Saat Terjadi Bencana, Ini yang Bisa Dilakukan Sekolah
Gedung Kemendikbud Jakarta (Foto: Kemendikbud)

JAKARTA, HALUAN.CO - Saat bencana terjadi, bangunan sekolah selalu tak luput terkena dampak. Termasuk saat banjir Jakarta di awal tahun 2020. Hampir 300 sekolah di wilayah Jakarta yang terdampak bencana banjir. 

Menyikapi situasi yang terjadi, sebenarnya sudah ada acuan apa saja yang bisa dilakukan sekolah dalam mengimplementasikan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Kemendikbud bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga sudah membentuk Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB).

Dilansir dari akun instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI @kemdikbud.ri, Sabtu (4/1/2020), terdapat tiga pilar dalam pendekatan Satuan Pendidikan Aman Bencana. Tiga pilar tersebut adalah fasilitas sekolah aman, manajemen bencana di sekolah dan pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana.

Fasilitas sekolah aman mencakup perawatan gedung, miligasi non struktural dan keselamatan terhadap kebakaran. Manajamen bencana di sekolah mencakup rencana kesiapsiagaan bencana di tingkat keluarga, rencana reunifikasi keluarga dan latihan atau simulasi di sekolah.

Sedangkan pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana mencakup analisis sektor pendidikan, kajian risiko multi bahaya dan kajian serta perencanaan yang berpusat pada anak.

Adapun kegiatan yang bisa dilakukan oleh sekolah dalam rangka implementasi SPAB adalah penempatan lokasi sekolah di wilayah yang bukan rawan bencana, desain dan pembangunan bangunan sekolah yang sesuai dengan aturan dan standar keamanan bangunan, kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan sekolah dan fasilitasnya pasca bencana.

Selain itu, penguatan bangunan sekolah untuk aman dari bahaya bencana, melakukan perawatan sarana dan prasarana pendidikan, penataan ruang kelas agar aman saat ancaman bencana terjadi, pengadaan, fasilitas pendukung seperti adanya perlengkapan tanggap darurat di setiap ruangan seperti alat pemadam kebakaran, kotak pertolongan pertama dan alarm untuk evakuasi. Yang tak kalah penting adalah pengawasan secara berkala mengenai keamanan gedung oleh instansi terkait serta pendidikan mengenai bangunan aman bencana.

Untuk manajeman bencana di sekolah, hal-hal yang bisa dilakukan adalah pembentukan tim penanggulangan bencana di sekolah, penetapan kebijakan SPAB di sekolah, perencanaan kesiapsiagaan menghadapi bencana di sekolah dalam bentuk prosedur tetap dan rencana kontinjensi.

Di samping itu, pengembangan strategi belajar mengajar di masa darurat, penyusunan rencana aksi untuk mendukung SPAB serta penentuan rencana pertemuan kembali antara anak dan orang tua bila terjadi bencana.

Yang terakhir pilar ketiga tentang pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dengan peningkatan kapasitas bagi warga sekolah (kepala sekolah, guru, komite, siswa dan tenaga kependidikan lainnya) dan pengawas sekolah, praktik simulasi evakuasi secara mandiri dan berkelanjutan serta integrasi materi PRB dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan ekskul.

Selain itu, penting juga kampanye rutin mengenai pesan kunci keselamatan yang praktis. Informasi mengenai modul dan pelatihan tanggap bencana lebih lengkap bisa dilihat pada laman spab.kemdikbud.go.id.


Penulis: Melda Riani