Perundungan Anak: Gagalnya Keluarga dan Sekolah dalam Memenuhi Kebutuhan Mental Anak-anak
Perundungan anak merupakan pekerjaan rumah yang serius bagi instansi pendidikan dan keluarga di Indonesia.

Perundungan termasuk dalam salah satu rasionalisasi sosial yang terbentuk dalam sebuah relasi. Relasi dalam hal ini tidak mengikat dalam suatu komunitas atau jaringan pertemanan, bisa saja relasi semu macam media sosial.

Pasal 1 ayat (1) UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Oleh karena itu, setiap orang yang masuk dalam kriteria usia tersebut berhak atas hak anak.

Hak anak, salah satunya disebut dalam Pasal 4 UU No. 23 tahun 2002 yang menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Sebagaimana ketetapan di atas, maka perundungan pada seorang anak pada dasarnya melanggar hak anak. Sebab, pada pasal 3 undang-undang yang sama dijabarkan bahwa UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ini menganut prinsip-prinsip Konvensi Hak-hak Anak yang meliputi non diskriminasi; kepentingan yang terbaik bagi anak; hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan penghargaan terhadap pendapat anak. Hal ini kemudian menjadi hal pokok yang seharusnya menjadi patokan dasar bagi setiap keluarga dan juga lembaga pendidikan anak, baik formal maupun non-formal.

Kasus perundungan anak menjadi salah satu hal serius di era digital ini.

Di mana anak-anak sudah lebih bebas mengutarakan pendapat. Demikian pula, hal negatif yang mengikutinya, yaitu perundungan itu sendiri.

Perundungan seringkali memang dialami anak-anak di berbagai tempat, baik lingkungan tempat tinggal, sekolah, maupun tempat pendidikan non-formal lain.

Namun, dengan adanya media sosial, perundungan dan efeknya bisa lebih masif karena bersifat mudah menyebar. Ditambah, tidak adanya kontrol dalam hal ini. Hasilnya, perundungan berkembang dari segi fisik dan verbal, kini merambah ke ruang digital.

Beberapa orang masih menganggap perundungan atau bullying bukan menjadi konsen utama dalam ranah pendidikan anak. Hal ini kemudian memunculkan berbagai alternatif pendidikan selain sekolah formal, seperti home-schooling dan sebagainya.

Perundungan yang dialami seorang anak bisa saja menjadi salah satu alasan kuat untuk menghindarkan anak tersebut dari sebuah toxic-friendship di sekolah formal. Sebab, tak semua anak memiliki kecakapan mental kuat untuk menakar emosi psikologis.

Hal tersebut belum lagi didukung oleh majemuknya kepribadian anak. Mudahnya, kita pakai pembedaan kepribadian ekstrover dan introver pada anak. Anak dengan kepribadian ekstrover dimungkinkan dapat bercerita atau berbagi masalah kepada orang tua atau teman-temannya. Anak dengan kepribadian ekstrover umumnya lebih mudah berteman dan berinteraksi dengan orang lain. Namun, belum tentu juga anak dengan keribadian ini dapat mengendalikan emosi atas permasalahan yang dialaminya.

Beda halnya dengan anak berkepribadian introver, di mana secara umum lebih tertutup dan hanya berteman dengan beberapa orang yang ia percayai saja. Umumnya, secara emosi, anak dengan kepribadian introver memiliki kepekaan atau sensivitas tinggi. Sehingga, impresi negatif dari orang lain umumnya langsung berdampak pada perasaan dan persepsinya.

Secara tidak langsung, anak dengan kepribadian tertutup memang tidak mudah bercerita tentang permasalahan yang dialaminya. Hal ini kemudian dapat berpengaruh pada sifat permisifnya dalam pergaulan. Di mana ia seolah memberi batasan-batasan atau sebaliknya, ia merasa terbatas untuk masuk dalam suatu lingkup pergaulan.

Kepribadian anak tadi secara umum kemudian terbentuk secara alamiah tanpa sadar. Hal ini lantas lebih dikenal sebagai habitus. Pierre Bourdieu dalam The Logic of Practice menyebut bahwa habitus adalah produk sejarah yang tertuju pada individu dan tindakan kolektif, di mana pendalaman masa lalu menjadi bagian penting dalam pembentukan persepsi yang mendasari suatu tindakan.

Dalam bukunya yang lain, Outline of a Theory of Practice, Bourdieu menyebut bahwa habitus merupakan prinsip-prinsip yang mampu mengatur praktik dan representasi yang obyektif, tanpa seseorang itu menyadarinya.

Dalam hal ini, lantas kepribadian seorang anak pun terbentuk sedemikian rupa melalui ruang-ruang sosial yang ia alami. Dengan kata lain, kemapanan mental dan psikologis seorang anak tak lepas pula dari relasi dan rasionalisasi sosial.

Perundungan termasuk dalam salah satu rasionalisasi sosial yang terbentuk dalam sebuah relasi. Relasi dalam hal ini tidak mengikat dalam suatu komunitas atau jaringan pertemanan, bisa saja relasi semu macam media sosial.

Namun, secara representatif, hal tersebut tetap memiliki dampak pada psikis seseorang. Dan sayangnya, perundungan terhadap anak adalah hal akut yang masih terjadi di berbagai ruang dalam masyarakat kita.

Padahal, pada dasarnya perundungan tak memiliki basis argumentasi yang kuat dalam menilai atau melakukan judging kepada seseorang. Alias, modal cocot. Hal ini kemudian menempatkan perundungan sebagai psychological threat yang berbahaya.

Hingga datanglah sebuah kabar duka dari Ciracas, Jakarta Timur. Seorang siswi SMP berinisial SN yang duduk di kelas IX melakukan tindakan bunuh diri dengan melompat dari lantai empat sekolahnya. Tagar #RIPNadia kemudian menyembul tinggi di jagad maya Twitter.

Tentu dengan diikuti narasi-narasi yang kian berkembang tentang latar belakang kejadian ini. Ditambah, adanya dugaan perundungan yang dialami Nadia di sekolahnya.

Belum lagi, adanya fakta bahwa gadis remaja ini sudah kehilangan ibu kandungnya beberapa tahun lalu. Hal ini digali oleh para warganet melalui akun Instagram Nadia yang berisi sketsa dengan kualitas luar biasa disertai cerita dan beberapa noktah risalah hati Nadia. Bisa saja, tak seluruh cerita dan isi hati itu sempat disampaikan pada orang lain. Namun naas, Nadia kemudian memilih pergi dengan segala pikiran yang ia bawa serta.

Dugaan perundungan yang dialami Nadia memang belum terbuka secara tuntas. Namun, pihak sekolah dan dinas terkait terlampau cepat menyimpulkan bahwa kematian Nadia tidak disebabkan oleh adanya perundungan di sekolahnya. Hal ini cukup disayangkan, sebab tentu hal itu bukan hak dari pihak sekolah.

Keputusan sebab-musabab dan dugaan perundungan perlu diperjelas dengan pemeriksaan kepolisian terkait kasus ini. Dan tentu, pihak sekolah harusnya tak langsung pasang badan untuk melindungi nama baik para gurunya dengan mengatakan “tidak ada bullying di sekolah ini”. Hal itu justru membuat kredibilitas dan tanggung jawab sekolah sebagai lembaga pendidikan formal menjadi dipertanyakan.

Sebab, dalih dan alasan apa pun dari sekolah tempat Nadia belajar terkait ada tidaknya perundungan justru menenggelamkan habitus perundungan itu sendiri. Di mana, kita sendiri tahu bahwa perundungan dapat terjadi di mana saja. Dan semakin hal itu tertutup rapi, maka tak ada pelajaran yang bisa diambil. Apa pun dalihnya, perundungan dapat memicu persepsi negatif bagi seseorang, terlebih anak-anak.

Kasus Nadia ini juga dibumbui permasalahan broken home dalam keluarganya. Hal ini yang justru dilempar pihak sekolah pada media untuk menjadi wacana tandingan dari adanya dugaan perundungan di sekolah.

Fakta meninggalnya ibu dari Nadia justru diangkat pihak sekolah untuk memberi wacana baru atas tindakan bunuh diri yang diambil anak sekecil Nadia. Seolah, tindakan Nadia terkait dengan guncangan psikisnya akibat ibu kandungnya meninggal dan kemudian ayahnya menikah lagi, lantas Nadia tinggal bersama neneknya dan kisah-kisah lain yang sengaja dihadirkan untuk mengaburkan adanya dugaan perundungan terhadap Nadia.

Siswi Tewas Lompat dari Lantai 4 Sekolah, LPA Generasi: Kemendikbud Harus Turun Tangan

Benar tidaknya latar belakang kasus Nadia memang masih samar. Namun, kembali pada perilaku perundungan di kalangan anak-anak memang tak pernah usai dan nyata adanya. Diskriminasi pada anak-anak terkait hal-hal privat seperti agama dan sentimen kesukuan juga masih nyata ada di berbagai lini pendidikan. Meski tak banyak anak menyuarakan hal itu.

Dalam hal ini, peran sekolah sebagai lembaga pendidikan formal menjadi sangat diperlukan untuk menekan tindakan perundungan. Sebab, sekali lagi, tak semua anak memiliki kapasitas mental yang mumpuni untuk menahan cercaan atau sekadar afeksi negatif dari ruang relasional mereka.

Memang, adanya guru Bimibingan Konseling nampak hadir untuk menangani hal-hal semacam ini. Namun, bagaimana dengan kepribadian anak yang tertutup, dan bisa dipastikan guru BK pun tak bakal tahu-menahu soal permasalahan seorang anak jika tak ada laporan atau terjadi perubahan sikap pada anak.

Lain halnya sekolah, keluarga juga berperan penting dalam pembentukan karakter dan mental seorang anak. Sebab, keluarga menjadi ruang mula bagi anak dalam memperoleh pendidikan mental.

Keterbukaan orang tua pada anak menjadi salah satu kunci penting bagi anak, sebagaimana ratifikasi Konvensi Hak-hak Anak yang tercantum pada UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sehingga, diharapkan anak memiliki kecakapan mental yang cukup ketika orang tuanya memasukkan anaknya ke institusi pendidikan formal seperti sekolah. Di mana anak berinteraksi secara luas dengan anak-anak lainnya, dan tentu dengan sikap dan kepribadian beragam pula.

Edukasi dini terhadap bahaya perundungan akhirnya menjadi konsen penting bagi sekolah dan keluarga dalam tumbuh kembang anak. Sebab, seorang anak tak hanya dilihat dari fisik dan kemampuan kognitif saja. Mereka juga memiliki ruang psikologis yang berhubungan dengan mental.

Dan sayangnya, tak mudah mengetahui tentang kondisi psikologis seorang anak. Berbeda dengan sekadar mengetahui kecakapan berpikir dan penalarannya melalui tes IQ. Begitu pula betapa mudahnya melihat kecakapan fisik anak melalui kegiatan-kegiatan harian.

Sebab tak seperti keduanya, kecakapan mental seorang anak dapat diketahui dengan pendekatan dari pihak eksternal. Baik orang tua maupun mereka yang bertanggung jawab di sekolah.

Keterbukaan dan perhatian orang tua serta berbagai pihak pada anak menjadi salah satu hal penting dalam menghindarkan anak dari tekanan mental.

Khususnya tekanan akibat rasionalisasi negatif yang didapat dari relasi atau pergaulan. Tak hanya itu, keterbukaan juga dapat menghindarkan anak dari singgungan kepentingan orang tua dalam memberi beban proyeksi-proyeksi masa depan terhadap anak.

Sebab, sekarang bukan masanya lagi seorang anak dituntut memenuhi obsesi orang tua. Seorang anak memiliki keunikan dan bakat yang tak selalu selaras dengan keinginan orang tua. Dan dengan demikian, orang tua menjadi fondasi dari pembentukan sikap dan persepsi anak dalam bertindak dan berpikir.

Semoga tak ada lagi bakat dan nyawa seorang anak pergi begitu saja akibat dugaan perundungan dan ketidak cakapan orang tua dalam memenuhi hak dasar anak, yaitu perhatian.