PSI Minta Pemerintah Tak Pulangkan 600 WNI Eks Kombatan ISIS
Kamp pengungsian Al-Hol, Suriah, di mana eks-ISIS tinggal. (Foto: The New York Times)

JAKARTA, HALUAN.CO - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) meminta kepada pemerintah untuk tidak memulangkan 600 warga negara Indonesia (WNI) bekas pendukung ISIS. Menurut juru bicara PSI, Nanang Priyo Utomo, negara tak perlu memberikan toleransi kepada para pengkhianat.

Nanang beralasan, ada 250 juta warga Indonesia di dalam negeri yang bisa saja terancam kehidupannya bila mantan teroris dipulangkan ke Indonesia. Sehingga, menurutnya, wacana pemulangan WNI eks kombatan ISIS itu tidak diperlukan demi menjamin rasa aman di dalam negeri.

"Mereka (WNI eks kombatan ISIS) sudah mengkhianati dasar negara Pancasila dan menebar teror demi ideologi yang diyakini,” kata Nanang dalam keterangan tertulisnya, Minggu (9/2/2020).

Pemerintah RI, kata Nanang, bisa memberikan pendampingan hukum untuk memenuhi kewajiban melindungi WNI di luar negeri bila memang itu diperlukan. Namun, menurutnya, pada saat bersamaan tidak mengganggu rasa aman publik di Tanah Air.

Nanang lalu membandingkan kondisi serupa yang dialami negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Australia, dan sejumlah negara di Eropa.

Menurut dia, negara-negara itu dengan tegas menolak memulangkan warga negaranya yang sudah bergabung dengan ISIS.

"Mereka khawatir munculnya konflik horizontal, kesulitan mengumpulkan bukti untuk menindak mereka, serta risiko aksi terorisme di negara sendiri,” ujarnya.

PBNU Tolak Pemulangan WNI Eks Kombatan ISIS

Sejumlah negara Eropa, lanjut Nanang, bahkan secara tegas menghapus kewarganegaraan warganya yang pernah bergabung dengan ISIS.

Sementara, terkait dengan kemungkinan kepulangan eks kombatan ISIS secara swadaya, PSI menyarankan pemerintah merespons dengan proses penegakan hukum, ketika mereka menginjakkan kaki di tanah air.

“Jangan dibiarkan langsung berbaur dengan masyarakat. Harus ada proses hukum terlebih dulu. Terutama terkait UU No 5/2018 tentang Antiterorisme,” pungkas Nanang.