Ratusan Akun Pedagang Daring Ditutup, karena Jual Alkes Kualitas Rendah dengan Harga Mahal

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan (Foto: Kemendag)

-

AA

+

Ratusan Akun Pedagang Daring Ditutup, karena Jual Alkes Kualitas Rendah dengan Harga Mahal

Bisnis | Jakarta

Sabtu, 25 April 2020 15:54 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI mengaku telah menutup 312 akun pedagang daring yang berjualan di platform lokapasar (marketplace), karena nekat menjual alat kesehatan (alkes) dengan kualitas rendah dan bahan pangan diatas harga eceran tertinggi saat Pandemi COVID-19.

Mengapa ini penting: Tindakan pedagang daring yang mengambil keuntungan di tengah kondisi sulit Pandemi COVID-19 tersebut, sangat disesalkan dan dianggap tidak peka terhadap penderitaan masyarakat, disaat semua komponen bangsa berusaha untuk melawan COVID-19.

Konteks: Kemendag memberikan perlindungan kepada konsumen dari ulah para pedagang daring nakal dengn melakukan pengawasan secara intensif di semua platform lokapasar (marketplace) agar tidak dirugikan.

"Masih ada pedagang yang nekat menjual alat kesehatan seperti masker dan hand sanitizer berkualitas rendah, serta bahan pangan diatas harga eceran tertinggi di tengah kondisi sulit pandemi COVID-19,” tegas Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, Sabtu (25/4/2020).

Pengawasan intensif: Kemendag melakukan pengawasan secara intensif di semua platform lokapasar (marketplace). Selama pengawasan dilakukan, telah berhasil menjaring 169 pedagang yang menjual alat kesehatan berkualitas rendah dan 143 pedagang yang menjual bahan pangan di atas harga eceran tertinggi.

⦁ Secara total terdapat 312 akun pedagang daring di semua lokapasar yang diberikan sanksi dengan menutup (takedown) akunnya dan menghilangkan tautan (link) dari toko daring (merchant).

⦁ Perusahaan atau mereka yang memanfaatkan situasi pandemi COVID-19 ini dengan menjual produk alat kesehatan berkualitas rendah dan menjual harga kebutuhan pokok secara tidak wajar di atas harga eceran tertinggi (HET) seperti diatur dalam Permendag No. 7 Tahun 2020.

Pedagang daring yang diawasi:

⦁ Produk alat kesehatan yang terindikasi menjual dengan harga tinggi dan berkualitas rendah, yaitu hand sanitizer (95 pedagang daring di 9 lokapasar), masker (25 pedagang daring di 8 lokapasar), dan produk kalung Virus Shut Out (49 pedagang daring di 8 lokapasar).

⦁ Produk barang kebutuhan pokok yang terindikasi menjual di atas HET adalah gula kristal putih atau GKP (terkait harga) sebanyak 53 pedagang daring di 8 lokapasar, 52 pedagang daring minyak goreng (terkait harga) di 8 lokapasar, 38 pedagang daring bawang putih (terkait harga) di 5 lokapasar, dan 3 pedagang daring gula kristal rafinasi atau GKR (tidak sesuai peruntukan) di 1 lokapasar.

⦁ Pengawasan terkait dengan harga juga dilakukan terhadap produk makanan yang dikemas ulang (repacking) dan daging beku yang dijual melalui lokapasar dan media sosial.

“Saat ini pedagang GKR sedang dalam proses tindak lanjut pemeriksaan. Sedangkan, untuk produk makanan yang dikemas ulang dalam proses tindak lanjut penegakan hukum berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Pangan, serta untuk daging beku masih dalam proses pengawasan,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Veri Anggrijono, Sabtu (25/4/2020).

Industri Pengalengan Ikan Tumbuh di Tengah Pandemi COVID-19

Operator daring dipanggil: Kemendag telah mengantisipasi pelanggaran kegiatan perdagangan daring dengan memanggil operator niaga elektronik untuk mengikuti aturan yang ada dan menguatkan perlindungan konsumen sehingga tidak ada pelanggaran dalam kegiatan perdagangan.

⦁ Setiap pelaku usaha yang tidak taat aturan akan ditindak tegas.

⦁ Penerapan sanksi kepada para pedagang mengacu kepada Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999 dan UndangUndang Perdagangan No. 7 tahun 2014,” kata Veri Anggrijono.

Pengaduan niaga elektronik: Selain melakukan pengawasan barang dalam perdagangan daring, Kemendag juga telah menerima total 127 pengaduan terkait niaga elektronik dari 2018 sampai dengan 2020.

Pada 2018 Kemendag menerima sebanyak 44 jumlah pengaduan, pada 2019 sebanyak 76 pengaduan, dan pada 2020 sebanyak 7 pengaduan.

⦁ Pengaduan niaga elektronik meliputi pembelian barang yang tidak sesuai dengan perjanjian (barang yang datang berbeda dengan yang ditampilkan pada iklan); barang yang dibeli tidak datang (belum diterima oleh konsumen); barang yang sampai rusak/tidak bisa digunakan; pembatalan sepihak yang dilakukan pelaku usaha; waktu kedatangan barang tidak sesuai yang diperjanjikan; pengembalian dana (refund) yang sangat lama; dan terjadi penipuan pada sistem lokapasar yang menyebabkan kerugian pada konsumen.

⦁ Penyelesaian pengaduan yang telah dilakukan berupa penggantian barang pelaku usaha dan/atau mengembalikan dana secara tunai.

Apa yang dilakukan: Kemendag melakukan berbagai upaya untuk melindungi konsumen dalam perdagangan daring ini, di antaranya melalui penyebarluasan iklan layanan masyarakat terkait hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berbelanja secara daring dan edukasi terkait hak-hak konsumen, seperti melaksanakan gelar wicara dan kegiatan penyelesaian pengaduan.

⦁ Pengaduan konsumen untuk permasalahan niaga elektronik dapat dilakukan melalui WhatsApp: 0853 1111 1010, surel: [email protected], hotline: 0213441839, situs web: www.siswaspk.kemendag.go.id, atau datang langsung.

⦁ Khusus perlindungan konsumen dalam perdagangan berjangka komoditi, Kementerian Perdagangan sedang memfinalisasi rancangan peraturan tentang pengaduan nasabah secara daring untuk memudahkan keluhan nasabah.

Bagaimana selanjutnya: “Ke depan, sesuai kesepakatan dengan Komisi VI DPR RI, Kemendag akan menguatkan layanan pengaduan perdagangan dan perlindungan konsumen, khususnya di tengah kondisi sulit pandemi COVID-19 ini,” pungkas Sekjen Kemendag Oke Nurwan dalam rilisnya.


0 Komentar