Rektor IPB Arif Satria Baru Menyandang Gelar Profesor "Ekologi Politik"

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Rektor IPB University Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi (Foto: Humanika)

JAKARTA, HALUAN.CO - Rektor IPB University Dr. Arif Satria yang sebelumnya masuk dalam rektor termuda di universitas negeri juga termasuk rektor yang belum menyandang profesor. Dalam pemilihan rektor yang dipilih secara mufakat dua tahun lalu, Arif berhasil 'menyisihkan' para senior yang semuanya bergelar profesor.

Setelah menunggu dua tahun akhirnya kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, ini berhak menyandang penghargaan tertinggi di kampus yang telah membesar kariernya selama ini, profesor ekologi politik. Doktor lulusan Kagoshima University, Jepang, Department of Marine Social Science (2006) yang rajin menulis di media massa ini, Sabtu (11/1/2020), dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang ekologi politik.

Pengukuhan dihadiri sejumlah kalangan yang beragam dari menteri, gubernur, kampus, lembaga swadaya masyarakat anggota DPR hingga organisasi kemasyarakatan.

IPB University Kembangkan Minuman Kumis Kucing Gandeng Perusahaan Farmasi

Tampak hadir dalam acara itu di antaranya mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, anggota DPR serta sejumlah kalangan dari organisasi kampus Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga hadir. Anies menjadi bintang dalam acara itu. Setelah selesai pengukuhan Arif Satria, Anies menjadi rebutan untuk berfoto bersama. Anies mengucapkan selamat kepada Arif Satria yang sejak mahasiswa sudah berteman.

"Pertama, saya ingin mengucapkan kepada Profesor Arif. Arif itu adalah sahabat sejak zaman kuliah. Saya ketua senat mahasiswa di (Universitas) Gadjah Mada, Arif ketua senat mahasiswa di IPB. Jadi kita berteman dari masa itu," kata Anies.

Arif lahir di Pekalongan 17 September 1971 dan terpilih menjadi Rektor IPB melewati proses seleksi yang panjang. Dan diputuskan Majelis Wali Amanat IPB secara mufakat. "Ini sejarah karena selama ini penentuan rektor melalui mekanisme voting," kata Arif.

"Ini sekaligus juga amanah yang harus saya pertanggungjawabkan kepada IPB dan juga ke publik," tambahnya.

Arif mengaku semasa kecil tak pernah bersentuhan dengan bidang pertanian. Maklum, mata pencaharian utama masyarakat di sana umumnya perajin, saudagar dan di pesisir sebagai nelayan.

Masuk IPB lewat Jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) sebuah program penjaringan siswa berdasarkan peringkat di kelas yang dikembangkan rektor IPB yang juga ahli statistik, Andi Hakim Nasution.


0 Komentar