Perlu Dihitung secara Cermat Dampak Corona terhadap Ekonomi Nasional

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Mukhamad Misbakhun. (Foto: Ist)

-

AA

+

Perlu Dihitung secara Cermat Dampak Corona terhadap Ekonomi Nasional

Ekonomi | Jakarta

Selasa, 07 April 2020 09:37 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyamakan persepsi dan menghitung dengan cermat seberapa besar dampak virus corona atau Covid-19 terhadap ekonomi dan keuangan nasional.

Mengapa ini penting: Terkait pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menyebutkan dampak virus lebih kompleks dibandingkan dengan krisis moneter tahun 1998 dan krisis keuangan pada 2008 lalu.

Konteks:

• Langkah kebijakan pemerintah dalam menangani wabah virus corona yang kini menular di Indonesia.

• Data terakhir diumumkan pemerintah hingga hari Senin (6/4/2020) tercatat 2.491 kasus terkonfirmasi positif, korban meninggal 209 orang dan sembuh 192 orang.

• Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus anjlok. Pada perdagangan Senin (6/4/2020) Rp16.412 per dolar AS.

Apa katanya:

• Perlu menyamakan persepsi, sizing krisisnya seperti apa.

• Apa yang terjadi saat ini akan mengalami situasi lebih dibandingkan Great Depresion 1928, 1998, dan 2008.

• Kalau saat itu hanya sebagian negara yang terkena dampak, tapi sekarang ini total. Kalau sekarang dari sisi supply dan demand.

• Menkeu benar-benar mengukur, jangan pernah underestimate krisis ini.

"Saya mengkhawatirkan jika kebijakan-kebijakan yang sudah ada tidak disinkronisasi dengan baik, maka golden momentum akan hilang dikarenakan adanya timelag antara kebijakan dan implementasinya," kata Misbakhun dalam Rapat Kerja (raker) virtual Komisi XI DPR RI dengan Menteri Keuangan, Senin (6/4/2020).

Perlu dipertimbangkan:

• Berdasarkan sejumlah pengamat ekonomi, kondisi ekonomi yang terjadi saat ini masih dalam tahap awal.

• Puncaknya krisis belum bisa diperkirakan, apa Juni atau Juli.

• Pada 1998, hanya sektor moneter yang kena, tetapi ekonomi yang dibangun Presiden Soeharto 32 tahun langsung turun minus 13 persen.

• Saat itu pemerintah melakukan bailout Rp 600 triliun atau 40 persen dari PDB.

Apa yang disarankan:

• Pemerintah perlu mengimplementasikan kebijakan dengan cepat.

• Konsep quantitatif easing (QE) dengan melakukan pencetakan uang baru mau tidak mau harus dilakukan.

• Dengan QE atau pencetakan uang baru keberlangsungan ekonomi akan tetap terjaga dibandingkan dengan meminjam dari lembaga donor internasional.

Perlu Diantisipasi Potensi Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp20 Ribu per Dolar AS

• Seluruh dunia mengalami kebutuhan yang sama akan likuiditas, antreannya akan semakin panjang dan yield-nya akan semakin mahal.

• QE di AS sudah mencapai 9 triliun dollar AS.

• Cetak uang baru agar tidak mengganggu cadangan devisa.

• UMKM yang harus pertama kali di-bailout, untuk bayarkan listik dan sebagainya.

• Jangan alergi untuk membantu pengusaha, karena merekalah yang bisa menumbuhkan ekonomi.

"Untuk itu, pemerintah perlu menyamakan persepsi mengenai QE ini. Perlu disamakan dulu QE-nya seperti apa," katanya.


0 Komentar