Ranu Manduro dan Efek Buruk Wisata Viral, It Doesn’t Feeling Good Broo...
Ranu Manduro tak sama dengan bulan (Ilustrasi: Haluan)

Nampaknya, viralnya Ranu Manduro tak serta merta menjadi hal yang laik untuk diperhitungkan sebagai lokasi wisata alam. Sebab, dalam seminggu setelah video viral tersebut, Ranu Manduro lantas diserbu pengunjung hingga pihak pengelola menutup daerah itu. 

NAMPAKNYA, viralnya Ranu Manduro tak serta merta menjadi hal yang laik untuk diperhitungkan sebagai lokasi wisata alam. Sebab, dalam seminggu setelah video viral tersebut, Ranu Manduro lantas diserbu pengunjung hingga pihak pengelola menutup daerah itu.

Serbuan pengunjung yang datang dengan padatnya juga sempat viral pada hari Minggu awal Maret 2020. Dalam video tersebut nampak jubelan pengunjung dengan kendaraan bermotor dan sepeda memenuhi kawasan yang sempat dicap sebagai Selandia Baru-nya Mojokerto.

Nahasnya, kawasan yang semula nampak hijau berlatarkan Gunung Penanggungan nan gagah menjadi hamparan lautan manusia. Padahal, daya tarik Ranu Manduro sendiri berada pada hamparan rerumputan hijau dan latar Gunung Penanggungan. Dan tentu, hal itu berakhir dengan penutupan sementara kawasan Ranu Manduro.

Namun, pihak desa setempat masih mengusahakan untuk mengelola kawasan itu secara mandiri sebagai destinasi wisata baru di Mojokerto.

Berkaca dari Ranu Manduro, nampaknya sensasi viral suatu tempat wisata dapat mendatangkan untung maupun buntung dalam satu waktu.

Sebab tentu, video viral akan menjadi proses pemasaran paling efektif dan murah. Tapi tidak dengan kesiapan pengelolaan lokasi wisata. Pun dengan potensi kerusakan alam dan berseraknya sampah di kawasan itu.

Kita ambil contoh pada tahun 2012, ketika Ranu Kumbolo di Gunung Semeru lantas menjadi primadona bagi anak-anak muda kala itu. Padahal danau indah di Lumajang itu memang sudah dikenal terlebih dahulu oleh kalangan pendaki gunung atau pecinta alam.

Di pertengahan tahun itu pula saya masih SMA sejak pertama mendaki Semeru, dan amat sepi, tak sampai lima belas tenda di Ranu Kumbolo. Dan kegiatan pendakian gunung belum sepopuler sekarang.

Lantas di akhir tahun 2012, muncul film dalam negeri dengan tema persahabatan yang memakai Gunung Semeru sebagai latar tempat. Film yang diadaptasi dari naskah novel populer itu lantas mengangkat pemandangan Ranu Kumbolo dan seluruh penampakan alam di Semeru dalam media audio-visual.

Hasilnya? Heboh. Sejak saat itu, dunia wisata alam bebas tak lagi sama. Tak perlu adanya pelatihan-pelatihan khusus terkait etika pecinta alam dan pendakian gunung, sebab asal mampu membeli peralatan maka perjalanan wisata alam bisa dilakukan. Oleh siapa pun tanpa terkecuali. Dan akhirnya hingga saat ini, pengalaman mendaki gunung tak lagi hanya dimiliki oleh kalangan terbatas, tapi setiap orang.

Menanggapi hal itu, kemudian beberapa taman nasional memakai sistem kuota dalam proses perizinan pendakian gunung. Pun hal ini dikarenakan oleh kejadian membludaknya kawasan Ranu Kumbolo di Semeru saat diadakan acara pendakian massal oleh salah satu produsen peralatan gunung sekitar tahun 2013.

Menumpuknya sampah dan kotornya air Ranu Kumbolo menuai cecaran kritik dari berbagai kalangan pecinta alam yang menilai kegiatan ini sudah melampaui tujuan awal dan etika pecinta alam.

Alhasil, di beberapa jalur pendakian gunung-gunung di Jawa nampak sekali bagaimana kondisi jalur yang diperkeras dan dibangun. Padahal, secara mendasar pembangunan di kawasan hutan lindung amat dilarang. Namun demi cuan, apa sih yang tidak?

Lantas, kita kembali ke Ranu Manduro. Bagaimana selanjutnya pemerintah setempat mengelola kawasan rentan ini? Mengapa disebut rentan, tentu karena kawasan ini mulanya adalah lahan bekas tambang yang harusnya perlu direstorasi secara lingkungan. Hal itu adalah kewajiban perusahaan penyewa lahan seusai melakukan kegiatan pertambangan dalam jangka waktu tertentu.

Dan tentu harusnya jika wisata ini kemudian dibuka, perlu campur tangan perusahaan terkait untuk membantu desa setempat dalam mengelola Ranu Manduro. Untung-untung, wisata ini dibangun dengan sistem ekowisata. Dengan menyeimbangkan ekologi, ekosistem, dan rekreasi. Sebuah sinergi yang perlu dibangun untuk menyeimbangkan cuan dan keletarian lingkungan.

Pembangunan wisata yang berbasis sensasi atau viral ini umumnya tetap membutuhkan manajemen kelola yang berkelanjutan. Sebab, kita tentu tak ingin kawasan semacam Ranu Manduro lantas menimbulkan bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial.

Kelola ekowisata menjadi perlu diterapkan mengingat Ranu Manduro merupakan kawasan rentan yang berasal dari bekas tambang galian. Dan tentu pemulihan ekosistem juga menjadi suatu kebutuhan dalam membuat tempat tersebut menjadi lokasi wisata berkelanjutan.

Mugkin belajar dari Manduro, NASA pun yang sudah mengizinkan publik mengunjungi Stasiun Luar Angkasa Internasionalnya terpaksa mengurangi slotnya. Cuma dua kali dalam setahun. Belum lagi biayanya, untuk 30 hari perjalanan $35.000, hampir setengah miliar! Ah tapi kita kan suka yang gratisan ya....

Akhir kata, tetaplah feeling good, feeling blessed, and never stressed sluuur....