiaan.



0 Komentar