Saling Silang Budaya dari Warung Burjo dan Warteg

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Warteg menjamur di Jakarta, dan Burjo mewarnai geliat mahasiswa di Jogja, keduanya menjadi media interaksi budaya. (Ilustrasi: Haluan.co)

Tanpa disadari, Warteg dan Warung Burjo menjadi ciri khas di luar daerahnya. Dari Tegal ke Jakarta, dan dari Kuningan ke Yogyakarta. Keduanya turut bertanggung jawab atas segala hal menyoal insan di dua kota itu. Baik urusan perut, hingga urusan memori.

JIKA ada ciri khas yang lebih familiar dengan Jakarta selain Monas dan Ancol, tentu jawabannya adalah warteg. Warung Tegal adalah sebuah monumen kehidupan yang erat dengan ibukota. Teman saya yang berasal dari Tegal pernah berkelakar ketika saya tanya,”Selepas lulus kau mau ke mana?”

“Ya ke mana lagi kalau bukan Jakarta, seperti orang Tegal pada umumnya”, jawabnya.

Jakarta dan warteg memang tak bisa dipisahkan. Karena satu sama lain saling menghidupi. Saling mengisi, dan saling menularkan hepatitis budaya.

Beberapa pihak mencatat bahwa keberadaan warteg bermula sejak tahun 1950-an di masa awal berdirinya republik. Hingga sekarang, dimungkinkan ada lebih dari tiga puluh ribuan warteg tersebar di seantero Jakarta. Mulai dari warteg berpenampilan kumuh hingga yang dianggap mewah.

Beberapa warteg legendaris pun bercokol di beberapa tempat. Di bilangan Tebet, Jakarta Selatan misalnya, Warteg Warmo menjadi andalan bagi saya untuk mengisi perut lapar sebab ia buka seharian penuh. Warteg Warmo cukup legendaris, dan tentu harganya lebih mahal dibanding warteg-warteg kelas bulu lain.

Rinda Asytuti dalam tulisannya Pengusaha Warung Tegal di Jakarta menulis bahwa keberadaan warteg yang membawa budaya mBanyumasan ini muncul dari tiga desa di Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal. Tiga desa ialah Sidapurna, Sidakaton, dan Krandon.

Dari ketiga desa itulah kemudian lahir pengusaha-pengusaha warung tegal yang kemudian merintis jalan ke Jakarta. Asytuti juga menuliskan bahwa migrasi masyarakat dari Tegal ke Jakarta sudah mulai marak sejak tahun 1960-an.

Oleh karena itu, komunitas Orang Tegal di ibukota amat kental. Pun dialek mBanyumasan yang mereka bawa menjadi salah satu unsur yang kerap dipakai dalam acara komedi di layar kaca. Ora ngapak, ora kepenak!

Selepas warteg generasi awal itulah kemudian berbagai pengusaha warteg junior datang ke ibukota untuk mengadu nasib. Adanya kesamaan asal dan akar kultural menjadi modal bagi mereka yang hendak membuka usaha di Jakarta. Hal ini kemudian diakomodasi dengan adanya Koperasi Warung Tegal atau Kowarteg. Di mana modal dan pilihan lokasi warung yang akan didirikan dapat didiskusikan secara kekeluargaan.

Proses mewartegkan ibukota ini kemudian membangun popularitas tradisi berbahasa ngapak di ibukota. Tanpa sadar, bahasa Jawa dialek mBanyumasan lantas lebih terkenal di Jakarta. Hal ini tak lain adalah hasil saling interaksi budaya yang lahir dalam beberapa porsi nasi warteg. Dan tentu beberapa obrolan ringan yang tumbuh di warteg-warteg ini.

Sebelumnya, warteg yang amat tenar di Jakarta hingga kerap menjadi latar sinetron atau tayangan visual ini justru tak ditemui di Yogyakarta. Tempat saya berkuliah dahulu. Aneh memang, padahal secara kultural, Tegal dan Jogja memiliki keterikatan akar budaya Jawa. Tapi justru bukan Warteg yang menguasai Jogja, malahan Warung Burjo atau kelak menjelma menjadi Warmindo.

Bahwasanya Hanya Ada Dua Jenis Bakso di Muka Bumi Ini

Warung Burjo atau Warmindo umumnya datang dari kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bisa dipastikan 90 persen penjualnya adalah orang Kuningan. Dan tentu, membawa bahasa Sunda ke Jogja bukanlah hal yang mudah. Sebagaimana namanya, Warung Burjo di awal mula adalah tempat penjual menjajakan Bubur Kacang Ijo. Namun demikian, hal ini kemudian beralih menjadi Warung Makan Indomie atau Warmindo.

Lain dengan Warteg, belum ada jurnal ilmiah yang membahas tentang persebaran Burjo ini pada mulanya. Tapi sama halnya Warteg, beberapa sumber menuliskan bahwa sejatinya Warung Burjo juga muncul pertama kali di tahun 1950-an. Adalah sosok bernama Salim yang disinyalir pertama menjual bubur kacang ijo dengan cara berkeliling dari Kuningan hingga luar kota. Berawal dari menjajakan burjo pikulan itu, kemudian sajian sehat ini dikenal masyarakat luas.

Warung Burjo sendiri dapat dikatakan membumi di Jogja pada era 90-an dan makin ramai tahu 2000-an. Di mana kala itu warna kuning memang mendominasi warung dengan sajian khas bubur kacang ijo ini. Sama halnya warna biru yang mulanya khas dengan warteg di Jakarta. Mulanya, warung burjo berbentuk laiknya kedai dengan penjual berada di tengah meja berbentuk “U”.

Penataan ini memudahkan penjual burjo dalam melayani konsumen yang duduk mengelilingi dapurnya. Namun lambat laun, komitmen penjual burjo ini bergeser ke arah menyajikan aneka masakan, dengan sajian utama olahan mi instan.

Warung Burjo yang masih taklid dengan sajian bubur kacang ijo sendiri tinggal beberapa gelintir di antara seribu lebih warung burjo di Jogja. Salah satu yang legendaris adalah Burjo Murni, tak jauh dari flyover Lempuyangan, Kota Jogja. Burjo Murni hingga sekarang tidak menyediakan nasi telur atau aneka sayur seperti burjo-burjo lain. Tapi tetap dengan tambahan mi instan sebagai komplemen bubur kacang ijo.

Warung Burjo dengan penjual yang berbahasa Sunda juga menularkan interaksi budaya. Dari merekalah kemudian saya berlajar sedikit soal bahasa Sunda yang cukup membingungkan karena terdapat beberapa kata mirip bahasa Jawa tapi artinya berbeda. Meski sekadar belajar berhitung atau bertanya sabaraha’ sudah cukup untuk membangun keakraban dengan para aa’-aa’ Burjo nan budiman.

Bahkan, saat masih mahasiswa dahulu, masa libur lebaran menjadi bencana ketika burjo-burjo pada tutup sedangkan beberapa dari kami masih bergelut dengan penelitian atau tugas laboratorium di kampus. Alhasil, tak ada satu pun warung burjo buka di libur lebaran. Bahkan, pemerintah provinsi kerap mengadakan mudik bareng para kompatriot Warung Burjo dari Jogja ke Kuningan.

Saat iring-iringan bus berisi para aa’ Burjo itu pergi meninggalkan Jogja, maka di situlah hati mahasiswa gundah gulana. Sebab, tanpa adanya Burjo, rasa-rasanya perut lapar tengah malam tak akan mendapat katarsisnya. Burjo yang buka 24 jam pun dirindukan di masa-masa itu.

Seperti halnya Warteg menjadi ciri khas Jakarta, Warung Burjo juga menjadi ciri khas Jogja selain Malioboro dan Tugu Jogja - Algonz Dimas Bintarta Raharja

Padatnya warung burjo di sekitaran kampus-kampus menjadi salah satu hal yang mengusik kerinduan. Melebihi kerinduan mantan mahasiswa Jogja pada Malioboro.

Sebab, saya berani bertaruh bahwa lebih sering mahasiswa pergi melepas gundah ke warung burjo daripada meretas gulana di jalanan Malioboro. Burjo adalah tempat di mana kami belajar bahasa Sunda, mendengar lagu-lagu playlist Aa’ burjo, makan dengan pacar di akhir bulan, hingga sekadar mengutang rokok ketengan.

Tanpa disadari, Warteg dan Warung Burjo menjadi ciri khas di luar daerahnya. Dari Tegal ke Jakarta, dan dari Kuningan ke Yogyakarta. Keduanya turut bertanggung jawab atas segala hal menyoal insan di dua kota itu. Baik urusan perut, hingga urusan memori. Pun yang terpenting adalah soal adanya saling silang budaya di antara para penjual dengan konsumennya.

Mungkin kalau tak pernah berinteraksi dengan Aa’ Burjo, saya bakal kebingungan ketika mengetahui bahwa gedhang yang berarti pisang dalam bahasa Jawa justru berarti pepaya dalam bahasa Sunda. Atau kata amis yang berarti anyir seperti bau ikan dalam bahasa Jawa, tapi dalam bahasa Sunda berarti manis.

Dan tentu lewat pedagang warteg yang kerap saya jumpai dari Grogol hingga Tebet, saya belajar bahwa memang dialek mBanyumasan pun susah dipahami, meski sama-sama berakar dari bahasa Jawa. Setidaknya, dari situ saya bisa tahu bahwa keragaman Indonesia ini amat unik. Betapa bersyukurnya kita yang hidup dalam saling silang budaya seperti ini.


0 Komentar