PKS Pastikan RUU Perlindungan Tokoh Agama Bukan Hanya Untuk Islam
Anggota Baleg DPR Fraksi PKS Almuzzammil Yusuf. (Foto: Do. PKS)

JAKARTA, HALUAN.CO - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusulkan Rancangan Undang-undang Perlindungan Ulama, Tokoh Agama, dan Simbol Agama. RUU tersebut masuk ke Baleg DPR sebagai usulan program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas 2020, namanya kini menjadi RUU Perlindungan Tokoh Agama dan Simbol Agama.

"RUU ini dibuat untuk melindungi para tokoh agama secara khusus karena mereka adalah orang yang rentan mendapatkan ancaman baik fisik maupun non fisik maupun kriminalisasi, intimidasi karena ketidaksetujuan orang lain atas dakwah atau ajaran yang mereka sampaikan," kata anggota Baleg DPR Fraksi PKS Almuzzammil Yusuf dalam keterangannya, Senin (9/12/2019).

"Jadi penegak hukum punya dasar hukum dan keberpihakan yang jelas mana pihak yang harus mereka lindungi jika ada penolakan," sambungnya.

Muzzammil berharap, RUU perlindungan tokoh agama ini nanti akan ada aturan hukum yang mencegah penghadangan, intimidasi, dan persekusi kepada ulama, dan para tokoh agama-agama di Indonesia.

Ia memastikan, RUU itu untuk perlindungan kepada seluruh pemuka agama di Indonesia yang mengajarkan nilai-nilai agama dan berceramah di hadapan masyarakat luas. "Jadi tokoh agama disini tidak hanya pendakwah yang beragama Islam, tapi juga pemuka agama yang diakui di Indonesia," yakinnya.

Lebih lanjut, Muzzamil menerangkan mengenai maksud dari perlindungan simbol agama-agama. Perlindungan simbol agama diantaranya ialah, setiap bentuk kitab suci, citra, gambar atau tulisan yang berisi kalimat tauhid, salib, lambang lambang agama yang ada di Indonesia, citra, gambar atau tulisan yang bermakna Tuhan, dan juga seluruh rumah-rumah Ibadah.

Selama ini, kata dia, simbol semua agama belum terdefinisikan dengan jelas dan tegas. Sehingga ada upaya stigmatisasi negatif bagi yang mengenakannya dan pembiaran ketika simbol agama tersebut dihinakan, hingga dibakar. Semestinya, tegas dia, simbol agama sudah harus terdefinisikan dan dihormati.

"Pelecehan terhadap simbol agama manapun bisa mengundang konflik sosial baik intern maupun antar umat beragama. Untuk itu diperlukan perlindungan terhadap simbol agama-agama," tukasnya.