Polemik Netflix dan Betapa Banalnya Siaran Televisi di Negeri Ini
Netflix menjadi salah satu katarsis bagi kawula muda yang jengah dengan tayangan televisi lokal, sayangnya ia masih diblokir pemerintah. (Ilustrasi: Haluan)

Layar kaca Indonesia memang nampak memprihatinkan, khususnya jika dilihat dari sudut pandang kawula muda. Pun kalangan anak-anak. Di mana tayangan-tayangan edukatif atau sekadar hiburan film kartun makin susah didapati generasi saat ini.

APA yang kita harapkan dari kualitas tayangan televisi di Indonesia? Pertanyaan ini mungkin sulit dijawab oleh generasi muda Indonesia. Sebab, edukasi apa sih yang bisa diambil dari deretan sinetron kelas kambing? Selain belajar ribut-ribut dan menjegal rumah tangga orang lain?

Layar kaca Indonesia memang nampak memprihatinkan, khususnya jika dilihat dari sudut pandang kawula muda. Pun kalangan anak-anak. Di mana tayangan-tayangan edukatif atau sekadar hiburan film kartun makin susah didapati generasi saat ini. Tapi, jika kita bicara soal konten acara berisi hal-hal mistis, keributan, perselingkuhan, dan sinetron-sinetron banal, televisi kita juaranya.

Di masa saya duduk di bangku sekolah dasar dulu, tayangan kartun pagi dapat menjadi patokan jam berangkat sekolah. Waktu itu, tayangan Spongebob Squarepants jilid dua menjadi tanda bahwa saya bangun kesiangan. Atau di hari minggu pun sama, tayangan kartun hampir enam jam non-stop mewarnai layar kaca. Tentu tanpa sensor-sensor aneh macam sekarang. Mereka yang menonton Inuyasha di hari minggu adalah sekte paling rajin bangun pagi. Tapi jika anda bangun saat seri robot Kabutaku maka bisa dipastikan bahwa anda adalah insan bangun siang Indonesia.

Tak hanya anak-anak. Kaum muda pun memiliki memori kuat soal konten-konten musik bersama MTV Ampuh atau Planet Remaja, Peace, Love, and Gaooool! Kala itu, industri musik tanah air masih diisi oleh grup-grup band standar tinggi. Persaingan antara musisi independen dan musisi major label nampak seimbang. Tentu saja, sebelum akhirnya semua hal itu runtuh dihantam acara musik pagi dengan kawanan penonton alay itu. Acara musik pagi inilah yang kelak memperkenalkan kita dengan grup-grup musik dengan genre Metal, Melayu Total. Beberapa grup ini pun ada yang hanya sekali terkenal, sudah itu mati.

Berangkat dari banalitas acara musik itu pula penampilan grup musik dengan metode lipsync menjadi umum dijumpai. Hal ini kemudian direspon oleh musisi-musisi muda yang lahir di era itu dengan mengambil jalan independen atau indie sebagai jalan berkarya. Menghindari pasar musik Indonesia yang banal, dan tentu acara musik televisi yang menyedihkan.

Di samping tontonan anak dan remaja, para mahasiswa dan intelektual awam di masa-masa awal milenium tentu dikenyangkan oleh berbagai tayangan kuis di televisi. Sebut saja Who Wants to be A Millionaire, Komunikata, Siapa Berani, dan yang paling keren adalah Are You Smarter Than a 5th Grader.

Kebanyakan kuis itu menguji pengetahuan umum kita melalui tayangan televisi. Cukup mendidik dan menambah pengetahuan. Dan tentu, ramah anak. Namun sayang, tayangan seperti ini kemudian tersingkirkan oleh kuis-kuis tanpa esensi yang hanya mengandalkan goyang, tari, tebak tirai, dan hadiah besar tanpa tahu substansi dari kuis tersebut sebenarnya apa.

Bantah Akan Keluarkan Fatwa Haram Netflix, Ini Klarifikasi MUI

Selebihnya, tayangan televisi pun kehilangan beberapa sosok-sosok agamawan lemah lembut yang dulu sering muncul di televisi saat Ramadhan. Sebut saja almarhum K.H. Zainuddin MZ dengan suara khasnya muncul untuk menandakan waktu berbuka telah dekat. Bersama iklan-iklan ikonik dengan latar lagu Ebiet G. Ade, Berita Kepada Kawan, suasana Ramadhan kala itu bergulir melankolis dengan rangkaian iklan sirup dan sarung.

Belum lagi, ada sesi Kultum atau Kuliah Tujuh Menit bersama Prof. Quraish Shihab, sang habaib yang memberi wejangan beserta tafsir Quran dengan lemah lembut. Tak hanya berisi ceramah, kualitas siaran keagamaan di masa itu juga mengajak kita untuk menafsirkan Quran dengan damai. Tanpa marah-marah dan nada tinggi. Tampilannya pun sederhana, hanya kopiah hitam, baju batik atau baju koko. Sisanya, tinggal kenangan.

Tak hanya siaran keagamaan Islam saja. Tentu kita masih ingat bagaimana hari minggu siang ada siaran rohani Kristen Protestan di stasiun televisi swasta dengan tagline Oke. Dan juga siaran kegamaan Katolik pagi hari di stasiun ikan terbang. Betapa ademnya kehidupan beragama saat-saat itu. Anti Ribut Ribut Club.

Beranjak dewasa, lantas televisi makin tak relevan. Ditambah akses internet beserta media sosial yang mulai merambah generasi Y dan Z di Indonesia. Kemunculan YouTube kemudian makin menenggelamkan konten televisi. YouTube beyond TV kemudian menjadi ungkapan sahih masa-masa transisi media itu. Di sisi yang sama, televisi tak banyak melakukan perubahan.

Justru memperpanjang jumlah episode sinetron mereka. Bahkan, sinetron macam Tukang Haji Naik Bubur pun masih tayang, meski tokoh utama sudah tak ada dalam rangkaian sinetron itu. Belum lagi ditambah sinetron berisi anak-anak muda gabut yang kerjaannya balap motor sama ngisep darah. Makin gajelas nih tipi anjir….

Namun uniknya, sinetron-sinetron dan acara-acara settingan di televisi ini punya fanbase kelas kakap. Yaitu, emak-emak. Entah bagaimana kajian psikologisnya, tapi satu kaum itu umumnya punya keterikatan kental dengan kisah-kisah sinetron, pun pada acara settingan berisi hipnotis, curhat, selingkuh, dan baku hantam.

Aku sueeeneng ndelok wong gelut ngene iki, duh talah kurang ajar ncen iku bapake selingkuh," ujar Budhe saya di Malang.

Beliau mengaku amat menggemari adegan baku hantam dari acara-acara settingan dengan bumbu-bumbu drama itu. Dan ya, Emak-emak lainnya pun saya kira kurang lebih seperti budhe saya tadi, ibarat suporter bola, mereka adalah inti dari fanatisme itu sendiri. Para ibu-ibu penggemar sinetron ini laiknya suporter militan Manchester United, yang tetap pada pendirian meski tak ada lagi harapan.

Berangkat dari bergesernya siaran televisi menuju tingkat membosankan, beberapa orang kemudian beralih pada siaran langganan Netflix. Atau beberapa dari mereka hanya mendapatkannya secara cum-cuma dari situs “rahasia”. Konten Netflix yang mencakup film, seri, dan tayangan anak kemudian menjadi katarsis bagi umumnya kaum muda untuk beralih dari keengganan menonton televisi lokal. Untuk beberapa keluarga yang punya privilese, menggunakan TV langganan berbayar menjadi solusi agar terhindar dari tayangan tak berkualitas di televisi gratisan.

Anehnya, kebijakan sensor-menyensor pada siaran televisi lokal justru seringkali menyerang tayangan anak dan tayangan film. Padahal, justru sinetron-sinetron anfaedah itu yang harusnya disensor selama-lamanya. Tapi ya itu tadi, sinetron punya pasarnya sendiri. Dan dikarenakan masih banyaknya masyarakat kita yang berpendidikan terbatas dan mudah bahagia dengan hal-hal remeh, sinetron menjadi jalan yang sesuai. Sehingga, tak relevan lagi itu kiasan media televisi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lha wong baru-baru ini saja sebuah acara berbasis hukum dan politik di televisi Memang Beda justru menghadirkan orang delusif sebagai narasumber. Itu tuh Sunda Empire, Empire XXI, atau apalah itu kerajaan-kerajaan gak jelas. Ya, di televisi kita, orang-orang macam itu justru diberi panggung, ditertawakan. Bukannya dibawa ke Dinas Sosial atau Pusat Rehabilitasi Kejiwaan.

Namun aneh, sebegitu banalnya siaran televisi kita, para pejabat kementerian terkait justru memusuhi platform-platform alternatif yang malah disukai anak muda. Seperti Netflix misalnya. Atau dahulu, pernah pula kementerian ini memblokir TikTok di Indonesia, tapi baru-baru ini justru kementerian tersebut punya akun TikTok. Haloooooo kalau lu doyan yan ngobrol aja, gak usah gengsi keuleus….

Polemik tentang Netflix memang terus berkembang. Sebab saluran itu memuat banyak film berkualitas yang sejak 2018 sudah masuk nominasi Oscar Academy Awards. Contohnya film “Roma” yang begitu kuat mengangkat kehidupan perempuan kelas pekerja dalam gejolak politik. Tak hanya itu, serial Netflix pun menjadi idola kalangan muda karena umumnya mengangkat tema-tema out of the box.

Seperti yang terbaru, Messiah. Mengangkat tema konflik antar negara, kemanusiaan, kepercayaan, dan delusi akibat agama. Betapa seksinya isu-isu tersebut bagi kaum muda. Tapi sayang, para boomers yang punya jabatan tinggi di kementerian terkait masih belum sampai logikanya untuk mencapai euforia tersebut.

Atau begini saja, coba nih bapak menteri disetrap dua jam nonton acara Garis Tangan bersama Uya Kuya atau nonton Ganteng-Ganteng Serigala lima jam non-stop. Kalau kuat, berarti memang pilihan tepat untuk mempertahankan siaran macam itu.

Tapi jika terjadi kontraksi kesehatan, pusing, mual, dan radang otak, maka sudah barang tentu siaran itu tak layak lagi bagi edukasi masyarakat. Begitulah rasanya ketika bapak menteri memaksa kaum muda untuk menonton acara lokal.

Bapak coba dulu deh seminggu berturut-turut nonton Uya Kuya sama Roy Kiyoshi, kalau nikmat ntar kabarin kite-kite di mari. Kalau muntah, nah berarti bapak ini sebenarnya gaptek juga, cuma bejo saja anda jadi menteri.