Sejarah Hari Ini, Akhir Perjuangan Soe Hok Gie di Puncak Mahameru
Aktivis Soe Hok Gie (FOTO: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - "Seorang filsuf Yunani pernah menulis, nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."

Demikian Soe Hok Gie menulis dalam buku hariannya. Buku harian itu kemudian diterbitkan pada tahun 1983 dengan judul "Catatan Seorang Demonstran" yang berisi opini dan pengalamannya terhadap aksi demokrasi.

Soe Hok Gie adalah seorang aktivis Indonesia Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962-1969.

Soe Hok Gie turut serta dalam pergerakan tahun 1965 bersama rekan-rekannya di Fakultas Sastra UI. Ketika Soekarno pada akhirnya lengser, Gie tidak berhenti. Ia memilih tetap kritis pada pemerintahan Orde Baru Soeharto.

Tepat 16 Desember 50 tahun silam, Soe Hok Gie menghembuskan nafas terakhirnya di puncak Gunung Semeru atau dikenal dengan sebutan Mahameru.

Soe Hok Gie lahir di Jakarta, 17 Desember 1942 dan meninggal pada 16 Desember 1969 saat melakukan pendakian di Mahameru itu.

Selama menjadi mahasiswa Fakultas Sastra UI, seperti dilansir dari berbagai sumber, Gie menjadi aktivis yang kerap memprotes Presiden Soekarno dan PKI. Ia juga merupakan seorang penulis yang sangat produktif.

Berbagai artikel Gie banyak dipublikasikan di koran-koran nasional seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya.

Catatan-catatan Gie juga tersimpan rapi di buku hariannya. Buku harian itu yang kemudian menjadi inspirasi untuk film pada tahun 2005, berjudul Gie, yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie.

Soe Hok Gie juga merupakan subjek dari sebuah buku di tahun 1997, yang ditulis oleh Dr John Maxwell yang berjudul Soe Hok Gie: Diary of a Young Indonesian Intellectual. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2001 dengan judul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Setelah Riri Riza merilis film berjudul Gie pada 2005, artikel-artikelnya kemudian disusun oleh Stanley dan Aris Santoso dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan oleh penerbit GagasMedia.

Selain sebagai aktivis yang vokal terhadap pemerintahan, Gie jug sangat mencintai lingkungan dan alam. Karena kecintaan itulah, Gie kemudian pada 1965 membantu mendirikan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI, organisasi lingkungan di kalangan mahasiswa.

Bersama kawan-kawannya di Mapala, Gie menikmati kegiatan mendaki gunung hingga meninggal karena menghirup gas beracun di Gunung Semeru. Gie meninggal tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 27.

Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis dan dimakamkan di tempat yang sekarang menjadi Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.

Meski sudah 50 tahun berlalu, nama Soe Hok Gie masih terus membekas di kalangan pemuda Indonesia, khususnya mahasiswa. Ia telah menjadi simbol pemuda idealis dan simbol perjuangan dalam menentang tirani dan segala ketidakadilan.

"Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah," kata Soe Hok Gie dalam salah satu tulisannya di buku harian.


0 Komentar