Polisi Ungkap Tiga Faktor Penyebab Kecelakaan Maut Bus Sriwijaya
Kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Sungai Lematang, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan. (FOTO: Kompas)

JAKARTA, HALUAN.CO - Korlantas Polri mengungkapkan tiga faktor penyebab terjadinya kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Sungai Lematang, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, hingga menewaskan sedikitnya 35 orang.

Kakorlantas Polri, Irjen Polisi Istiono, menyebut, faktor pertama adalah lemahnya kontrol dari Perusahaan Otobus Sriwijaya yang diketahui mempekerjakan sopir bus tanpa SIM.

Kemudian, kata dia, mengalihkan atau menugaskan sopir ke jalur lain, kapasitas tempat duduk sesuai perizinan yang seharusnya untuk 25 penumpang namun dipaksakan muat 48 penumpang.

Istiono melanjutkan, manajemen kontrol yang lemah dari perusahaan di mana membiarkan busnya dioperasionalkan tidak sesuai dengan standar keselamatan.

Bahkan berdasarkan penyelidikan, kata Istiono, bus tersebut sebetulnya tidak layak jalan.

Adapun faktor kedua, kata Istiono, yakni masalah kendaraan. Menurutnya, bus buatan 1999 itu sudah dioperasionalkan selama 20 tahun dan kondisinya tidak terkontrol.

Terjadinya rem blong saat dioperasionalkan, menurut dia, menunjukkan standar keamanan bus tidak terpenuhi atau kondisi tidak layak operasional.

"Ban belakang vulkanisir dan aus sehingga tidak berfungsi sebagai penahan saat dilakukan pengereman atau menyebabkan kendaraan meluncur los," kata Istiono dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/12/2019).

Kemudian, lanjut dia, kondisi bus yang seperti itu diperparah lagi oleh ruas jalan yang berliku tanpa dilengkapi rambu-rambu dan pengaman pembatas jalan.

Sementara yang ketiga, menurut Istiono, adalah faktor manusia. Sopir bus maut itu, menurutnya, tidak memiliki SIM. Hal itu, lanjut dia, menunjukkan pengemudi tidak profesional.

"Tidak terbiasa melewati jalur tersebut. Saat menghadapi masalah, menjadi gugup dan tidak mampu mengatasi situasi yang berdampak los, tidak ada pengereman atau upaya penyelamatan darurat," lanjut Istiono.

Polisi sendiri sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dengan mengkaji faktor penyebab kecelakaan bus tersebut dengan memberdayakan teknologi dan melibatkan para pakar. Hal itu untuk mendukung proses projustitia atau penyidikan.

Istiono mengatakan, pihaknya melakukan penyidikan secara virtual maupun manual untuk membuktikan faktor-faktor penyebab kecelakaan lalu lintas.

Setelah itu, melakukan kajian ilmiah melalui traffic accident research centre (TARC) untuk pencegahan, memberikan rekomendasi untuk perbaikan infrastruktur, peningkatan kualitas safety maupun pembangunan dan rekayasa jalan.