Polemik Pemulangan WNI Eks ISIS, Setara Institute Ingatkan Pengungsi Syiah Sampang
Sejumlah warga jemaah Syiah dari Sampang, Madura, yang terusir dari kampung halaman mereka. (FOTO: Tempo)

JAKARTA, HALUAN.CO - Setara Institute mengingatkan kepada pemerintah untuk memperhatikan para pengungsi komunitas jemaah Syiah dari Sampang, Madura, yang ada di Sidoarjo, Jawa Timur, di tengah polemik pemulangan WNI bekas pendukung ISIS. 

Pasalnya, menurut Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, Sudah delapan tahun warga Syiah Sampang mengalami nasib yang tidak jelas dan terusir dari kampung halamannya.

"Maka, pendekatan cepat dan penanganan komprehensif sangat dibutuhkan untuk pemulihan hak-hak konstitusional mereka sebagai warga negara," kata Bonar dalam keterangan tertulisnya kepada Haluan.co, Jumat (7/2/2020).

Perhatian serupa, kata Bonar, juga dilakukan untuk komunitas Ahmadiyah di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Menurutnya, warga Ahmadiyah sudah satu setengah dekade terusir dari kampung halaman mereka dan menjadi pengungsi di negeri sendiri.

"Sudah tiga periode presiden," ujarnya.

Terkait pemulangan WNI eks kombatan ISIS, Setara Institute mendesak kepada para politisi untuk tidak menggunakan pertimbangan partisan kelompoknya. Pendekatan kepentingan kelompok, apalagi sekadar untuk insentif elektoral pada hajatan-hajatan pemilu ke depan, sama sekali tidak relevan untuk digunakan.

"Kenegarawanan seluruh elite sangat dibutuhkan untuk mencermati dan mendekati kerumitan isu pemulangan eks-ISIS ini," ungkap Bonar.

Setara Institute juga mendesak pemerintah untuk mengintensifkan perhatian pada pencegahan dan penanganan ekstremisme keagamaan di dalam negeri. Menurut Bonar, hal itu dilakukan agar kerumitan isu ISIS dan keterlibatan WNI dalam gerakan serupa di masa depan bisa diatasi.

"Dalam konteks itu, SETARA Institute juga akan selalu mengingatkan pemerintah bahwa intoleransi adalah anak tangga pertama menuju radikalisme dan ekstremisme-terorisme. Oleh karena itu, mengabaikan penanganan kasus-kasus intoleransi yang marak di Tanah Air berarti sebenarnya sedang menyiram dan menyuburkan bibit-bibit ekstremisme," katanya.

Pemerintah Diminta Kaji Mendalam soal Pemulangan WNI Eks Kombatan ISIS

Saat ini, kata Bonar, tindakan yang cukup mendesak untuk diambil adalah pemulangan anak-anak Indonesia, terutama yang berada di bawah usia 9 tahun. Menurutnya, semakin lama anak-anak itu tinggal di kamp tahanan, atmosfer yang buruk di kamp akan berdampak pada mereka, baik secara fisik maupun psikis.

Dia menilai, semakin lama anak-anak berada di sana, justru akan semakin terpapar oleh paham ekstrem ISIS dan dampak buruk situasi tersebut. Apalagi dari sejumlah pemberitaan internasional, para perempuan yang masih keras ideologinya berusaha mempertahankan pengaruhnya dan menekan perempuan lainnya yang berusaha moderat untuk tetap bertahan pada paham keagamaan dan politik ekstremnya.

"Sejalan dengan pemulangan anak-anak tersebut, dibutuhkan identifikasi keluarga besar mereka serta perancangan peran mereka dan para ahli rehabilitasi medis dan psikologis," paparnya.