Rekomendasi Bacaan Work From Home: Onze Ong

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ong Hok Ham

Buku Onze Ong mengkisahkan tentang berbagai kenangan mengenai Sejarawan Onghokham.

ONGHOKHAM dalam kenangan. Pernyataan itu terwujud dalam sebuah buku dengan judul Onze Ong, suatu kumpulan karangan tentang kehidupan Ong dari berbagai sisi, dari berbagai sudut pandang, oleh tokoh-tokoh yang mengenalnya.

Ong, sebutan akrabnya, dikenal sebagai seorang sejarawan keturunan Tionghoa yang mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS UI). Berambut tipis yang hampir botak, berkacamata tebal, dan berbadan tambun; pria itu terbiasa menggunakan baju dan celana yang kusut. Ong selalu tampak membawa tas moncong berisi buku-buku yang seringkali berlebihan tak karuan.

Ong pernah belajar sejarah di FS UI, mengambil gelar doktoral di Yale University, lalu mengajar di fakultas tersebut. Banyak hal menarik yang terdapat pada sosok pria botak ini, baik dari segi intelektualitas, karya, maupun kesehariannya.

Karya-karyanya terkait sejarah Indonesia memberikan suatu gebrakan pada studi sejarah. Seperti pada disertasi doktoralnya yang dipertahankan di Yale University, sejarawan ini membahas tentang perubahan sosial di Madiun pada Abad 19 yang menyorot dinamika hubungan antara petani dan priyayi Jawa di bawah kolonialisme Belanda.

Ong menggambarkan pertentangan menarik antara bupati Jawa yang kekuasaannya semakin merosot dengan para pejabat Belanda. Bagian ini menjadi masterpiece pemikiran Onghokham tentang sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia, yakni “The Inscrutable and The Paranoid: An Investigation into The Source of The Brotodiningrat Affair.”

Kisah Brotodiningrat menggambarkan upaya sia-sia pemimpin tradisional Jawa untuk menghidupkan kembali kekuasaan tradisional mereka berhadapan dengan mesin birokrasi kolonial yang semakin canggih.

Ong juga tertarik dengan era keruntuhan Hindia Belanda tatkala Jepang menduduki Indonesia. Dalam tulisan Runtuhnya Hindia Belanda, Ong berhasil menggambarkan “kekosongan” dinamika pergerakan antikolonial di Indonesia saat itu.

Ia juga menekankan, Indonesia kehilangan tokoh-tokoh intelektual yang menginspirasi gerakan antikolonial sebelumnya. Pembuangan tokoh-tokoh penting seperti Sukarno, Hatta, dan Syahrir serta hilangnya tokoh-tokoh penting dari Partai Komunis Indonesia (PKI) pada pemberontakan PKI pada 1926 menjadi topik yang dibahas dalam tulisan tersebut.

“Terputusnya hubungan antara intelektual dan massa telah menjadikan periode tersebut sebagai periode yang paling tidak menarik dari segi kedalaman bentuk pergerakan dan kekayaan intelektual yang mengisi dinamiknya,” tulis sejarawan Andy Achdian pada karya Onghokham dan Sejarah Indonesia, dalam "Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan".

Namun, tak hanya bidang intelektualitas saja yang dibahas, kehidupan di luar itu pun tak luput juga. Selain sebagai sejarawan, Ong juga merupakan seorang juru masak. Ilmunya didapat dari pembelajaran di Yale. Sastrawan terkemuka, Goenawan Mohamad (GM), menyebut Ong justru lebih bangga dengan kemampuannya memasak dibanding sebagai sejarawan.

Mungkin, menurut pandangannya, perbedaan antara sejarah dan memasak tak terlalu besar. Kedua ilmu itu mengolah bahan dari detail, dengan metode dan sistem yang kurang lebih ajek, lalu menyajikan hasil dengan sentuhan personal.

Charles Coppel berpandangan lebih dalam dari GM. Sebagai orang yang juga dekat dengan Ong, pengajar sejarah di Melbourne University itu menilai makanan adalah pusat perhatian dari kehidupan Ong, lebih dari sekadar kebutuhan biasa.

Ong, kenang Coppel, senang memasak untuk orang lain. Tatkala Coppel berada dalam rumahnya di Muara Cipinang, dirinya benar-benar menikmati sajian dan pembicaraan bersama Ong.

Ong tak hanya senang memasak untuk orang lain, tetapi juga senang menjalin chemistry dengan makanan. Coppel mengenang sejarawan itu juga suka penasaran dengan status makanan seperti tempe dan gudeg; kenapa orang Madura suka rasa asin; dan kenapa orang Jawa Tengah suka rasa manis.

Atau juga, ia senang mencari tahu kenapa orang Jawa suka menggunakan tangan kalau makan; kenapa orang Cina suka menggunakan sumpit; penyajian makanan tiap negara yang berbeda-beda; atau juga simbolisme dalam makanan.

Tak hanya sejarah dan memasak, Ong juga memiliki perilaku yang unik dalam kesehariannya. Mohammad Iskandar, murid yang dipercaya Ong menjadi asistennya, mengungkap kebiasaannya yang tak biasa, bahkan kontradiktif.

Apa Kabar, Omnibus Law?

Baginya, Ong memang cukup eksentrik. Tatkala Iskandar bertemu dirinya pertama kali pada kelas Ikhtisar Sejarah Eropa di FS UI tahun 70-an, ia menyaksikan keeksentrikan itu.

Para mahasiswa tak segan-segan dilempar penghapus papan tulis jika tak mampu menjawab pertanyaan Ong. Bahkan, kenang Iskandar, Ong juga pernah membuat mahasiswi menangis karena dibilang masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) karena nyogok.

“Kamu bego. Kamu dari SMA mana? Kamu lulus pasti hasil nyogok ya? Kok bego?’ tulis Iskandar pada artikel “Onghokham Guruku, Pembimbingku.”

Tapi yang menarik, dalam pengakuan Iskandar, pemikiran Ong yang menekankan rasionalitas seringkali bertentangan dengan kenyataan.

Iskandar menceritakan, Pak Ong mengatakan kepada mahasiswanya untuk berpikir logis dan kritis, serta tidak percaya pada takhayul. Namun sebaliknya, ia begitu percaya tentang “topeng-topeng penari Reog Ponorogo yang memiliki kekuatan gaib karena telah diisi.”

**

Uraian tentang Ong sebelumnya menjadi cuplikan dari isi buku yang menggambarkan sosok sejarawan tersebut. Dalam buku Onze Ong, masih ada 48 tokoh dari dalam dan luar negeri yang menulis tentang Ong dari berbagai sisi kenangan, dengan menampilkan sudut pandang yang berbeda-beda.

Semua tulisan itu ditujukan untuk mengenang Ong sebagai sosok sejarawan yang telah wafat pada September 2007. Eksistensinya di dunia dihormati oleh banyak pihak, baik para akademisi luar negeri dan dalam negeri, maupun para jurnalis, sastrawan, sahabat, dan murid-muridnya.

Maka, akan lebih menarik jika Anda membaca buku ini sebagai bahan bacaan tatkala Work from Home melanda negeri karena wabah corona. Selamat membaca! (AK)


0 Komentar