Perjalanan Yogyakarta dalam Panggung Kebudayaan Sastra: Apakah Hanya Pulang, Rindu, dan Angkringan?
Ikon Yohyakarta (Ilustrasi: Haluan.co)

Kampus-kampus besar yang menyimpan aroma romantis mahasiswanya di awal bulan dan kesedihan di penghujung waktu. Semua direkam oleh setiap orang yang berkunjung ke kota ini.

KADANG kita masih perlu mempertanyakan kebersinambungan atau diskontinuitas sastra di tengah masyarakat, khususnya di Yogyakarta dengan citra kota budaya.

Sementara kebudayaan sastra dianggap panggung orang-orang gila, yang menyuarakan kata-kata tanpa udara di panggung terbuka, dan orang-orang menyaksikannya, lantas tergeleng-geleng dan mengira salah acara.

Barangkali, kebudayaan sastra adalah keikhlasan melampaui waktu dan perjalanan, dan Yogyakarta adalah jalan panjang kebudayaan tersebut. Kebudayaan sastra inilah yang perlu kita telisik, sembari mengusik tanya apakah Yogya hanya sekadar rindu, pulang, dan angkringan.

Seperti pintu rumah yang senantiasa terbuka bagi para tamunya, Yogyakarta adalah rumah bagi segala pluralitas atau keberagaman yang tak tersangkalkan dalam kehidupan masyarakat multikultural.

Orang-orang dari berbagai penjuru datang ke Yogyakarta, entah sekadar mencari sega sakpulukan (sesuap nasi) atau ngangsu kawruh (mencari ilmu), lantas mereka mengikat tali persaudaraan dan menjadikan Yogya sebagai kampung halaman yang dikunjungi tiap musim liburan.

Yogyakarta memang melankolis mulai dari Kaliurang hingga Parangtritis, singgah di Malioboro sekadar berfoto di bawah palang jalan atau menikmati kopi joss dan sepiring makanan khas angkringan.

Kampus-kampus besar yang menyimpan aroma romantis mahasiswanya di awal bulan dan kesedihan di penghujung waktu. Semua direkam oleh setiap orang yang berkunjung ke kota ini.

Barangkali, jika ada yang bertanya, Yogya ini terbuat dari apa? Mungkin jawaban paling tepat adalah Yogya terbuat dari proses kreatif para penyair. Yogya menjadi ruang kreatifitas para pengarang kenamaan Indonesia, seperti Arifin C. Noer, Subagio Sastrowardojo, Darmanto Jatman, W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono. Mereka banyak menghasilkan karya-karya yang memiliki tempat dalam gelanggang percaturan Sastra Indonesia.

Pro Kontra Kembalinya Keris Pusaka Pangeran Diponegoro

Dinamika sosial budaya, politik, ekonomi, dan pergulatan politik yang membuat hampa dan Malioboro belum disebut pusat perbelanjaan kapitalistik khas Yogya, Malioboro atau jalan sepanjang selatan Stasiun Tugu adalah panggung anak-anak muda. Mereka berkumpul, berproses kreatif, dan menamakan diri sebagai orang-orang Malioboro dengan Umbu Landu Paranggi sebagai “Presiden Malioboro”.

Jika setiap penyair adalah orang gila, maka merekalah yang menggilakan Yogyakarta dengan perpuisian. Penyair dan puisi adalah kemanunggalan dengan situasi begitu kompleks di tengah kebudayaan sastra Yogyakarta. Maka hadirlah Joko Pinurbo, Kedung Darma Romansha, Raudal Tanjung Banua, dan mungkin yang tak mampu penulis sebutkan di sini segalanya.

Panggung kebudayaan sastra makin menggila di setiap sudut kota. Acara-acara bertajuk pembacaan puisi dan gelar diskusi sastra diselenggarakan tiap minggu bahkan tiap malam. Puisi tidak lagi ditulis di atas kertas, tapi di dinding rumah sastrawan, di ruang sanggar, gedung-gedung berlabel budaya, kedai kopi, dan dinding tepi jalanan yang menggantikan vandal.

Analisis menarik disampaikan oleh Asef Saeful Anwar, akademisi sastra Universitas Gadjah Mada, dalam Pesta Puisi Akhir Tahun 2019 di Yogyakarta, bahwa saat ini Joko Pinurbo adalah pengendali ruh kebudayaan sastra di Yogyakarta.

Joko Pinurbo hadir sebagai pembicara dalam berbagai diskusi sastra, puisinya dibacakan oleh segala nama, termasuk di dinding Malioboro. Joko Pinurbo-lah yang saat ini berdiri di muka panggung kebudayaan sastra Yogyakarta.

Masih 20 tahun yang lalu, Joko Pinurbo menerbitkan antologi puisi Celana, setelah ratusan karyanya dibakar sebagai penanda eksistensi titik terendahnya sebagai seorang penyair atau sastrawan. Ia menciptakan dunia fiksinya sendiri dengan menghadirkan realitas-realitas persinggungan manusia dan benda yang karib dalam kehidupan.

Puisi-puisinya humor dan cenderung ironis. Joko Pinurbo menghadirkan diskontinuitas atau kebersinambungan dalam merawat kata-kata lewat puisi. Diskontinuitas itu dihadirkan melalui pemunculan gaya-gaya bahasa dan pemilihan diksi yang sederhana tapi penuh dengan makna konotatif atau kiasan.

Joko Pinurbo seolah menulis puisi agar bisa dinikmati oleh orang awam, namun makna yang disampaikan tidak sesederhana yang tersurat. Joko Pinurbo mengadopasi gaya berkomunikasi khas orang Yogyakarta dalam tulisannya melalui humor dan canda yang hidup dengan berbagai situasi.

Joko Pinurbo tidak memasukkan humor untuk mencapai kelucuan, tetapi dimaksudkan untuk menggugah orang supaya dapat menghidupi kehidupan seperti halnya orang Jawa. Puisi-puisinya menyajikan humor sebagai relaksasi untuk melenturkan kembali pemikiran-pemikiran dan hati yang kadang penuh kejutan di persimpangan hidup.

Lalu, mengapa dikatakan Joko Pinurbo adalah penghuni panggung kebudayaan sastra Yogyakarta masa ini? Lagi-lagi, kita perlu memahami kehidupan manusia kita yang tengah dihadapkan pada era posthuman. Meminjam ucapan Prof. Yuval Noah Harari, bahwa posthuman ditandai dengan teknologi yang telah melampaui kemajuan manusia itu sendiri.

Akhirnya, kita melihat di berbagai media sosial mulai mewabah sastra cyber yang memanfaatkan platform instagram untuk menghadirkan puisi-puisi picisan, tumpukan-tumpukan diksi, dan orang-orang menyebutnya quotes.

Namun, dalam panggung kebudayaan sastra, Joko Pinurbo meracik puisi dengan meminimalkan kerumitan, narasi, humor, dan kelucuan. Prinsip-prinsip inilah yang menjadi dasar diskontinuitas atau kebersinambungan perpuisian yang menjadi sumber kegembiraan bagi orang-orang penikmat puisi dan sastra.

Posthuman merangsang estetika pembacanya dalam kegembiraan. Joko Pinurbo telah melakukannya. Kesegaran dan kegembiraan yang dihadirkan Joko Pinurbo sementara ini telah mengukuhkan bahwa Yogyakarta adalah kota kedua bagi puisi, sebab kota pertamanya jatuh pada sastrawan itu sendiri.

Sebagai kota kedua bagi puisi, Yogyakarta sementara berhak menyandang predikat atas kiprahnya sebagai panggung kebudayaan sastra dengan tiga kata: rindu, pulang, dan angkringan. Kata pertama mengantarkan kita pada masa lalu untuk berbagi cerita, entah bahagia atau sendu.

Dengan berpulang pada Yogyakarta, meskipun domisili KTP tidak seirama, tapi kita yang berkunjung atau tinggal sementara waktu di kota ini berharap agar Yogya menerima selapang datarannya. Maka, nikmatilah perpuisian di Yogya sembari menikmati sesuap nasi khas angkringan yang telah berjajar di sepanjang jalan mulai perempatan Tugu hingga Malioboro.

Maka, kita akan sepakat bahwa rindu, pulang, dan angkringan adalah persoalan menghadiahkan kesederhanaan dengan selaksa kebahagiaan.

Lalu, apakah di kelak kemudian hari, panggung kebudayaan sastra Yogya masih dimainkan oleh frasa rindu, pulang, dan angkringan? Ini hanyalah pertanyaan retoris yang dimainkan oleh para akademisi sastra dan barangkali juga orang-orang yang menikmati keistimewaan Yogya lewat puisi.

Pada akhirnya, pertanyaan ini membimbing kita untuk tidak sekadar merayakan posthuman dengan kegemilangan teknologi, tetapi adakalanya kita kembali pada kebudayaan dan sastra sebagai ladang kehidupan bagi manusia untuk sekadar merayakan kehidupan.

Semoga, kebudayaan sastra kita senantiasa dihidupi oleh kehidupan yang dirayakan oleh kemanusiaan.


Penulis: Riqko Nur Ardi Windayanto