Ridwan Kamil: Duka, Diaspora, dan Kritik sebagai Pemimpin Warga

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Gubernur Jabar Ridwan Kamil. (Foto: Instagram)

-

AA

+

Ridwan Kamil: Duka, Diaspora, dan Kritik sebagai Pemimpin Warga

Kisah & Cerita | Jakarta

Sabtu, 18 April 2020 09:04 WIB


Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan, karya pertama Emil sekaligus menjadi karya yang paling emosional, ia persembahkan untuk mendiang sang ayah. Hasilnya, masjid dengan konsep berpuisi dengan alam itu berhasil mendapat penghargaan dunia dan terpilih sebagai 25 masjid terindah di dunia versi Complex Magazine.

SAAT masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tiga caturwulan berturut-turut kalimat-kalimat yang nyaris sama melengkapi rapor Mochamad Ridwan Kamil, sang arsitek yang kini menjadi Gubernur Jawa Barat. “Anak ibu berprestasi tapi nakal” atau “Pintar tapi nakal,”, demikian isinya.

Kenakalan sosok yang biasa dipanggil Emil itu memang masih dalam batas wajar. Menjahili teman, memecahkan kaca kelas, mengintip anak perempuan, dan semacamnya. Namun, sang ibu, Dra. Tjutju Sukaesih, beberapa kali harus berurusan dengan orang lain akibat kenakalan anaknya tersebut.

Cerita Emil nekat kabur begitu turun dari angkot karena tidak ada uang untuk membayar adalah salah satu yang paling berkesan. Saat itu uang belanjanya habis untuk jajan. Namun, ia harus tetap pulang naik angkot karena jarak rumahnya yang agak jauh dengan sekolah. Emil lantas memikirkan sebuah rencana: lari sekencang-kencangnya begitu angkot berhenti.

Rencana itu berhasil dan si sopir hanya mengomel sekenanya. Namun, apes bagi Emil, ternyata si sopir angkot tinggal tak jauh dari rumahnya. Maka ketika kemudian mereka kembali bertemu, Emil dimarahi dan diadukan kepada ibunya.

Kisah Emil lain tentang kemampuan lari kencang itu pernah juga terjadi ketika ia mengambil tanaman genjer milik orang sepulang sekolah. Sebelumnya ia telah yakin tidak akan dikejar oleh sang pemilik kebun yang sudah tua. Dan itu benar. Hanya saja, yang ganti mengejar Emil justru anjing peliharaan sang pemilik.

“Itu adalah lari terkencang seumur hidup,” kenang Emil dalam buku yang ditulisnya, ‘Mengubah Dunia Bareng-bareng’ (2015).

Masih cerita tentang kenakalannya. Saat SMA, Emil pernah iseng mengambil gagang telepon umum untuk hanya sekadar dipajang di kamarnya. Hal yang tentu saja membuat ayahnya, Dr. Atje Misbach, S.H marah dan mencambuknya dengan selang air. Sang ayah, yang berprofesi sebagai dosen hukum di Universitas Padjajaran, jelas muntab karena anaknya justru berbuat melawan hukum.

Pada Mulanya adalah Duka

Setiap orang memiliki masa tersuram dalam hidupnya. Begitu pula Ridwan Kamil. Tahun 1995 menjadi tahun paling berat dalam hidup pria kelahiran 4 Oktober 1971 itu. Cinta pertamanya kandas. Sang pacar meninggalkannya begitu saja karena lebih memilih lelaki yang telah mapan.

Kisah itu terasan kian perih bagi Emil, sebab di saat yang sama ia tengah sibuk mengerjakan tugas akhir dan akan menghadapi ujian skripsi dengan dosen yang galak di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, ayah Emil juga terkena penyakit kelainan darah hingga kritis dan dirawat di ICU Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

Di antara kegalauan dan masa-masa patah hati itu, Emil mencoba menyemangati diri sendiri. Ia menjadi gila kerja, menghabiskan malam di kampus dan begadang sampai pagi. Kegalauan dan kesedihannya kala itu membuatnya tumbuh dan berkembang.

Ketika akhirnya sang ayah pergi selamanya, Emil sudah menyelesaikan tugas akhirnya dengan baik serta meraih nilai A++. Emil mengenang bagaimana dulu sang ayah yang tetap menyemangati dan memberi motivasi saat tahun pertama ia sempat merasa salah masuk jurusan. Dan dari sekian banyak petuah yang pernah diberikan sang ayah, salah satu yang ia ingat betul adalah tentang empat tipe pemuda Indonesia.

Pertama, pemuda pintar tapi tidak peduli. Mereka cerdas, sekolah tinggi, bahkan kuliah di luar negeri. Tapi, mereka lupa pada negerinya, hanya mengejar ambisi sendiri. Kedua, pemuda yang peduli tapi tidak pintar. Mereka peduli pada negeri, tapi berjuang tanpa perhitungan yang cerdik. Ketiga, pemuda yang tidak pintar dan juga tidak peduli. Mereka cuma buat kekacauan. Keempat, pemuda yang pintar juga peduli.

Emil diminta ayahnya untuk menjadi pemuda yang keempat. Memberikan ilmu dan bermanfaat bagi orang banyak. Ditambah pesan ibunya bahwa orang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Emil terus berusaha mewujudkan semua petuah tersebut.

Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan, karya pertama Emil sekaligus menjadi karya yang paling emosional, ia persembahkan untuk mendiang sang ayah. Hasilnya, masjid dengan konsep berpuisi dengan alam itu berhasil mendapat penghargaan dunia dan terpilih sebagai 25 masjid terindah di dunia versi Complex Magazine.

Dari Diaspora jadi Wali Kota

Perjalanan Emil menjadi arsitek kelas dunia dimulai saat dua tahun setelah lulus, ia mendapat kesempatan magang ke sebuah perusahaan di Baltimore, Amerika Serikat. Ia memboyong istrinya, Atalia Praratya yang belum lama dinikahi. Meski pada awalnya bekerja di perusahaan terkenal, tapi kemudian Emil kena pecat karena masalah visa. Ia pun disarankan pihak perusahaan untuk pulang ke Indonesia.

Merasa malu balik ke Indonesia, Emil justru memperpanjang visa dan bertahan untuk mencari pekerjaan baru. Saat itulah ia dan istri yang tengah hamil tua, mengalami masa-masa sulit. Bahkan gaji yang didapat Emil kala itu pun tidak cukup untuk membiayai persalinan. Alhasil, ia nekat memanipulasi nominal gaji agar bisa dikategorikan masyarakat miskin. Hanya dengan cara itu ia mendapatkan fasilitas persalinan gratis buat sang istri.

Berkat fokus, kerja keras dan melakukan yang terbaik, nilai-nilai yang ia dapat selama menjadi diaspora, Emil berhasil melanjutkan S2 ke University of California, Berkeley dengan beasiswa. Ia menempuh Master of Urban Design, College of Environmental Design sembari kerja paruh waktu di Departemen Perencanaan Kota Berkeley.

Setelah lulus, Emil kemudian bekerja di perusahaan konsultan di San Fransisco dan banyak mengerjakan proyek di Beijing dan Timur Tengah. Salah satu karya lainnya yang mendunia adalah Suzhou Financial District, sebuah kompleks perbisnisan di China.

Pada tahun 2003, Emil kembali ke Indonesia dengan masih tetap mengerjakan proyek-proyek di luar negeri. Setahun kemudian, ia mendirikan Urbane, sebuah firma bidang jasa konsultan perencanaan, arsitek, dan desain sambil menjadi dosen tidak tetap di ITB. Urbane didirikan Emil bersama sejumlah rekannya, Achmad D. Tardiyana, Reza Nurtjahja, dan Irvan W. Darwis. Selain mendirikan Urbane, ia juga aktif di Bandung Creative City Forum (BCCF), Bike Sharing, Beberes Bandung, Gerakan Sejuta Biopori, Gerakan Pungut Sampah, dan sebagainya.

Pelajaran hidup lain yang didapat Emil sebagai seorang diaspora adalah pentingnya meninggalkan comfort zone untuk menjadi lebih baik. Berdasarkan hal itulah, Emil meninggalkan zona nyaman yang ia miliki selama ini: kantor dengan 70 karyawan, mengajar di ITB, sampai sederet proyek arsitektur skala dunia.

Berpasangan dengan Oded Muhammad Danial, Emil maju di Pilwakot Bandung 2013.

“Pilihannya mau apatis atau ‘do something’. Sumbangkan tenaga, ilmu, harta atau networking. Saya merasa Bandung itu jelek dan bermasalah, itu bukan takdir, tapi nasib yang bisa diubah. Itu yang jadi motivasi saya,” ujar Emil kala itu.

Dan pasangan itu pun terpilih.

Sepanjang lima tahun masa jabatannya, Emil berusaha total membenahi Bandung. Kinerja birokrasi atau SAKIP Bandung yang sebelumnya ranking 200, berhasil menjadi rangking 1. Emil juga menggunakan keahliannya dalam arsitektur untuk mengubah tata ruang kota tersebut. Hasilnya, Bandung sering menjadi daerah tujuan studi banding bagi kabupaten/kota lain di Indonesia, terutama dalam hal layanan publik, tata ruang kota, serta konsep kota pintar.

Medsos dan Kritik

Emil tak segan mengakui dirinya sebagai generasi medsos. Ia mengelola sendiri akun Twitter, Instagram, dan Facebook pribadinya. Bahkan, Emil juga pernah menulis buku mengenai pengalamannya bermedsos: ‘#Tetot: Menebar Kebahagiaan dengan Media Sosial’.

Dalam bukunya itu, Emil meyakinkan masyarakat bahwa medsos memiliki dua sisi mata uang. Tinggal memilih untuk memanfaatkan sisi buruk atau baiknya. Melalui medsos, Emil menuliskan sejumlah ide dan gagasan tentang Indonesia yang lebih baik: going green, EnerBike, Indonesia Berkebun, urban architecture, dan lainnya.

Mungkin karena aktifitas medsosnya itu, popularitas Emil juga cepat melonjak saat Pilwakot Bandung 2013. Padahal, ia tak memiliki latar birokrasi dan partai politik sama sekali. Setelah menjadi kepala daerah, medsos juga dijadikannya sebagai komunikasi dengan warga serta memangkas jalur birokrasi yang kerap berbelit.

Namun, gara-gara medsos pula, Emil pernah dihujat oleh masyarakat saat sudah menjadi Gubernur Jawa Barat. Pasalnya, ketika sejumlah wilayah di Jawa Barat terdampak banjir cukup parah pada akhir Februari 2020 lalu, terutama Bekasi, Subang dan Karawang, ia malah ketahuan main tiktok bareng artis Cinta Laura dan mantan Duta Besar Indonesia untuk AS, Dino Patti Djalal.

Anggota DPR RI, Fadli Zon, ikut mengkritik Emil sebagai pemimpin yang kurang peka terhadap bencana yang menimpa warganya. Fadli menyebut, Emil lebih memilih meresmikan kafe ketimbang mengurus banjir. Saat itu, Emil memang diketahui tengah meresmikan Jabarano Cafe yang terletak di Kota Melbourne, Australia. Ia pun terpaksa membuat klarifikasi serta membatalkan kunjungan kerjanya ke dua negara.

Oleh beberapa pengamat politik lain, Emil juga dikritik lantaran selalu menyerahkan masalah penanganan banjir ke masing-masing perangkat daerah dan bupati/wali kota. Pola komunikasinya dengan bupati dan wali kota serta DPRD juga dinilai pengamat hukum tidak berjalan baik. Emil, dalam hal ini, dinilai seolah ingin menjadi single fighter dan one man show.

Pakar politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Muradi, misalnya, kepada wartawan juga mengkritik Emil yang beberapa kali “offside” dalam mengambil kebijakan yang seharusnya diambil bupati. Sebagai contoh: pengembangan KEK Pangandaran. Saat merayakan HUT Kota Bandung ke-205, Muradi juga mengkritik Emil sebagai kepala daerah yang masih haus publikasi. Hal itu tercermin dari betapa banyak penghargaan yang didapat sang wali kota, sementara hal dasar kehidupan masyarakat banyak yang belum tersentuh.

Emil sendiri menyatakan siap dikritik asal berdasar fakta yang jelas. Dan kini, di tengah wabah corona di Indonesia, termasuk Jawa Barat dengan lima daerahnya yang memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kepemimpinan Emil, sebagaimana kepala daerah lainnya, tengah diuji.


0 Komentar