Prihatin APD Langka, Dosen UGM Kembangkan Bilik Swab Corona

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Bilik swab corona buatan dosen UGM. (FOTO: Antara)

-

AA

+

Prihatin APD Langka, Dosen UGM Kembangkan Bilik Swab Corona

Health | Jakarta

Sabtu, 18 April 2020 17:13 WIB


YOGYAKARTA, HALUAN.CO - Dosen Departemen Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Jaka Widada, mengembangkan bilik swab yang dilengkapi HEPA filter yang bisa memudahkan dan melindungi tenaga kesehatan dalam merawat pasien virus corona atau COVID-19. 

Jaka mengembangkan bilik swab virus corona itu atas dasar keprihatinannya dengan kelangkaan alat pelindung diri (APD) tenaga medis di tengah pandemi COVID-19.

Mengapa ini penting: Dengan bilik swab ini, para tenaga medis tak perlu pakai alat pelindung diri (APD) saat mendeteksi infeksi COVID-19 pada pasien. Para tenaga medis tidak perlu menggunakan APD karena mereka berada di dalam bilik saat mengambil sampel dari pasien. Proses pengambilan sampel lendir dari dalam hidung maupun tenggorokan pasien menggunakan sarung tangan yang menonjol keluar dari bilik.

Konteks: Kekurangan APD menjadi salah satu kendala berbagai negara di dunia dalam menghadapi pandemi COVID-19, termasuk Indonesia. Akibatnya, banyak tenaga medis yang menjadi korban akibat pandemi tersebut. Hingga 15 April, tercatat sudah ada 23 dokter yang meninggal di Indonesia akibat COVID-19.

Berharap pada Gugus Tugas COVID-19:

  • Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional diharapkan bisa terlibat untuk memproduksi bilik swab secara massal. Pasalnya, hingga saat ini sumber dana pembuatan bilik swab yang diberi nama resmi Swab Cabinet BCL-UGM ini hanya mengandalkan sumbangan para donatur.
  • Bilik swab ini juga diharapkan bisa diproduksi dan didistribusikan secara massal di tengah keterbatasan APD tenaga medis.

"Satu unit sudah jadi dan ini sedang menyelesaikan 10 unit. Targetnya akhir minggu depan sudah bisa didistribusikan ke rumah sakit rujukan yang telah terdaftar," kata Jaka Widada saat dihubungi di Yogyakarta, Sabtu (18/4/2020).

Spesifikasi bilik swab:

  • Bilik swab memiliki dimensi berukuran 90x90×200 sentimeter dengan tinggi 2 meter. Lapisan bilik terbuat dari bahan aluminium panel komposit (APC) dengan ketebalan sekitar 3 mm. Pada bagian atas bilik terpasang blower dan hepa filter untuk mengembuskan udara bersih ke dalam bilik.
  • Pintu pada bagian belakang dan bagian depan menggunakan kaca dengan tebal 6 milimeter. Pintu ini dilengkapi dua lubang yang dipasang dua sarung tangan panjang permanen berbahan latex untuk memeriksa pasien.
  • Bilik yang dibuat dengan bahan berstandar medis itu juga dilengkapi amplifier dengan speaker sebagai sarana komunikasi dengan pasien.

Pasien dan tenaga medis terlindungi: Saat digunakan, sarung tangan permanen masih dirangkapi dengan sarung tangan medis steril yang sekali pakai. Dengan demikian, orang yang diperiksa maupun tenaga medis juga terlindungi serta aman dari penularan.

Sudah siap disalurkan: Untuk tahap awal, bilik swab ini akan disalurkan ke sejumlah rumah sakit rujukan COVID-19 di DIY, di antaranya RSUP Dr Sardjito, RS di Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman. Kemudian donatur mengirimkan juga ke Banyuwangi, Malang, Jakarta, Bandara Cengkareng, dan Bogor.

Terinspirasi dari Korsel:

  • Dilansir dari laman resmi UGM, pembuatan bilik ini terinspirasi dari melihat video petugas kesehatan di Korea Selatan yang tengah melakukan uji swab di bilik untuk memeriksa pasien. Jaka kemudian berdiskusi dengan istrinya yang merupakan dokter spesialis THT dan telah terbiasa menguji swab saat memeriksa pasiennya.
  • Disamping itu, Jaka memiliki latar belakang keilmuan mikrobiologi sehingga sedikit banyak memiliki pengetahuan tentang bakteri, virus serta ruangan yang bebas kuman.

"Background saya mikrobiologi, lebih dari 35 tahun belajar tentang bakteri, jamur, virus dan lainnya sehingga familiar tentang karakteristik virus seperti apa dan membuat ruang bebas kuman seperti apa," kata Jaka.


0 Komentar