Saleh Husin, dari Pulau Rote Taklukan Jakarta
Saleh Husin. (Foto: Tempo)

Saleh Husin adalah seorang pengusaha, profesional, politisi dan pejabat pemerintahan, yang pernah menduduki jabatan Menteri Perindustrian di Kabinet Kerja Jokowi – Jusuf Kalla.

MEMBAWA mimpi dari sebuah pulau indah di ujung selatan Indonesia, yakni Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, seorang laki-laki tamatan SMA yang pernah berjualan kue dan ikan itu, kini lekat dengan jabatan elite dan prestisius. Ia adalah Saleh Husin, seorang pengusaha, profesional, politisi dan pejabat pemerintahan.

Anak Pulau Rote itu pernah menduduki jabatan Menteri Perindustrian di Kabinet Kerja Jokowi – Jusuf Kalla, meski tak sampai akhir periode. Ia juga pernah menjadi anggota DPR RI periode 2009 – 2014. Pada periode berikutnya, Saleh sebenarnya masih terpilih, namun mundur karena diajak bergabung ke kabinet.

Di perusahaan BUMN, Saleh juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) Pembangunan Perumahan Nasional pada Januari 2017. Walau tak sampai tiga minggu menjabat, itu karena ia memilih mundur karena ingin kembali berkiprah di politik dengan menjadi Wakil Ketua Umum Partai Hanura. Di luar itu, belasan jabatan komisaris dan direksi di berbagai perusahaan besar pernah dan sebagian masih dipegangnya. Hingga kini, ia masih menjabat Managing Director di Sinarmas.

Apa yang dicapai Saleh Husin sekarang adalah buah dari kerja kerasnya. Ia telah menjalani apa yang dikatakan pepatah, ‘Bersusah susah dahulu, bersenang-senang kemudian’. Jauh sebelum kesuksesannya saat ini, Saleh Husin pernah bertahun-tahun membantu orang tuanya menjual kue dan ikan di Rote. Ayahnya H. Husin L adalah seorang nelayan dan ibunya Hj. Ma Aket merupakan penjual kue. Ia sendiri merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara, dari keluarga dengan ekonomi serba pas-pasan.

Saat ke Jakarta pertama kali begitu tamat SMA di usia 19 tahun, Saleh Husin hanya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tanpa harus membebankan keluarga.

Karena itu, ia mencoba peruntungan mengikuti tes Akabri. Namun, ternyata gagal pada seleksi akhir karena ada gangguan pada indra penglihatannya. Begitu juga pada tes kedua, Saleh kembali gagal hingga membuatnya sadar bahwa militer bukan jalur hidupnya.

Ia akhirnya mencoba untuk berbisnis dengan modal awal Rp500.000 dari ibunya pada tahun 1986. Saat itu, Saleh mengawali dengan bisnis pembuatan banner sekolah. Beruntung, ia banyak dibantu teman-temannya dalam penjualannya, termasuk di antaranya beberapa teman yang ayahnya pejabat Negara.

Sukses berbisnis diikuti tawaran jabatan di beberapa perusahaan, salah satunya PT. Ades Alfindo Putra Setia, Tbk Jakarta (air minum Ades) di mana ia diminta sebagai komisaris. Di sisi lain, Saleh kembali memikirkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan. Ia pun kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Khrisnadwipayana dan lulus pada 1996, di usianya yang ke 33 tahun.

Tak ada kata terlambat bagi suami dari Andresca itu untuk mendapatkan ilmu. Bahkan, ia melanjutkan pendidikan S2nya di kampus yang sama dengan studi Administrasi Publik, selesai pada 2007. Tak puas dengan lembaga formal, lembaga non formal juga dijajalnya dengan mengikuti English Course di University of Oregon, Eugene, Oregon-USA dan kursus reguler angkatan (KRA) XXXIX Lemhannas. Ia juga belajar public speaking serta mengikuti pendidikan kepribadian di John Robert Power.

Setelah 14 tahun berkicimpung di dunia bisnis, Saleh mantap untuk terjun ke dunia politik. Partai Amanat Nasional (PAN) menjadi kendaraan awal politiknya di tahun 2001. Namun, tujuh tahun kemudian, ia pindah pindah ke Partai Hanura dan langsung maju di Pemilu 2009. Hasilnya, Saleh sukses terpilih pada Pemilu untuk periode 2009 - 2014. Ia juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hanura sejak 2010-2012 dan kemudian dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum DPP Hanura.

Pada tahun 2014, Saleh yang kembali terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) tak menuntaskan tugasnya karena diajak bergabung ke dalam Kabinet Kerja Jokowi – JK sebagai Menteri Perindustrian. Posisinya di DPR RI digantikan oleh rekan satu dapilnya, Ferry Kase.

Jabatan menteri bagi Saleh cukup penting dalam hidupnya. Karena, ia merupakan satu-satunya menteri yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, sudah cukup lama putra NTT tak menduduki jabatan menteri.

Saat menjadi Menperin tersebut, ia banyak fokus ke hilirisasi industri. Karena sebelumnya kebanyakan yang diekspor adalah raw material atau bahan mentah. Saleh berkeinginan agar yang dijual ke luar bukan raw material, melainkan barang-barang yang sudah diolah.

Selama jadi menteri, ia juga membuat lembaga yang dipimpinnya mencetak berbagai penghargaan. Sayangnya, Saleh yang disebut-sebut menjadi korban kongsi partai koalisi, akhirnya kena ‘jegal’ saat reshuffle tahun 2016. Ia digantikan oleh Airlangga Hartarto, politisi dari Partai Golkar. Sementara dari Hanura sendiri, setelah ia keluar, Wiranto masuk kabinet sebagai Menko Polhukam.

Yang menarik, meski di-reshuffle, Saleh Husin tetap hadir pada pelantikan menteri hasil perombakan kedua Kabinet Kerja itu. Ia satu-satunya dari enam menteri yang diganti hadir pada saat pelantikan. Inilah sikap kedewasaan politik Saleh Husin.

Baginya, menjadi hal biasa bila dimutasi dalam jabatan. Ia mengibaratkan dalam sebuah pertandingan bola, pelatih dan manajer berhak memasukkan atau mengeluarkan pemain. Yang penting adalah kemenangan dan kekompakan tim.

“Kita analogikan sebuah tim sepakbola. Oleh pelatih, atau manajer ditempatkan kamu mainnya dimana, dan setiap saat pelatih akan melihat permainan yang kurang baik, mungkin ditarik atau diganti. Ya biasa aja. Yang penting adalah bagaimana kita memenangkan pertarungan. Kita ke negara adalah bagaimana kita bisa maju ke depan bersama-sama,” kata Saleh saat itu.

Saya lebih senang kembali di dunia bisnis dan di pendidikan - Saleh Husin

Ketika kemudian ia dipanggil lagi oleh ke istana, kali ini sebagai Ketua Tim Ahli Wapres, Saleh memastikan dirinya akan memberi masukan terkait masalah ekonomi, khususnya sektor perindustrian. Saleh pun tak memedulikan omongan miring soal adanya kepentingan personal saat menjadi tim ahli di lingkaran istana karena diketahui ia sebagai Managing Director Sinar Mas Group.

Bagaimana mungkin ada konflik kepentingan? Kalau saya bawa kepentingan personal, malah ditertawakan nanti, ujarnya. Apalagi menurutnya, posisinya hanya sebagai pemberi masukan dan pemikiran, bukan eksekutor.

“Mungkin karena lihat saya mantan menteri, jadi sama dengan menteri. Padahal tidak,” katanya tertawa.

Saat berbincang dengan Haluan.co, jauh sebelum Pemilu 2019 dan ditanya tentang kemungkinan terjun lagi ke dunia politik, Ketua Umum Yayasan Muslim Sinar Mas ini, menggeleng. "Saya lebih senang kembali di dunia bisnis dan di pendidikan," ujar Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia itu (Melda Riani/Yayat R Cipasang)