Politik Progresif Amerika Serikat Pasca Bernie Sanders

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Foto Bernie Sanders (Ilustrasi: Total Politik)

-

AA

+

Politik Progresif Amerika Serikat Pasca Bernie Sanders

International | Jakarta

Rabu, 22 April 2020 11:14 WIB


Kegagalan Bernie Sanders untuk memenangkan nominasi Partai Demokrat menutup babak terakhir perjalanan politiknya. Bagaimana dengan gerakan yang ia bangun dan anak-anak muda yang ia tarik ke politik?

“Sistem nilai apa sih itu?”

Kata-kata menohok itu dilontarkan senator asal Vermont Bernard “Bernie” Sanders dalam sesi pembahasan paket stimulus wabah COVID-19 senilai 2,2 triliun dolar di Kongres AS (26/03/2020).

Sebelumnya, anggota kongres dari kubu Republik maupun Demokrat telah menyepakati beberapa pasal dalam stimulus ekonomi itu, terutama soal bantuan langsung tunai bagi rakyat Amerika, diurut dari tingkat pemasukan berbeda.

Tapi, beberapa anggota kongres dari Partai Republik mengangkat suara.

Kami keberatan, gumam mereka, dengan jumlah suntikan dana yang ditujukan bagi pekerja-pekerja yang penghasilannya sepuluh, dua belas dolar saja. Kenapa bisa tinggi sekali?

Sanders, dalam pidato 2 menit 40 detik itu, merujuk secara khusus pada sikap rekan Republiknya.

“Kolega-kolega saya kesal! Murka! Tidak terima kalau orang yang penghasilan hanya sepuluh, dua belas dolar per jamnya, yang sama-sama menghadapi krisis ekonomi seperti kita semua bisa dapat (bantuan tunai) sebesar gaji mereka untuk empat bulan!” serunya.

“Orang-orang yang sama,” pekiknya, “diam-diam saja ketika pemerintah tuh memberikan keringanan pajak bagi para milyarder dan perusahaan-perusahaan raksasa yang untung.”

Sanders ada benarnya. Walau undang-undang stimulus itu layak dijual sebagai usaha bipartisan, kaum Republik menginginkan paket bantuan ekonomi yang tidak sebegitu luas dan menyeluruh – demi kesehatan anggaran negara, katanya.

Tuduhan Sanders tidak semena-mena. Empat senator dari Partai Republik, yakni Ben Sasse, Rick Scott, Lindsey Graham, dan Tim Scott, menolak menyertakan pasal dalam undang-undang itu yang akan meningkatkan jatah asuransi pengangguran sebanyak $600 setiap minggunya.

Argumen mereka klasik, bahkan klise: asuransi pengangguran hanya akan memberikan insentif bagi perusahaan untuk tidak segera mempekerjakan pegawai-pegawai mereka.

Satu hal luput dari alur pikir geng ini: selama ada wabah, perusahaan toh tidak akan kembali mempekerjakan siapa-siapa.

Sanders berdiri sendiri menentang mereka. Dan… Sanders menang.

Ia mengancam akan menunda stimulus itu jika pasal asuransi pengangguran tidak disertakan pada naskah finalnya.

Episode ini, nampaknya, adalah salvo terakhir Bernie dalam kancah politik Amerika. Tidak sampai dua minggu setelahnya, ia undur diri dari konvensi calon Partai Demokrat.

Cukup bagus, sebenarnya. Prestasi terakhir yang ditorehkannya adalah menyelamatkan jutaan pekerja informal dan pekerja upah minimum di Amerika, dan publik di sana akan terus mengenang Sanders karenanya.

Tapi, Sanders tetap gagal. Ia gagal mewujudkan harapan jutaan warga Amerika yang dibebankan pada pundaknya. Ia tidak akan sempat menyaksikan jaminan kesehatan universal diberlakukan sepanjang masa hidupnya.

Ia tidak akan punya kuasa untuk mengampuni hutang sarjana-sarjana Amerika. Ia tidak akan menahbiskan zaman baru dimana malaise dan ketidakpercayaan terhadap lembaga-lembaga republik yang agung itu akan digantikan dengan optimisme. Dan, suatu kesadaran bahwa pada hakikatnya, kita semua setara –bahwa pasar bukan satu-satunya penentu nilai seorang hamba manusia.

Tapi, bagaimana dengan jutaan orang Amerika yang bermimpi sebagaimana dia? Atau yang masuk politik karenanya?

Suka atau tidak suka, Sanders adalah ekspresi bagi kegelisahan kaum muda yang terbebani hutang; tergerus pekerjaan informal; dan kehilangan harapan akan masyarakat yang meninggikan egoisme sebagai sistem nilai. Aneh juga, mengingat ia adalah salah seorang politisi paling tua yang masih ada.

Setelah kekalahan Sanders terhadap Hillary di tahun 2016, lembaga nirlaba pendukung Sanders yang bernama Our Revolution kini menyalurkan dana kampanye ke calon-calon progresif di tingkat kota dan negara bagian.

Pencalonan Sanders juga membantu Democratic Socialists of America, organisasi sosialis kaum muda, kebanjiran anggota karena dirinya.

Komunikasi Politik Bernie Sanders

Sanders, mudahnya, mendorong batas-batas dari apa yang mungkin dalam politik Amerika.

Kepopuleran jaminan kesehatan universal memang meningkat drastis, setidaknya setelah Sanders memperkenalkan istilah medicare for all dalam diskursus publik.

Tidak lama setelah jaminan kesehatan versi Obama (yang lazim dirujuk sebagai Obamacare) diteken Kongres, Senat, dan Pemerintah Amerika; banyak yang menyadari bahwa sistem yang ada menguntungkan bagi jasa asuransi kesehatan swasta, tapi bukan penggunanya.

Pun Sanders identik dengan upaya yang tidak kalah monumental, yakni moratorium hutang mahasiswa. Di Amerika, biaya pendidikan tinggi yang terus meningkat menciptakan industri pinjaman untuk kalangan mahasiswa yang seyogyanya dicicil hingga belasan, bahkan puluhan tahun, setelah mereka mendapat gelar sarjana.

Di titik tertentu, gelembung hutang ini mengancam pembangunan ekonomi Amerika –dan hanya Sanders yang berani untuk mengusungnya. Moratorium yang katanya adalah keringanan tidak jauh beda kan dengan keringanan yang kerap diberikan pemerintah Amerika bagi para pengemplang pajaknya?

Bagaimanapun juga, warisan terbesar Sanders untuk siapapun yang akan menang November nanti adalah fakta bahwa wacana-wacananya bukan omong kosong sosialis yang terlalu tinggi dan obskur untuk dimengerti rakyat kebanyakan.

Rakyat menyukainya. Mereka siap untuk memperjuangkannya – dengan atau tanpa Sanders – karena hal itu berdampak langsung terhadap taraf hidup mereka.

Bernard “Bernie” Sanders sukses melangsungkan radikalisasi ekonomi terhadap masyarakat Amerika. Bisakah gerakan progresif mengendarainya? (GA)


0 Komentar