RAISA, Robot yang Siap Bantu Tim Medis Tangani Pasien COVID-19

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Wagub Jatim Jawa Timur Emil Dardak (kedua kiri), Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari (kanan) dan Dirut RS Unair Prof Dr dr Nasronudin (kedua kanan), ketika menguji kerja Robot Medical Assistant ITS-Unair (RAISA). (Foto: Dok. ITS)

-

AA

+

RAISA, Robot yang Siap Bantu Tim Medis Tangani Pasien COVID-19

Teknologi | Jakarta

Jumat, 17 April 2020 16:03 WIB


SURABAYA, HALUAN.CO - Guna meminimalisir kontak antara tenaga medis dengan pasien COVID-19 serta mengurangi pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang persediaannya semakin menipis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkolaborasi dengan Universitas Airlangga (Unair) secara resmi meluncurkan Robot medical Assistant ITS – Airlangga (RAISA). 

Mengapa ini penting: RAISA akan membantu kerja tenaga kesehatan dalam merawat pasien COVID-19 di Jawa Timur.

"Kami berharap kontribusi yang diberikan dapat memberikan manfaat untuk para tenaga medis maupun masyarakat,” ujarnya dengan semangat," kata Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng, dilansir dari laman resmi ITS, Jumat (17/4/2020).

Konteks:

  • Terdapat 368.822 tenaga medis yang terjun langsung menangani wabah COVID-19. Mereka terdiri dari 1.976 dokter spesialis paru, 6.656 dokter spesialis penyakit dalam, dan 30.678 dokter umum. Sedangkan, 329.512 orang lainnya adalah perawat.
  • Data PB IDI, setidaknya total ada 23 dokter yang meninggal dunia karena positif maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19.
  • Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyebutkan, ada 12 perawat yang meninggal dunia terkait COVID-19. Data tersebut dicatat dari 12 Maret sampai 11 April 2020.
  • Dari 514 kasus positif COVID-19 di Jawa Timur, 46 diantaranya adalah tenaga medis, 19 sembuh, dan satu orang meninggal dunia.

Jumlah dana: Dalam demo robot ini, perkiraan menghabiskan biaya Rp 100 juta per unit.

Rancangan RAISA:

  • RAISA merupakan gabungan teknologi yang ada pada empat robot milik ITS sebelumnya, yakni robot sepakbola beroda (Iris), robot kapal tanpa awak (Barunastra), robot humanoid (Ichiro) dan robot untuk Kontes Robot Indonesia (KRI). RAISA dirancang oleh orang-orang yang handal dan tim robot ITS yang sudah memenangkan berbagai lomba di mancanegara.
  • Dengan menggandeng orang-orang medis dari RSUA, semakin melengkapi fitur pada robot yang akan dibutuhkan pasien nantinya.

Kelebihan RAISA:

  • RAISA mampu memberikan pelayanan kepada pasien yang sedang diisolasi seperti mengantar makanan, pakaian, maupun obat-obatan. Namun, pasien juga tetap memerlukan perawat, setidaknya intensitas interaksinya saja yang berkurang.
  • Karena perawat atau tenaga medis yang biasanya harus berinteraksi dengan pasien sudah bisa digantikan dengan robot. Harapannya, bisa mengurangi terjadinya penularan.
  • RAISA, selain penampilan interface-nya yang cute, juga bisa menghubungkan pasien dengan perawat yang ada di luar melalui layar.
  • Robot setinggi 1,5 meter ini dilengkapi dengan empat rak secara bersusun yang bisa membawa banyak barang maksimal 50 kilogram.
  • Robot ini dilengkapi monitor untuk komunikasi dua arah antara tenaga medis dengan pasien menggunakan multimedia.
  • Robot ini juga dilengkapi dengan pengukur suhu, pengukur nadi serta bisa membaca belokan jalan ruangan yang akan dilalui. Yang saat ini jalannya masih lurus.

Kelemahan RAISA:

  • Robot ini dikendalikan menggunakan remote control dari jarak jauh.
  • Robot ini bisa beroperasi bergantung pada koneksi Wireless Fidelity (Wifi), dan dengan spesifikasi baterai 0,85 kWh RAISA digadang-gadang mampu bertahan sekitar 8-10 jam.

“Uji coba juga sudah dilakukan, sedang untuk menjaga kesterilannya juga bisa dilakukan dengan menggunakan disinfektan," kata Muhtadin ST MT, salah satu tim peneliti robot dari ITS.

Tenaga Medis Terpapar Corona Terus Membengkak

Dukungan Pemprov Jatim: Pemerintah provinsi Jawa Timur mendorong agar robot RAISA dipercepat produksinya. Jika sudah dioperasikan dengan baik di RSUA, diharapkan bisa segera dioperasikan secara massal.

“Karena kami (Pemprov Jatim) sudah menyiapkan dana dari APBD yang khusus untuk mengembangkan riset dan teknologi,” kata Wagub Jatim Emil Dardak.


0 Komentar